Membaca artikel kanda Dasriel yg bertajuk PELUANG USAHA DAN KEBUTUHAN MODAL, perkenankan kami coba menanggapi sebahagian saja. Inysa Allah ada manfaat. Bahasannya menarik sekali dan saya coba merespon langsung pada wacana bantuan (atau pinjaman) modal usaha bagi dunsanak di kampung halaman, dalam hal ini Kec. Talamau (Talu – Sinurut – Kajai). Sebut saja sementara ini sebagai Program Pemberdayaan Masyarakat.
Setuju dengan apa yg disampaikan Kanda Dasril pada bagian akhir tulisannya, khususnya tentang kata selektif & ketentuan. Kami jadi tertarik untuk membahas lebih lanjut hal-hal yg berhubungan dengan kedua kata tsb. dalam kaitan dengan adanya wacana utama yaitu menyalurkan bantuan/pinjaman modal usaha bagi masyarakat Talamau.
Tertarik dengan wacana yang disampaikan oleh dunsanak kita Wen Tuak Bosa pada topik Re:Bahaso Tolu Day’s 3/4/08 di milis YRT terkait dengan peluang serta keinginan Batanam Lado – masyarakat kita di Talu namun terkendala Modal. Sebagaimana kita ketahui saat ini harga lado (cabe) dipasaran berada pada kisaran Rp. 20.000 / Kg dan cendrung mengalami kenaikan setiap minggunya..
…..”Wacana untuk memberi bantuan modal kepada masyarakat petani kita di Kampung tentunya memerlukan kehati-hatian dengan pertimbangan prospek dan untung ruginya”.
Komuditas pertanian yang pangsa pasarnya bersifat lokal (bukan eksport) dan merupakan kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti halnya cabe, bawang dan jenis sayuran lainnya tingkat harganya (nilai jual) selalu fluktuatif atau tidak stabil, lain halnya dengan komuditas eksport seperti jagung, nilam, sawit dll.
Melanjutkan dan mengulas beberapa tanggapan dari dunsanak sado’e terkait “Koma ka Batenggang” di Milis YRT : sangatlah tepat apa yang dikemukakan oleh dunsanak kito Reswandri (Wen tuak Bosa) bahwa untuk mengurangi beban kesulitan ekonomi serta kondisi sosial saudara-saudara kita yang ada di Talu akibat terjadinya gagal panen (sawah dimakan moncik) serta kondisi alam yang tidak mendukung, solusinya adalah …… urang rantau jadi tumpuan harapan”