Skip to content
Anda Ada di Sini: Home arrow Palanta Rohani arrow Nabi Ibrahim dan Ismail di Mekkah
Nabi Ibrahim dan Ismail di Mekkah PDF E-mail
 
Written by Bustamam Ismail, on 20-11-2009 11:35
Views 203    

  Letak Mekah - Ibrahim dan Ismail - Kisah penyembelihan

   dan penebusan - Zamzam - Perkawinan Ismail dengan

   Jurhum - Pembangunan Ka'bah - Mekah di bawah Jurhum -

   Qushay dan anak-anaknya - Mekah di tangan Qushay -

   Hasyim dan Abdul Muttalib - Tugas-tugas duniawi dan

   agama di Mekah - Berhaji ke Mekah - Kisah Abraha dan

   gajah - Abdullah bin Abdul Muttalib - Kisah

   penebusannya.

 

DI TENGAH-TENGAH jalan kafilah  yang  berhadapan  dengan  Laut

Merah  -  antara  Yaman dan Palestina - membentang bukit-bukit

barisan sejauh kira-kira delapanpuluh kilometer  dari  pantai.

Bukit-bukit  ini  mengelilingi sebuah lembah yang tidak begitu

luas, yang hampir-hampir terkepung samasekali oleh bukit-bukit

itu  kalau  tidak  dibuka  oleh tiga buah jalan: pertama jalan

menuju  ke  Yaman,  yang  kedua  jalan  dekat  Laut  Merah  di

pelabuhan Jedah, yang ketiga jalan yang menuju ke Palestina.

 

Dalam  lembah  yang terkepung oleh bukit-bukit itulah terletak

Mekah. Untuk mengetahui sejarah dibangunnya kota  ini  sungguh

sukar  sekali. Mungkin sekali ia bertolak ke masa ribuan tahun

yang lalu. Yang pasti, lembah  itu  digunakan  sebagai  tempat

perhentian  kafilah  sambil beristirahat, karena di tempat itu

terdapat sumber mata air. Dengan demikian  rornbongan  kafilah

itu  membentangkan  kemah-kemah  mereka, baik yang datang dari

jurusan Yaman menuju Palestina atau yang datang dari Palestina

menuju  Yaman.  Mungkin  sekali  Ismail anak Ibrahim itu orang

pertama  yang  menjadikannya  sebagai  tempat  tinggal,   yang

sebelum  itu  hanya  dijadikan  tempat  kafilah  lalu saja dan

tempat perdagangan secara  tukar-menukar  antara  yang  datang

dari  arah  selatan  jazirah  dengan  yang  bertolak dari arah

utara.

 

Kalau  Ismail  adalah  orang  pertama  yang  menjadikan  Mekah

sebagai  tempat  tinggal,  maka sejarah tempat ini sebelum itu

gelap sekali. Mungkin dapat juga dikatakan, bahwa  daerah  ini

dipakai  tempat  ibadat juga sebelum Ismail datang dan menetap

di tempat itu. Kisah  kedatangannya  ketempat  itupun  memaksa

kita membawa kisah Ibrahim a.s. secara ringkas.

 

Ibrahim  dilahirkan di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang

kayu pembuat patung. Patung-patung itu kemudian dijual  kepada

masyarakatnya sendiri, lalu disembah. Sesudah ia remaja betapa

ia melihat patung-patung yang dibuat oleh ayahnya itu kemudian

disembah  oleh  masyarakat  dan  betapa pula mereka memberikan

rasa  hormat  dan  kudus  kepada  sekeping  kayu  yang  pernah

dikerjakan  ayahnya itu. Rasa syak mulai timbul dalam hatinya.

Kepada ayahnya ia pernah bertanya, bagaimana  hasil  kerajinan

tangannya itu sampai disembah orang?

 

Kemudian  Ibrahim  menceritakan  hal  itu  kepada  orang lain.

Ayahnyapun  sangat  memperhatikan  tingkah-laku  anaknya  itu;

karena  ia  kuatir hal ini akan rnenghancurkan perdagangannya.

Ibrahim sendiri orang yang percaya kepada akal pikirannya.  Ia

ingin    membuktikan    kebenaran   pendapatnya   itu   dengan

alasan-alasan yang dapat  diterima.  Ia  mengambil  kesempatan

ketika  orang  sedang  lengah. Ia pergi menghampiri sang dewa,

dan berhala  itu  dihancurkan,  kecuali  berhala  yang  paling

besar. Setelah diketahui orang, mereka berkata kepadanya:

 

"Engkaukah  yang  melakukan  itu  terhadap dewa-dewa kami, hai

Ibrahim?" Dia menjawab: "Tidak. Itu dilakukan oleh yang paling

besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka, kalau memang

mereka bisa bicara." (Qur'an, 21: 62-63)

 

Ibrahim melakukan itu sesudah ia  memikirkan  betapa  sesatnya

mereka  menyembah  berhala,  sebaliknya  siapa yang seharusnya

mereka sembah.

 

"Bila  malam  sudah  gelap,  dilihatnya  sebuah  bintang.   Ia

berkata:  Inilah Tuhanku. Tetapi bilamana bintang itu kemudian

terbenam, iapun  berkata:  'Aku  tidak  menyukai  segala  yang

terbenam.' Dan setelah dilihatnya bulan terbit, iapun berkata:

'Inilah Tuhanku.' Tetapi bilamana bulan itu kemudian terbenam,

iapun  berkata:  'Kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku,

pastilah aku akan jadi sesat.' Dan setelah dilihatnya matahari

terbit,  iapun  berkata:  'Ini Tuhanku. Ini yang lebih besar.'

Tetapi bilamana matahari itu  juga  kemudian  terbenam,  iapun

berkata:  'Oh  kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu

persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku  hanya  kepada  yang

telah  menciptakan  semesta  langit  dan  bumi  ini. Aku tidak

termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan." (Qur'an 6: 76-79)

 

Ibrahim  tidak  berhasil  mengajak  masyarakatnya  itu.  Malah

sebagai  balasan  ia  dicampakkan  ke  dalam api. Tetapi Tuhan

masih menyelamatkannya. Ia lari ke Palestina bersama isterinya

Sarah.  Dari  Palestina mereka meneruskan perjalanan ke Mesir.

Pada waktu itu Mesir di  bawah  kekuasaan  raja-raja  Amalekit

(Hyksos).

 

Sarah  adalah  seorang wanita cantik. Pada waktu itu raja-raja

Hyksos   biasa   mengambil   wanita-wanita    bersuami    yang

cantik-cantik.  Ibrahim  memperlihatkan,  seolah  Sarah adalah

saudaranya. Ia takut dibunuh  dan  Sarah  akan  diperisterikan

raja.  Dan  raja  memang  bermaksud  akan  memperisterikannya.

Tetapi  dalam  tidurnya  ia  bermimpi  bahwa  Sarah  bersuami.

Kemudian  dikembalikan  kepada  Ibrahim  sambil  dimarahi.  Ia

diberi beberapa  hadiah  di  antaranya  seorang  gadis  belian

bernama  Hajar-  Olelm  karena  Sarah  sesudah  bertahun-tahun

dengan Ibrahim belum juga beroleh keturunan, maka  oleh  Sarah

disuruhnya  ia  bergaul dengan Hajar, yang tidak lama kemudian

telah  beroleh  anak,  yaitu  Ismail.  Sesudah  Ismail   besar

kemudian Sarahpun beroleh keturunan, yaitu Ishaq.

 

Beberapa ahli berselisih pendapat tentang penyembelihan Ismail

serta kurban yang telah dipersembahkan  oleh  Ibrahim.  Adakah

sebelum kelahiran Ishaq atau sesudahnya? Adakah itu terjadi di

Palestina atau di Hijaz? Ahli-ahli sejarah Yahudi berpendapat,

bahwa  yang  disembelih itu adalah Ishaq, bukan Ismail. Disini

kita bukan akan  menguji  adanya  perselisihan  pendapat  itu.

Dalam   Qishash'l-Anbia'   Syaikh   Abd'l   Wahhab   an-Najjar

berpendapat,  bahwa  yang  disembelih   itu   adalah   Ismail.

Argumentasi  ini  diambilnya  dari  Taurat  sendiri bahwa yang

disembelih itu dilukiskan sebagai anak  Ibrahim  satu-satunya.

Pada  waktu  itu Ismail adalah anak satu-satunya sebelum Ishaq

dilahirkan. Setelah Sarah melahirkan, maka anak Ibrahim  tidak

lagi  tunggal,  melainkan  sudah  ada Ismail dan Ishaq. Dengan

mengambil  cerita  itu  seharusnya  kisah  penyembelihan   dan

penebusan  itu  terjadi  di  Palestina.  Hal  ini  memang bisa

terjadi demikian kalau yang dimaksudkan itu  terjadi  terhadap

diri  Ishaq.  Selama  itu Ishaq dengan ibunya hanya tinggal di

Palestina, tidak pernah pergi ke  Hijaz.  Akan  tetapi  cerita

yang  mengatakan bahwa penyembelihan dan penebusan itu terjadi

diatas bukit  Mina,  maka  ini  tentu  berlaku  terhadap  diri

Ismail.  Oleh  karena  di  dalam  Qur'an tidak disebutkan nama

person  korban  itu,  maka  ahli-ahli  sejarah  kaum  Muslimin

berlain-lainan pendapat.

 

Tentang  pengorbanan  dan  penebusan  itu kisahnya ialah bahwa

Ibrahim bermimpi,  bahwasanya  Tuhan  memerintahkan  kepadanya

supaya   anaknya  itu  dipersembahkan  sebagai  kurban  dengan

menyembelihnya.  Pada  suatu  pagi  berangkatlah   ia   dengan

anaknya. "Bila ia sudah mencapai usia cukup untuk berusaha, ia

(Ibrahim) berkata: 'O anakku, dalam tidur aku bermimpi,  bahwa

aku  menyembelihmu.  Lihatlah,  bagaimanakah  pendapatmu?'  Ia

menjawab: 'Wahai ayahku.  Lakukanlah  apa  yang  diperintahkan

kepadamu.  Jika  dikehendaki  Tuhan,  akan kaudapati aku dalam

kesabaran.'   Setelah   keduanya    menyerahkan    diri    dan

dibaringkannya  ke  sebelah  keningnya,  ia Kami panggil: 'Hai

Ibrahim. Engkau telah melaksanakan mimpi itu.' Dengan  begitu,

Kami  memberikan  balasan kepada mereka yang berbuat kebaikan.

Ini adalah suatu ujian yang nyata. Dan kami menebusnya  dengan

sebuah kurban besar." (Qur'an, 37: 103-107)

 

Beberapa  cerita  melukiskan kisah ini dalam bentuk puisi yang

indah sekali, sehingga disini perlu kita kemukakan,  sekalipun

tidak  membawa  kisah tentang Mekah. Kisahnya, setelah Ibrahim

bermimpi dalam tidurnya bahwa ia harus menyembelih anaknya dan

memastikan  bahwa itu adalah perintah Tuhan, ia berkata kepada

anaknya itu: 'Anakku, bawalah tali dan parang itu,  mari  kita

pergi  ke bukit mencari kayu untuk keluarga kita.' Anak itupun

menurut perintah ayahnya. Ketika itu datang setan dalam bentuk

seorang  laki-laki,  mendatangi  ibu  anak itu seraya berkata:

'Tahukah engkau ke mana Ibrahim  membawa  anakmu?'  'Ia  pergi

mencari  kayu  dari  lereng bukit itu,' jawab ibunya. 'Tidak,'

kata setan lagi,  'ia  pergi  akan  menyembelihnya.'  Ibu  itu

menjawab  lagi:  'Tidak.  Ia lebih sayang kepada anaknya.' 'Ia

mendakwakan bahwa Tuhan yang memerintahkan itu.'

 

'Kalau  itu  memang  perintah  Tuhan   biarkan   dia   menaati

perintahNya,'  jawab  ibu  itu.  Setan  itu  lalu pergi dengan

perasaan kecewa. Ia segera menyusul anak yang sedang mengikuti

ayahnya  itu.  Kepada  anak itupun ia berkata seperti terhadap

ibunya tadi. Tapi jawabannyapun  sama  dengan  jawaban  ibunya

juga.  Kemudian setan mendatangi Ibrahim dan mengatakan, bahwa

mimpinya itu hanya tipu-muslihat setan supaya  ia  menyembelih

anaknya  dan  akhirnya  akan  menyesal. Tetapi oleh Ibrahim ia

ditinggalkan dan dilaknatnya. Dengan rasa  jengkel  Iblis  itu

mundur  teratur,  karena  maksudnya  tidak berhasil, baik dari

Ibrahim, dari isterinya atau dari anaknya.

 

Kemudian  itu  Ibrahim  menyatakan  kepada   anaknya   tentang

mimpinya itu dan minta pendapatnya. 'Ayah, lakukanlah apa yang

diperintahkan.' Lalu katanya lagi dalam  ballada  itu:  'Ayah,

kalau  ayah  akan  menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya

darahku nanti tidak kena ayah dan  akan  mengurangi  pahalaku.

Aku tidak menjamin bahwa aku takkan gelisah bila dilaksanakan.

Tajamkanlah parang itu supaya dapat sekaligus memotongku. Bila

ayah  sudah  merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku

dan jangan dimiringkan. Aku kuatir  bila  ayah  kelak  melihat

wajahku ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud

ayah melaksanakan perintah Tuhan itu. Kalau  ayah  berpendapat

akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan

baginya, lakukanlah, ayah.'

 

'Anakku,'  kata  Ibrahim,  'ini  adalah  bantuan  besar  dalam

melaksanakan perintah Allah.'

 

Kemudian ia siap melaksanakan. Diikatnya kuat-kuat tangan anak

itu  lalu  dibaringkan  keningnya  untuk  disembelih.   Tetapi

kemudian ia dipanggil: 'Hai Ibrahim! Engkau telah melaksanakan

mimpi itu.' Anak itu kemudian ditebusnya dengan  seekor  domba

besar   yang   terdapat  tidak  jauh  dari  tempat  itu.  Lalu

disembelihnya dan dibakarnya.

 

Demikianlah kisah penyembelihan dan penebusan itu. Ini  adalah

kisah penyerahan secara keseluruhan kepada kehendak Allah.

 

Ishaq  telah menjadi besar disamping Ismail. Kasih-sayang ayah

sama  terhadap  keduanya.  Akan  tetapi  Sarah  menjadi  gusar

melihat  anaknya  itu dipersamakan dengan anak Hajar dayangnya

itu. Ia bersumpah tidak akan tinggal bersama-sama dengan Hajar

dan  anaknya  tatkala  dilihatnya  Ismail memukul adiknya itu.

Ibrahim merasa  bahwa  hidupnya  takkan  bahagia  kalau  kedua

wanita itu tinggal dalam satu tempat. Oleh karena itu pergilah

ia dengan Hajar dan anak itu menuju ke  arah  selatan.  Mereka

sampai  ke  suatu  lembah,  letak Mekah yang sekarang. Seperti

kita sebutkan di atas, lembah ini adalah tempat  para  kafilah

membentangkan  kemahnya  pada  waktu  mereka berpapasan dengan

kafilah dari Syam ke Yaman, atau dari Yaman  ke  Syam.  Tetapi

pada  waktu  itu adalah saat yang paling sepi sepanjang tahun.

Ismail   dan   ibunya   oleh    Ibrahim    ditinggalkan    dan

ditinggalkannya pula segala keperluannya. Hajar membuat sebuah

gubuk  tempat  ia  berteduh  dengan  anaknya.  Dan  Ibrahimpun

kembali ke tempat semula.

 

Sesudah  kehabisan  air dan perbekalan, Hajar melihat ke kanan

kiri. Ia tidak melihat sesuatu. Ia terus berlari dan turun  ke

lembah  mencari  air.  Dalam berlari-lari itu - menurut cerita

orang - antara Shafa dan Marwa, sampai lengkap tujuh kali,  ia

kembali  kepada  anaknya  dengan  membawa  perasaan putus asa.

Tetapi ketika itu dilihatnya  anaknya  sedang  mengorek-ngorek

tanah  dengan  kaki, yang kemudian dari dalam tanah itu keluar

air. Dia dan Ismail dapat melepaskan dahaga. Disumbatnya  mata

air  itu  supaya  jangan  mengalir terus dan menyerap ke dalam

pasir.

 

Anak yang bersama ibunya itu membantu  orang-orang  Arab  yang

sedang  dalam  perjalanan, dan merekapun mendapat imbalan yang

akan cukup menjamin hidup mereka  sampai  pada  musim  kafilah

yang akan datang.

 

Mata  air  yang  memancar  dari  sumur Zamzam itu menarik hati

beberapa kabilah akan tinggal di dekat  tempat  itu.  Beberapa

keterangan   mengatakan,  bahwa  kabilah  Jurhum  adalah  yang

pertama sekali tinggal di tempat itu, sebelum datang Hajar dan

anaknya. Sementara yang lain berpendapat, bahwa mereka tinggal

di tempat itu setelah adanya  sumber  sumur  Zamzam,  sehingga

memungkinkan mereka hidup di lembah gersang itu.

 

Ismail sudah semakin besar, dan kemudian ia kawin dengan gadis

kabilah  Jurhum.  Ia  dengan  isterinya  tinggal  bersama-sama

keluarga  Jurhum  yang  lain.  Di  tempat itu rumah suci sudah

dibangun, yang kemudian berdiri pula Mekah sekitar tempat itu.

 

Juga disebutkan bahwa  pada  suatu  hari  Ibrahim  minta  ijin

kepada  Sarah  akan  mengunjungi Ismail dan ibunya. Permintaan

ini disetujui dan ia pergi. Setelah  ia  mencari  dan  menemui

rumah Ismail ia bertanya kepada isterinya: "Mana suamimu?"

 

"Ia sedang berburu untuk hidup kami," jawabnya.

 

Kemudian  ditanya  lagi,  dapatkah  ia  menjamu  makanan  atau

minuman, dijawab  bahwa  dia  tidak  mempunyai  apa-apa  untuk

dihidangkan.

 

Ibrahim  pergi,  setelah  mengatakan:  "Kalau  suamimu  datang

sampaikan  salamku  dan  katakan  kepadanya:   "Ganti   ambang

pintumu."

 

Setelah  pesan ayahnya itu kemudian disampaikan kepada Ismail,

ia segera  menceraikan  isterinya,  dan  kemudian  kawin  lagi

dengan  wanita Jurhum lainnya, puteri Mudzadz bin 'Amr. Wanita

ini telah menyambut Ibrahim dengan baik setelah beberapa waktu

kemudian  ia  pernah  datang.  "Sekarang  ambang pintu rumahmu

sudah kuat," (kata Ibrahim).

 

Dari perkawinan ini Ismail mempunyai duabelas orang anak,  dan

mereka  inilah  yang  menjadi cikal-bakal Arab al-Musta'-riba,

yakni orang-orang Arab yang bertemu dari pihak ibu pada Jurhum

dengan Arab al-'Ariba keturunan Ya'rub ibn Qahtan. Sedang ayah

mereka, Ismail anak Ibrahim, dari  pihak  ibunya  erat  sekali

bertalian  dengan  Mesir,  dan  dari  pihak  bapa  dengan Irak

(Mesopotamia)  dan  Palestina,  atau   kemana   saja   Ibrahim

menginjakkan kaki.

                                    (bersambung ke bagian 2/4)

 

---------------------------------------------

S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D

 

oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL

diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah

 

Penerbit PUSTAKA JAYA

Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat

Cetakan Kelima, 1980

 

Seri PUSTAKA ISLAM No.1


Quote this article in website Cetak Beritahu Kerabat Artikel Terkait

Users' Comments (0) RSS feed comment

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.7 © 2007-2010 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
< Prev
Your Ad Here JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

Newsflash

Ass..,

Untuk semua sanak rang talu yang ingin memuat artikel atau pun ikut menjadi bagian dari pengurus website rang talu silahkan kirimkan email ke This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it kami tunggu juga sumbang saran nya.

Wass..,

Rang Talu