Daghi awak untuak itoh Basamo

MAMBANGKIK BATANG TARANDAM

Oleh : Dasril Alies

NOSTALGIA sebatas kenangan masa lalu, telah manjadi pameo : kata kita “Talu dulu pernah lebih maju selangkah dan cukup terkenal (musohua) dimana-mana”; kata masyarakat luar “Rang Talu banyak yang cerdik (codiak*) pena rang talu tajam; kata pendatang/pengunjung “Talamau (puncak & lembahnya) alamnya indah tanahnya subur”; tambah satu lagi “masyarakatnya ta’at beribadah (rajin ke surau)”

Apakah cukup sampai disini saja kebanggaan rang talu atau hanya sekedar nostalgia belaka, terpulang kepada diri kita masing-masing yang merasa sebagai rang talu ……..

KILAS BALIK SEJARAH **) :

Alkisah “kata-nya” sebelum Indonesia merdeka, Talu begitu maju dan termashur baik kualitas SDM maupun peradabannya bila dibandingkan dengan keberadaan daerah atau nagari sekitarnya yang berada dalam wilayah pasaman umumnya dan khususnya di daerah pasaman barat saat ini. Talu dikenal sebagai pusat pemerintahan kolonial belanda (districk onderneming Talu) maupun zaman penjajahan jepang (ingat lubang jopang). Selain itu, Talu juga terkenal sebagai kota pendidikan, termasuk menjadi lahan perkebunan yang terkenal diantaranya perkebunan Teh orang belanda (tonang tolu) serta kopi, karet, cassiavera dan nilam (kebun rakyat) selain kebun sawit (ophir) di kinali,

Sebagai pusat pemerintahan pada zaman penjajahan belanda dan jepang maka di Talu juga didukung oleh tersedianya berbagai fasilitas infrastruktur berupa kantor penguasa seperti kantor wedana (sekarang jadi Mess Pemda) termasuk adanya pasanggrahan (sekarang sudah dibongkar dijadikan terminal), pengadilan rakyat (kejaksaan), markas tentara dan polisi lengkap dengan tangsinya atau penjara. Selain itu juga tersedia fasilitas umum seperti rumah sakit (dulu terletak di Gontiang), lapangan tennis (sekarang jadi kantor Camat), air ledeng (instalasi air bersih, sekarang dikelola PDAM) dan stembat (kolam renang) yang ada di tembok.

Rumah Sakit (zaman belanda) salah satu dokternya adalah Dr. Saleh (kebetulan adalah ayah dari Mr. Chairul Saleh yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri di awal kemerdekaan RI.)

Tersedianya kantor pengadilan untuk rakyat (kejaksaan), bahkan sampai dengan terjadinya pemekaran kabupaten pasaman merupakan satu-satunya pengadilan negeri di wilayah pasaman barat. Salah satu Jaksa Muda Pengadilan Negeri Talu tersebut adalah Syahrul Ujud, SH (pernah menjadi walikota Padang) dan terakhir sebelum pensiun jabatan beliau adalah sebagai Staf Ahli Menteri Koordinator KESRA.

Ketersedian Penjara, sampai dengan masa pemekaran merupakan satu-satunya di wilayah pasaman barat sebagai tempat tahanan atau rehabilitasi
bagi terpidana yang telah diputuskan oleh pengadilan negeri termasuk penjara bagi tahanan politik G30S PKI masa lalu yang berasal dari seluruh kecamatan di pasaman barat dan dari nagari cubadak simp. tonang (sebelum pemekaran termasuk wilayah kecamatan talamau)

Kata-nya juga, pada awal kemerdekaan RI (pemerintahan militer Sumatera Tengah) pusat pemerintahan untuk wilayah pasaman (barat dan Timur) juga ada di Talu yang disebut Kewedanaan Talu setingkat residen kalau di pulau jawa saat itu. Adapun pusat Pemerintahan pindah ke Lubuk Sikaping baru terjadi setelah terbentuknya Kabupaten Pasaman pada akhir tahun 1949 meliputi wilayah kewedanaan Talu atau Districk Talu (pemerintahan kolonial belanda) sebelumnya, yang untuk sementara pun pejabat bupati nya masih berkedudukan di Talu.

Sebagai kota pendidikan sejak jaman belanda (1847) Talu telah menjadi tempat menuntut ilmu bagi masyarakat yang berasal dari berbagai nagari (wil. Pasbar sekarang) guna melanjutkan sekolah khususnya untuk kelas 4 dan kelas 5 (tamat Sekolah Rendah).

Bahkan setelah merdekapun pada tahun 1950 sampai dengan akhir tahun 70-an yang namanya sekolah guru diwilayah pasaman barat satu-satunya hanya ada di Talu, berawal dari Sekolah Guru B (SGB setingkat SLTP) tahun 1950-1960 kemudian pada tahun 1962 berdiri pula Sekolah Guru A (SGA setingkat SLTA) yang kemudian berganti nama SPG Negeri Talu.

Mayoritas alumni dari SGB/SGA maupun SPG Negeri Talu tersebut merupakan guru-guru kita waktu Sekolah Dasar (bagi yang sekolah di Talu dan sekitarnya s/d sekarang), bahkan saat ini banyak yang telah mejadi Kepala Sekolah, Penilik Sekolah maupun Pejabat structural di lingkungan kantor dinas pendidikan yang ada di pasaman barat.

Sebagai penghasil produk pertanian, Sejak zaman kolonial belanda dahulu, talu terkenal dengan perkebunan teh “Tonang Talu” sekarang sudah ditutup (tinggal sisa sisa pohon teh tua). pada waktu Bpk Baharuddin jadi Bupati Pasaman daerah ini pernah dibuka dengan membuat jalan lintas Talu–Lubuk Sikaping dan sudah bisa dilewati kendaraan roda 4 (mobil) namun belum sempat di aspal terjadi pemekaran kabupaten dan amat disayangkan pembangunan jalan ini tidak dilanjutkan lagi oleh pejabat bupati Pasaman Barat, entah apa alasannya.

Talu juga terkenal sebagai penghasil kulit manis, karet dan nilam, bahkan talu sampai detik inipun juga terkenal dengan kopi talu-nya. Selain itu Talu pada tahun 1970-1980an Talu juga merupakan lumbung padi kabupaten Pasaman (Barat & Timur) selain Rao, dulupun untuk memenuhi kebutuhan ikan tawar daerah pasbar (Pd. Tujuh, Sp. Empat, Sasak, kinali dll) juga didatangkan dari Talu. Adalagi katanya, di Talu pada zaman dulu juga telah ada pabrik sabun yang bernama “NV. Sarah” dengan bahan baku nilam.

Sebagai tujuan Wisata Alam, kata-nya lagi : Puncak Talamau dan hutannya yang masih asri perawan menyimpan banyak misteri baik flora maupun fauna serta lembahnya memiliki banyak telaga yang indah (13 telaga) ditambah lagi dengan keberadaan beberapa air terjunnya yang dikagumi para pendaki gunung Indonesia maupun dari manca Negara. Di Talu pun ada tempat pemandian air hangat, durian pun banyak.

Lebih daripada itu, konon ceritanya yang dimaksud Gunung Ledang yang dikisahkan dalam cerita klasik “Cindua Mato” tempat ayah puti Andam Gondoriah (calon istri Dang Tuanku raja Pagaruyung) melakukan semedi atau bertapa tiada lain adalah Gunung Talamau atau yang kita kenal juga dengan sebutan Gunung Pasaman.

Hamparan gunung Talamau juga merupakan habitat dari beberapa tumbuhan dan binatang langka yang perlu mendapat perlindungan, sebut saja harimau pasaman atau barangkali yang terkenal dengan nama harimau champo (senang hidup di atas pohon besar) makanya ada juga yang menyebut harimau dahan.

Adapun penamaan gunung pasaman bermula dari sekedar menyesuaikan nama Batang Soman dan Kabupaten Pasaman (pasamo-an) dan kata pasamo-an itu sendiri merupakan kesepakatan pemberian nama untuk bekas wilayah Kewedanaan Talu (districk Talu) yang pada tahun 1949 menjadi Kabupaten Pasaman, Hal ini mengingat antara lain penduduk atau masyarakatnya terdiri dari beberapa suku (etnis) seperti suku Minang, Batak/mandahiling, Melayu dan Jawa. Maksudnya adalah untuk membangun dan mengelola Kabupaten diperlukan adanya kerjasama yang baik diantara semua suku/etnis dengan kata lain perlu di P A S A M O A N. Ontah lah, itu kan juga “kata-nya”

KEAADAN SEKARANG

Sepanjang pengamatan yang pernah didengar, dilihat dan dibaca ppenulis selama ini terkait dengan masalah yang terjadi di kampung halaman kita Talu (Talamau) agaknya perlu menjadi perhatian dan pemikiran (sharing) dari kita bersama untuk mencari jalan keluar (solusi) oleh kita secara bersama pula, antara lain :

> Talu sekarang kelihatannya sudah t

ertinggal (taghondam), padahal dulu pernah maju selangkah dan mashur dimana-mana. Hal ini karena Talu merupakan jalur utama lintas ekonomi pasaman barat menuju kota padang dan medan. Talu juga merupakan pusat pemerintahan jaman kolonial dan menjadi pusat pendidikan sampai dengan dekade tahun 1970-an di pasaman barat.

> Dunsanak di kampung kita khususnya kecamatan talamau (petani) banyak yang hidup tidak berkecukupan atau melarat, dalam kenyataan berdasarkan data jumlah penerima dana BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang disebut juga masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan pada tahun 2008 dan 2009 di kabupaten pasaman barat merupakan peringkat satu (terbanyak) dari sebelas kecamatan.

> Cucu kemanakan saat ini telah banyak yang tidak merasa hormat dan segan (respek) lagi keberadaan ninik mamaknya, Hal ini perlu juga kita pertanyakan mengapa itu bisa terjadi.Apakah orang tua kita lebih memperhatikan dan fokus terhadap anak keturunannya daripada memperhatian dan mengayomi cucu kemenakannya ? padahal perlu ada keseimbangan peran dalam struktur bermasyarakat di minangkabau.

> Disamping itu katanya sekali lagi katanya : anak, cucu dan kemenakan kita sudah banyak pula yang tidak bisa mengaji apalagi mampu membaca dan melafaskan alqur’an secara baik (tajuid). Apakah ini juga karena anak-anak lebih diarahkan atau terfokus belajar dan menuntut ilmu pengetahuan di sekolah umum sehingga waktu untuk belajar mengaji di surau, mesjid dan datang kerumah guru ngaji menjadi terabaikan, agaknya perlu dicermati secara arif dan bijaksana.

KESIMPULAN DAN HARAPAN (mambangkik batang taghondam)

“Maju mundurnya sebuah nagari (bangsa) sangat tergantung kepada Generasi Muda-nya”

1) Perlu adanya tekad bersama oleh komunitas rang talu (dikampung dan dirantau) untuk bahu membahu dengan dukungan pemerintah daerah membangkitkan kembali kejayaan talu yang pernah ada dengan “mambangkik batang taghondam”

2) Perlu persatuan dan ikatan perasaan menjadi satu kesatuan rangtalu dalam ikatan “tiga tali rasa” yaitu : rasa badunsanak (berfamili atau komunitas) ; rasa sakampuang (memiliki leluhur dan asal kampung yang sama) ; dan rasa sa-agamo (satu keimanan dalam Islam)

3) Perlu pembinaan dari para senior kepada generasi muda Talu supaya mempunyai semangat juang yang tinggi terutama dalam menuntut ilmu pengetahuan dan mencari pengalaman sehingga rang talu dapat eksis dan berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara baik di pemerintahan, swasta dan masyarakat maupun dalam lingkup rohani (ukhuwah islamiyah)

Hayo Rang Talu, bangkitlah, berjuanglah, mari kita tingkatkan kemampuan diri di bidang IPTEK dan IMTAQ (ilmu pengetahuan dan teknologi serta Iman dan Taqwa) tiada lain untuk kemaslahatan masyarakat dan umat.

Wahai generasi muda Talu, sudah tiba sa’atnya anda maju, tegak berdiri di depan untuk menjadi pemimpin, membaur bersama untuk meningkatkan jati diri dan kesejahteraan masyarakat di Talu (talamau) dan pasaman barat pada umumnya.

Bagi dunsanak rangtalu yang kebetulan telah berhasil memiliki kemampuan ilmu pengetahuan lebih dan bermanfaat (cendekiawan) serta dunsanak yang memperoleh limpahan rezeki berkecukupan (hartawan) dan alim ulama : hayo palingkan muka, curahkan sebagian perhatian untuk kampung halaman dan tanah leluhur kita bersama.

BERSAMA MENGANGKAT HARKAT DAN CITRA RANG TALU : kita bisa kenapa tidak, tinggal kesiapan dan adanya kemauan, tanyalah diri masing-masing.

Rang Talu (di kampung dan dirantau), jejak tikamkan langkahmu, buktikan kiprah dan perbuatanmu secara moril dan materil untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Marilah bersama mengejar mimpi dan lakukan sesuai dengan batas kemampuan kita masing-masing, minimal panjatkan do’a dan permohonan kehadiran Illahi Rabbi supaya esok Talu lebih baik dari hari ini dan kemaren, kitapun mendapat limpahan rahmat sehat, kemudahan rezeki, keluarga yang harmonis, panjang umur serta mendapat hidayah selalu dalam iman islam, Amin ya Rabbal Alamin.

Dunsanak, sekelumit pemikiran melalui E-mail ini tertuju kehadapan kita bersama : bagaimana pendapat dunsanak sekalian tentang masalah di atas, kalau dicermati dan dikaji tentu banyaklah ragamnya, tapi yang penting justru apa solusi yang dapat dilakukan atau jalan keluar dari permasalahan tersebut untuk dapat kita sumbangkan bersama baik secara individu maupun kelompok (komunitas) supaya menjadi lebih baik.

Patut kita elakan bersama jangan sampai masyarakat dikampung berkata dan berandai “rangtalu dirantau banyak yang berhasil, tapi sudah lupa dengan dunsanak dan kampung ; dikampung begitu juga, yang kaya hanya untuk dinikmati keluarga sendiri saja, yang cerdikpun pandainya hanya menjual termasuk membodohi, kalau perlu harga diripun digadaikan untuk kepentingan pribadi”. Wallahu alam.

Sekian dulu dunsanak, kalau ada penyampaian yang tidak pada tempatnya atau kurang pantas maklumlah ini kan “katanya” walaupun sebagian ada juga benarnya, dengan segala kerendahan hati penulis sebelumnya mohon dibukakan pintu ma’af.

Dunsanak, monah “mambangkik batang taghondam” kok iyo dunsanak lai paduli dengan kampuang, cubolah pikia jo kapalo nan joniah, inok-an pulo didalam ati [sidaih poman].

*) CATATAN : Rang Talu banyak nan CODIAK, tidak hanya terdapat di Talu namun juga ada banyak diperantauan bahkan di semenanjung, setahu penulis di Malaysia ada Ahmad bin Abd. Rashid Talu (Ahli dan pengarang modern Melayu pertama); Abdul Rahim Kajai, yg diiktiraf sebagai Bapa Kewartawanan Melayu (1894-1943) berasal dari nagari Kajai; Halimi bin Ibrahim Toba (seorang pejuang melayu, asal kp. Jambak). Adapun yang masih hidup diantaranya Prof..DR. Khalid Mohd. Nor (cendekiawan, sekarang menjadi Ketua Perhimpunan Rang Talu Malaysia, asal kp. pinang); Prof. DR. Ahmad Jelani Halimi (ahli sejarah, Kepala Program/ketua jurusan Sejarah Univ. Sains Malaysia/ USM di Pulau Pinang, asal kp. jambak), ada juga jendral Datok Hamzah (sumando rang talu asal rao), terakhir ada lagi Prof. Mohd. Basri Hamzah di Kuala Lumpur, generasi ke-5 dirantau yang ingin sekali pulang ke Talu untuk mencari tahu keluarga nenek moyangnya yang ada di Talu dan sekitarnya.

Sedangkan untuk orang pintar (codiak) yang berada di Talu dan daerah lainnya di Indonesia baik zaman dulu maupun sekarang ini, tentunya dunsanak sadonyo lebih banyak kenal dan mengetahui keberadaannya daripada penulis. Namun barangkali ada baiknya dilakukan survey atau penelitian tentang potensi SDM Rang Talu mulai dari tamatan tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi bahkan yang sudah bergelar Master, Doktor maupun bergelar Profesor bik yang berkiprah di instansi pemerintah maupun swasta

**) KILAS BALIK SEJARAH, materinya diperoleh dari berbagai sumber, terutama dari hasil penjelajahan jejaring internet melalui kata kunci “talu dan districk talu”.

**) KILAS  BALIK SEJARAH, diperoleh dari berbagai sumber, terutama dari hasil penjelajahan diberbagai jejaring internet melalui kata kunci “talu” dan “districk talu”  serta bacaan kepustakaan lainnya yang terkait dengan talu.

Reply