Obituary : Ibu Hj Nurmal Maalip – Bundo Kanduang Bersahaja

SEBUAH pesan singkat Senin sore, 15 September 2014 melalui jejaring sosial (Whats App dan BBM) membuat saya tersentak : “Innalillahi wainna illaihi rajiun… Ibu Nurmal Maalip telah dijemput menghadap Sang Khalik sore ini, sekitar pukul 16.00 WIB”, waktu itu Senin (15/9).  Berita duka ini tentulah juga mengejutkan masyarakat Talamau (Pasaman Barat, Sumbar), tak terkecuali yang berada di perantauan. Terkejut bukan cuma karena kepergiannya yang begitu mendadak, melainkan juga karena figur dan ketokohan almarhumah di masyarakat Talamau.

Menurut informasi, kepergian almarhumah memang begitu tiba-tiba, tanpa menderita penyakit yang cukup lama sebelumnya. Hari Minggu, 14 September beliau berangkat dari Talu menuju Padang. Keesokan paginya, saat berjalan-jalan di halaman rumah, tiba-tiba beliau merasa pusing yang teramat sangat. Tengkuknya terasa sakit, berlanjut dengan munta-muntah. Ia lalu dilarikan ke RS Siti Rahmah di Jl.By Pass, Padang. Setelah menjalani CT-Scan, diketahui almarhumah mengalami pendarahan otak yang cukup hebat dan penuh dengan cairan.
Akhirnya, Senin sore itu, 15 September, ba’da Ashar, alamarhum tak bisa bertahan lagi. Beliau berpulang ke Rahmatullah. Ibu Nurmal meninggal pada usia 81 tahun. Malam itu juga jenazahnya dibawa ke Talu, dan tiba sekitar pukul 22.00.

Ibu Nurmal, begitulah ia akrab dipanggil. Memang – khususnya bagi urang Talu-Sinurut – Talamau umumnya – bahkan yang tinggal di perantauan, siapa yang tak mengenal Ibu Hj Nurmal Maalip, yang lebih populer dan akrab dipanggil Bu Normal. Entah sudah berapa lintas generasi, sampai saat ini. Bagi anak-anak, para remaja, dan pemuda, ia adalah sosok seorang ibu yang begitu lembut, menuntun, dan mengayomi. Sementara bagi yang sebaya atau yang lebih tua darinya, ia dikenal sangat santun, ramah, rendah hati, bersahaja, dan berwibawa, namun jauh dari kesan sombong.

Bicara soal kiprahnya, kita tentu sudah tahu bahwa Ibu Nurmal seorang wanita aktif demi kemajuan masyarakatnya. Misalnya, dibidang pendidikan ; yang pasti dia cukup lama mengabdi menjadi seorang guru, mengajar di SMP dan SPG. Bahkan konon ia juga turut andil mendirikan Sekolah Kepandaian Putri (SKP) di Talu dan beliau sendiri yang menjadi kepala sekolahnya. Konon pula itu satu-satunya sekolah keputrian tingkat pertama yang ada di Kabupaten Pasaman waktu itu. Walaupun kemudian akhirnya melebur dengan SMP yang gedung sekolahnya kebetulan memang bersebelahan.

Dibidang sosial dan budaya; Beliau dikenal aktif dibeberapa organisasi social. Toh ia juga berperan sebagai Bundo Kanduang, bahkan juga berstatus seorang Puti Raja yang diperolehnya dari hirarki kerajaan dalam adat Minangkabau di Koto Dalam, Talu. Benar apa yang diungkapkan Bpk Nazez Djon, salah seorang tokoh Talamau yang berdomisili di Jakarta, dalam komentar pada jejaring facebook; “Walau alamarhumah berdarah biru dan bergelar Puti, tapi itu tak kelihatan sedikitpun dalam kehidupannya sehari-hari.” Ternyata ia tak jumawa dengan embel-embel kerajaan itu. Tetap sebagai orang awam biasa yang penuh dengan kesehajaannya.

Sedang kiprahnya dibidang politik; juga tak bisa dipandang sebelah mata. Itu dibuktikan dengan sempat selama 3 periode menjadi anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Pasaman di Lubuk Sikaping yang – ketika itu belum terjadi pemekaran wilayah kabupaten – seperti sekarang ini.

Dibidang agama; tak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah sosok yang religius. Sehari-hari beliau selalu tampil dengan stelan busuna muslimah lengkap. Dan dia adalah juga seorang tokoh Muhamadiah, serta sempat beberapa periode menjabat Ketua Umum Aisyiah Muhamadiah Talamau. Salah satu cita-cita alamarhum yang masih terbengkalai adalah untuk membangun sebuah masjid yang lengkap dengan sarana pendidikannya di Jl. Bangkok, Talu. Menurut Ibu Suni, salah seorang koleganya di Talu, pembangunan yang masih dalam taraf pondasi itu, terbengkalai karena faktor biaya. Tapi ia tak heran, karena katanya, boleh dibilang cuma almarhum sendirilah yang berjibaku mencari dananya ke sana kemari.

Dan, ketaatan beliau beribadah juga patut diapresiasi dan dicontoh. Coba bayangkan ; sampai menjelang akhir hayatnya – diusianya sudah renta 80 tahunan – dengan sisa-sisa tenaganya – dia masih tetap menyempatkan diri pergi ke Masjid Istiqamah di Pasar Baru untuk berjamaah sholat Subuh. Kita tentu tahu, untuk seusia beliau dengan berjalan kaki sendirian dari rumahnya di Jl. Bangkok ke Masjid Istiqamah tentu lumayan jauh. Dan bayangkan pula betapa dinginnya udara menjelang subuh di daerah yang memang sudah dikenal dingin itu. Tapi bagi Ibu Nurmal, itu tak jadi halangan.

Almarhumah Bu Nurmal disemayamkan di Rumah Gadang, Koto Dalam. Kata Edi Naro, tokoh Pemuda Talamau, hal itu bukan cuma karena almarhumah keturunan raja. Tapi juga karena demi menampung ramainya para pelayat. Menurut Edi Naro, prosesi pelepasan jenazah diselenggarakan dengan upacara adat, disertai pelepasan tembakan dengan senjata Satengga (khas senjata kerajaan). Selain hadir Bupati Pasama Barat Bpk Baharudin beserta jajarannya, upacara pemakaman juga dihadiri oleh Daulat Yang Dipertuan Pagaruyung, yang sengaja datang untuk melepas almarhumah terakhir kalinya. “Beliau pantas mendapatkan hal itu. Karena almarhumah adalah seorang Puti Raja,” komentar Ny. Aisyar Moechtar, sahabat almarhumah di Jakarta.

Akhirya…, selamat jalan Ibu Nurmal… selamat jalan Bundo Kanduang kami… Guru kami… Panutan kami… dan Tauladan kami… Semoga Allah Azza Wajalla tersenyum indah menyambutmu, seindah senyummu dalam setiap sapaanmu… We lost you Mom… *** (babe/foto St Naro).

Catatan Sipangka : Obituary diatas adalah murni ditulis oleh pengunjung YRT.Net dan dinyatakan sebagai bentuk penghargaan penulis dan didedikasikan bagi seluruh aspek ketokohan almarhumah. 

Reply