Lanjutan Dasar Dan Pedoman Berbahasa Talu

Beberapa Pelengkap/Imbuhan Pada Akhir Kata

(hanya dalam Bahasa Talu)

( Oleh : Dasril Alies )

Pada Bahasa Minang Rang Talu, terdapat  beberapa  pelengkap atau imbuhan pada akhir kata yang khas atau spesifik, dengan kata lain hanya digunakan dan diucapkan  serta dimengerti oleh orang Talu dalam berkomunikasi secara lisan/tulisan,  dan adakalanya masyarakat minangkabau di daerah lain tidak mengerti dan paham sama sekali. Beberapa imbuhan akhir kata dalam Bahasa Talu dimaksud serta artinya dalam bahasa Indonesia antara lain sebagai berikut :

1)            Kata pelengkap atau kata imbuhan akhir “teh” pada akhir kata, bisa bermakna  “lah”, atau “kah”  dalam Bahasa Indonesia, tetapi hal ini tergantung pemakaiannya dalam sebuah kalimat. Contoh : tuteh = itu lah apo teh = apa lah ; apo teh ro = apa kah itu ; dima teh = dimana kah

2)            Pelengkap atau imbuhan akhir kata  “ro, ru & du”, berarti  “ itu ” tetapi bisa juga berarti “kah” dalam bahasa Indonesia dan bisanya hanya ditambahkan pada kalimat pertyaan.. Contoh : komaro /koma du/ koma ru = kemana itu ; sia ro /sia ru/ sia du = siapa itu / siapa sih

3)            Pelengkap atau imbuhan akhir kata  “lo”,  ber-arti “pula” dalam bhs Indonesia, lo merupakan singkatan dari pulo. contoh : koma lo poi’e = kemana pula perginya ;  ba’a lo = bagaimana pula,  ba’a merupakan penggalan  dari kata bagaimana

4)            Pelengkap atau imbuhan akhir kata  “nyoh”,  dapat diartikan “kira-kira” , “kah”  atau “nggak”  dalam bhs Indonesia,  dan biasanya juga digunakan untuk kata pertanyaan atau untuk lebih menegaskan (yang memerlukan jawaban), seperti :  dima nyoh = dimana kira-kira  ; olah nyoh = sudah/selesai kiranya ; elok nyoh nampak’e = bagus nggak tampak (kelihatan)nya.  Kalau nyoh’e disingkat jadi nyo’e = katanya dia,  Adakalanya diawali dgn kata “je” = ujar,  contoh : je nyo’e = ujarnya/katanya dia.

5)            Pelengkap atau imbuhan akhir kata  “nyehe”,  berarti “katanya” dalam bhs Indonesia, seperti contoh : apo nyehe = apa katanya ;  bilo nyehe = bila/ kapan katanya.

6) Pelengkap atau  imbuhan akhir kata  “meng/miang”  berarti “saja”, sebagai contoh :  data miang = datar saja ;  bisuak miang lah = besok sajalah ; nak beghang meng = mau marah saja.  nak merupakan singkatan dari “hendak” yang artinya sama dengan “mau”

7)            Pelengkap atau  imbuhan akhir kata  “sa”, artinya sama dengan arti meng/miang yaitu  “saja”, sebagai contoh :  monga sa = mengapa saja ;  bisuak sa lah = besok sajalah ; nak beghang sa = mau marah saja ;

CATATAN :      PERLU juga diketahui dan dipahami bahwa kata pelengkap “ teh, ro/ ru/ du, sa, nyoh dan meng/miang” sebagaimana dijelaskan di atas, adakalanya tidak mempunyai arti sama sekali (hanya sekedar menguatkan/melengkapi arti kata sebelumnya) sebagaimana halnya arti kata “sih” dan “dong” dalam dialek Betawi / Jakarta atau arti “lah” dalam Bahasa Melayu.

Terakhir, untuk dunsanak (Rang Talu) yang telah memahami Bahasa Talu dengan segala kerendahan hati saya mohon koreksi dan saran apabila terdapat kekeliruan atau pengertian yang kurang pas sebagaimana yang telah diuraikan di atas.

………Maklumlah saya pribadi menetap di Talu hanya sekitar 9 (sembilan) tahun tepatnya tahun 1958-1967 karena umur 1-5 tahun saya ikut orang tua di  Kota Padang Panjang dan pada tahun 1968-69 saya sekolah di Simpang Tonang kemudian di Padang s/d 1972. Pada tahun 1969-1972 kalau pulang kampung (liburan) saya di Sp. Tonang (bhs Mandahiling) dan Simpang Empat. Sejak awal Tahun 1972 sampai Sekarang saya menetap di Jakarta.

Untuk pembelajaran bahasa Talu selanjutnya akan disampaikan dalam bentuk cerita ringan/ ringkasan peristiwa yang terjadi dilingkungan kita, kemudian dilengkapi dengan penjelasan dari arti kata-kata tertentu atau Kamus Bahaso Tolu.

Salam RTS ( Rang Talu  Sakato/ Saiyo/ Sapokaik )

Dasril Alies / Sidaih Poman

Reply