Arifin Noer, Batang Sinuruik, dek Angek Hati

Talu[rangtalu.net] “Kelok bakelok…, Batang Sinuruik,,, Ayienyo janiah.., ikannyo jinak…..”, demikian baris-baris awal lagu Batang Sinuruik. Siapa orang Talu (Talamau) yg tidak tahu dengan lagu Batang Sinuruik ? Dapat dipastikan hampir seluruh masyarakat Talamau mengenal lagu ini, yang sering kali mengiringi “lagu wajib” orang Talu (Talamau) dalam setiap ada acara resepsi, yaitu lagu Rang Talu. Bukan hanya masyarakat asli Talu atau yg lahir dan besar di Talu, Batang Sinuruik juga populer dikalangan perantau Talu (Talamau) dimanapun serta daerah lain di luar Kab. Pasaman Barat. Batang Sinuruik memang pernah beredar melalui pita kaset, cassette di daerah Minang.

Ironisnya, dibalik keindahan syair dan syahdunya alunan melodi Batang Dinuruik, banyak yg tidak tahu saiap pencipta lagu tsb. Bahkan ketika orang-orang menyanyikannya di atas panggung, tidak peduli dari mana datangnya dan dari siapa Batang Sinuruik ia kenal sebelumnya. Yang mereka sadari hanyalah bahwa Batang Sinuruik adalah lagu yg sangat indah, penuh penghayatan dan mewakilkan semangat kedaerahan yg sangat kuat. “Siapa penciptanya ?”, kebanyakan diantaranya, apalagi kaum muda, menjawab seadanya, “Wallahu Alam…”.

Beruntung [rangtalu.net] pada suatu waktu berkesempatan bertamu ke rumah Bp Arifin Noer di Jl Bangkok, Talu. Rumah yg sangat sederhana, tak ada tanda-tanda pandangan materi apalagi kemewahan. Seluruh sisi dan sendi-sendi rumah itu menggambarkan kesederhanaan penghuninya. Namun jika diperhatikan perlahan-lahan dibalik kesederhanaan itu mengalir energi seni yg luar biasa. Di sebuah ruangan tamu (yang tersambung dengan ruangan keluarga) terdapat 1 set sice rotan rangka kayu. Disalah satu dinding (yg bagian dalamnya pastilah kamar tidur), terletak sebuah keyboard (mungkin Yamaha) dan di atasnya tergantung sebuah biola yg susah ditebak usianya. Dibagian bawah sebelah kanannya tergeletak sebuah accordion usang, alat musik yg sangat populer dizamannya. Di sisi berseberangan dengan keyboard, terpampang sebuah lukisan alam berbingkai kayu secara vertikal (l.k tinggi 1.5 mt). Dinding ruang keluarga yg mengarah ke ruang tamu juga dihiasi sebuah lukisan lain yg l.k berukuran sama, tapi formatnya horizontal. Lukisan lain (lebih kecil) juga tergantung di sisi kiri jika berdiri menghadap ke arah ruang tamu. Semua lukisan tsb bertema pemandangan alam dan siapapun yg memperhatikan fisik dan bahan yg digunakan, baik dasar lukisan maupun bingkainya, pastilah men
duga bahwa semuanya adalah hasil karya tangan penghuninya sendiri. Ya, lukisan2 itu adalah hasil karya goresan kuas dari tangan Pak Ipin, yg juga menciptakan lagu Batang Sinuruik di tahun 60-an.

Berbincang-bincang dengan pak Ipin (panggilan akrab pak Arifin) yg piawai memainkan beberapa alat musik ini, sungguh menyenangkan. Memperhatikan cara ia bercerita diiringi raut mukanya yg berubah-ubah, terkesan seolah-olah semua masa lalu masih segar dalam ingatannya. Waktu itu di awal thn 60-an, hasil buah karya dari kerjasama Syofian Arifin & Syofian Effendi, terciptalah lagu Rang Talu. Dalam waktu singkat lagu Rang Talu pun populer di daerah Pasaman bahkan di luar Pasaman. Maka pak Ipin, dalam hatinya, timbul pula keinginan untuk menciptakan lagu tentang Sinuruik. Tepatnya dek angek hati (semacam iri namun mendorong untuk berbuat positif).

“Awak kan urang Bangkok, masuak Nagari Sinuruik. Jadi angek pulo hati, omuah teh Talu (s)ajo, Sinuruik lai pulo teh andak’e nyoh,” demikian pak Ipin mengingat kembali dorongan semangat masa lalunya terhadap lahirnya lagu Batang Sinuruik, dengan logat Talunya yg kental. Padahal katanya kemudian, kata “Talu” dalam lagu Yoo, Rang Talu bukanlah berarti nagari, tetapi yg dimaksud adalah Talu secara keseluruhan selaku ibu Kec. Talamau. “Tapi namoe jiwa mudo katiko itu, “bingik” (angek hati) cako totap bapaturuikkan,” lanjutnya sambil tertawa kecil berderai ketika mengucapkan kata “bingik” tadi.

Alkisah di Tapian Mandi

Ketika itu (awal-awal tahun 60), Arifin muda masih duduk dibangku sekolah tingkat SLTA, yaitu Sekolah Sadar Bhakti, sedang berteman dekat dengan seorang anak gadis (asal Kajai) yg tinggal di belakang pasar Talu. Seperti diketahui, di belakang pasar itu juga mengalir sungai (batang aie) yaitu Batang Sinuruik. Di salah satu sisi sungai tsb terdapat tapian (tepian) tempat orang-orang sekitar biasanya mencuci dan mandi. Dapat diduga kisah selanjutnya bahwa di tepian inilah sering terjadi pertemuan-pertemuan Arifin muda dengan teman dekatnya si urang Kajai, yg dipanggilnya si As. Sembari pak Ipin memutar memorinya,”…..hm ambo tau mbo tu. Wa’e urang Kojai, namo’e Yuri Asma, he.he”, sahut Bu’ Hasina (istri tercinta) sambil tertawa kecil dengan logat khas Sei. Aur nya. Hm, lucu juga rasanya hadir diantara orang-orang tua yg sedang bermemori masa remajanya. “Aa, iyo. namo’e Yuri Asma. Terkahir yg ambo tau wa’e jadi Bidan di RS Dr. Karyadi, Semarang,” lanjut pak Ipin setelah semuanya kembali segar dalam ingatannya.

Kisah “muda” nya ini pun memberi inspirasi tertulisnya bagian syair termasuk judul lagu Batang Sinuruik. “Hafal kan syairnya ? “, pak Ipin bertanya dengan intonasi yg tak meminta jawaban. Tanpa diminta, ia pun langsung bersenandung kecil,”…tapian mandi….. yo sanak, kito nan…..lamo”. Raut mukanya tetap tersenyum, namun rona matanya yg ikut bernyanyi tak dapat menyembunyikan bahwa ia sedang melihat kisah doeloe itu sedang diputar kembali dan menari-nari di depan pelupuk matanya. Kemudian air mukanya berubah seolah menyiratkan kebanggaan seorang lelaki remaja ketika mengalunkan potongan syairnya yg lain, “… kaia lah lakek…, ikan manuruik….”. Sekedar untuk memecah suasana agar kembali ke situasi bincang-bincang, [rangtalu.net] pun melanjutkan bait tsb,”…jauah di mato….takana, Batang Sinuruik.., tapian mandi yo sanak… kito nan lamo”.

Demikian lah pak Arifin Noor, yg dengan sepenuh hati hanya untuk berkarya sebagai salah satu kontribusinya terhadap kampung halaman, dengan mengabadikan Batang Sinuruik dalam sebuah lagu yg sampai hari ini (dan seterusnya) tetap populer dan melekat di hati semua orang Sinuruik, Rang Talu,…Talamau.

Kelok ba kelok …,Batang Sinuruik…, aie nyo janiah ikannyo jinak…..”, di akhir obrolan, pak Ipin pun menggesek biolanya untuk sebuah Batang Sinuruik. [makuncu].

Tunggu artikel berikutnya; Arifin Noer : “Maratok Talu manangih Sinuruik…”.

Reply