Menelusuri Karya-karya Sariamin ‘Selasih Selaguri’

Oleh : Babe Derwan

Setelah mengangkat sekilas tentang masa perjuangan bunda Sariamin ‘Selasih Selaguri’ pada artikel terdahulu, rasanya belum lengkap jika tidak mengenali karya-karyanya yang telah memberi warna kepujanggaan di negeri ini. Meski tidak selengkap dan sedetil yang diharapkan, paling tidak beberapa hal berikut cukup membantu kita untuk mencoba mengenali beberapa karyanya.

Sebagaimana disebutkan pada Selasih ‘Rang Talu’ Selaguri : Novelis Perempuan Pertama Di Indonesia, meski sebelumnya beberapa tulisan Sariamin telah menghiasi media cetak kala itu, namun novel pertama yang dilahirkannya adalah Kalau Tak Untung. Bunda Sariamin menggunakan nama samaran Selasih untuk novel yang terbit pada tahun 1933.

Kalau Tak Untung itu bukan cuma melejitkan nama Selasih sebagai pujangga wanita, tapi juga membuat bangga penerbit Balai Pustaka. Saking bangganya, sampai-sampai pihak Balai Pustaka memberikan imbalan yang sangat memuaskan bagi Sariamin. Oleh karenanya Sariamin pun semakin bersamangat untuk menulis. Dan tahun 1937 menyusul lahir pula novelnya yang kedua berjudul Pengaruh Keadaan, yang juga diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Pada tahun 1939 Balai Pustaka mengadakan lomba mengarang roman. Selasih pun tak mau ketinggalan. Ia lalu mengirimkan hasil karyanya yang berjudul Harapan Ibu. Walaupun Selasih cuma menduduki rangking 9 dari 12 orang pemenang, ia cukup bangga, mengingat jumlah naskah peserta yang ikut lomba tak kurang dari 256 naskah. Sayangnya naskah itu tidak bisa diterbitkan karena saat itu penerbit mengalami kesulitan ekonomi, yang disebabkan ambruknya pemerintah kolonial Belanda, akibat menghadapi Perang Dunia II. Yang lebih sayangnya lagi, naskah Harapan Ibu itu juga dinyatakan hilang, wallahu’alam.
***
SELAIN cerita fiksi, Selasih juga menulis puisi, menterjemahkan sejumlah karya dari Barat terutama yang berbahasa Belanda, dan dari Timur berbahasa Cina. Sejumlah puisinya telah dipilih pula oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) untuk antologi Puisi Baru (1946), oleh Toeti Heraty dalam antologi Se Serpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), oleh Linus Suryadi AG dalam antalogi Tonggak (1986), dan oleh Korrie Layun Rampan dalam antalogi  Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia pada tahun 1990.

Sariamin adalah salah seorang sastrawan yang mengalami tiga zaman ; zaman Belanda, zaman Jepang dan Kemerdekaan. Pada saat penjajahan Jepang, Sariamin Selasih sempat berhenti menulis.  Tak begitu jelas kenapa Sariamin berhenti menulis saat itu. Ia baru mulai lagi menulis tahun 1980 dengan membuat cerita anak-anak, seperti dengan terbitnya Panca Juara (1981), Nahkoda Lancang (1982), dan Cerita Kak Mursi tahun 1984.

Yang membuat Sariamin kembali makin bersamangat menulis yakni setelah Menteri P & K Daoed Joesuf, suatu ketika sengaja mendatanginya untuk mendorongnya agar terus menulis. Daoet Joesuf lantas memintanya untuk menulis dalam Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Proyek buku yang dikelola oleh P dan K ini sebagian akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Minangkabau. Tanpa pikir panjang, Sariamin pun menyanggupinya. Maka sampai tahun 1986 Sariamin berhasil menulis 21 naskah, yang masing-masing tak kurang dari 200 halaman.

Hasil karya terakhir Selasih adalah novel Kembali ke Kepangkuan Ayah, yang diterbitkan oleh  oleh Mutiara Sumber Widyia (1986). Dan dua tahun setelah Sariamin meninggal, Penerbit Balai Pustaka kembali melakukan cetak ulang atas novel itu.

Bunda Sariamin meninggal tahun 1995 di Pekan Baru dalam usia 86 tahun. Dari perkawinannya dengan Ismail, mereka meninggalkan dua putri, yaitu Suryahati Ismail dan Tini Hadad. Tini Hadad diketahui pernah dipercaya sebagai Ketua YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), maka tak heran kalau  nama Tini Hadad sering juga mewarnai media cetak dan elektronik Indonesia. Selain itu, putri bungsu yang jebolon institut menejemen di Vancauver ini, juga sempat menjadi Wakil Direktur Program Pemulihan Masyarakat di bawah naungan UNDP.

Berkat sejumlah hasil karya sastranya itu, dalam sejarah sastra Indonesia Bunda Sariamin — Selasih Seleguri — tercatat sebagai sastrawan Indonesia kelompok Angkatan Balai Pustaka. Yaitu kelompok sastrawan awal dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Tapi Wikipedia Bahasa Indonesia mencatatnya sebagai Angkatan Pujangga Baru.

Berikut karya-karya bunda Sariamin ‘Selasih Selaguri’ menurut versi tamanismailmarzuki.com:

Kalau Tak Untung (novel, 1933)
Pengaruh Keadaan (novel, 1937)
Puisi Baru, St. Takdir Alisjahbana (bunga rampai, 1946)
Rangkaian Sastra (1952)
Seserpih Pinang Sepucuk Sirih, Toeti Heraty (bunga rampai, 1979)

Panca Juara (cerita anak, 1981)

Nakhoda Lancang (1982)

Cerita Kak Mursi (cerita anak, 1984)
Kembali ke Pangkuan Ayah (novel, 1986)
Tonggak 1, Linus Suryadi AG (bunga rampai, 1987)
Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia, Korrie layun Rampan

(Babe Derwan. Bahan: Wikipedia Bahasa Indonesia Korrie Layun Rampan Agepe blogspot tamanismailmarzuki.com)

5 Comments

  1. mumfangati Reply
  2. Armen Emdas Reply
    • Babe Derwan Reply
  3. AL Miter Reply
    • Babe Derwan Reply

Reply