Pemekaran Pasaman Ada di Talamau

KABUPATEN Pasaman telah dimekarkan jadi dua kabupaten: Pasaman dan Pasaman Barat. Kendatipun demikian, tidak ada satu kecamatan pun di kabupaten paling ujung Sumatra Barat tersebut yang benar-benar termekarkan. Kecamatan Talamau yang berpusat di Talu, menjadi satu-satunya kecamatan yang dapat dikatakan sebagai wujud hakiki pemekaran Kabupaten Pasaman.
Betapa tidak, kecamatan yang dikenal berhawa sejuk itu, beberapa saat menjelang Kabupaten Pasaman dimekarkan, telah dimekarkan jadi dua kecamatan, sebagian wilayahnya masuk Kecamatan Duo Koto, sementara sebagian lain tetap berada di Kecamatan Talamau.
Daerah-daerah yang masuk ke kecamatan pemekaran adalah Andilan, Silang Empat, Cubadak, sementara yang tetap berada dalam wilayah Kecamatan Talamau adalah Kajai, Talu dan Sinuruik. Beberapa waktu kemudian, Kabupaten Pasaman dimekarkan pula. Kecamatan Koto yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Talamau masuk ke dalam wilayah Kabupaten Pasaman, sementara Kecamatan Talamau masuk Kabupaten Pasaman Barat.
“Kalau Anda benar-benar ingin mendapatkan fakta tegas tentang pemekaran Pasaman, ya, lihatlah Talamau. Kecamatannya dimekarkan, hasil pemekaran dan yang dimekarkan berada di kabupaten yang berbeda setelah mengalami pemekaran pula,” terang Dasril, kepala Seksi Pemerintahan pada Kantor Camat Talamau.
Meskipun telah dimekarkan karena kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan layanan terbaik dari pemerintah, namun secara potensi Kecamatan Talamau ternyata masih tetap luar biasa. Sayangnya, posisi geografisnya yang kini tidak setrategis tempo doeloe lagi, seiring dengan dibangunnya jalan lintas Simpangempat-Manggopoh, dianggap tidak menarik lagi bagi investor.
Menurut Dasril, dahulu Talu sebagai pusat kecamatan, punya posisi strategis. Letaknya berada di jalur utama yang menghubungkan Pasaman belahan barat dengan timur. “Hanya dengan melewati Talulah satu-satunya cara bagi orang di belahan barat untuk berkomunikasi ke luar. Tidak ada jalan lain,” ucapnya.
Menyadari kondisi Talu yang sudah tercecer itu, pihak kecamatan bersama elemen-elemen terkait kini tengah merumuskan konsep untuk menjadikan Talu sebagai pusat pariwisata dan kebudayaan di Pasaman Barat. Kendati baru pada tahap merumuskan konsep, namun Dasril optimis, bila memang konsisten untuk mewujudkannya, tidak tertutup kemungkinan, Talu akan memegang kunci yang cukup strategis juga bagi kemajuan Pasaman Barat di masa mendatang, sama pentingnya dengan masa penjajahan Belanda hingga awal 1980-an.
Walinagari Talu Hj. Ernawati secara implisit menyatakan dukungannya terhadap gagasan itu. Menurutnya, sebagai kawasan yang jadi pusat kebudayaan yang telah melahirkan banyak budayawan, baik yang berkiprah di Indonesia maupun di Malaysia, Talu memang pantas dikembangkan jadi pusat budaya dan pariwisata, terutama untuk Pasaman Barat.
“Di sini, masyarakatnya masih kuat menganut adat Minangkabau. Tidak ada seorang pun yang berani melanggar, karena sangsinya langsung diberikan masyarakat. Kalau ada anak kemenakan orang Talu yang bermukim di kota-kota besar, bila dia pulang kampung, harus diberi arahan tentang yang boleh dan tidak, baru bisa menampakkan diri ke orang banyak,” terang Ernawati, satu-satunya walinagari perempuan di Pasaman dan Barat.

Potret Talamau

Luas Kecamatan Talamau mencapai 739,20 kilometer bujur sangkar, membujur dari utara ke selatan dan menjorok ke Barat. Di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Duo Koto (Pasaman), di selatan berbatasan dengan Kecamatan Pasaman (Pasaman Barat), di barat dengan Kecamatan Gunung Tuleh (Pasaman Barat) dan di timur dengan Kecamatan Bonjol dan Kecamatan Lubuksikaping (Pasaman).
Saat ini, kecamatan yang berpusat di Talu itu dihuni sekitar 25.038 jiwa dengan rata-rata penduduk 31,3 jiwa/kilometer, tersebar di tiga nagari: Kajai, Talu dan Sinuruik.
Selain dikitari oleh pegunungan dan Bukit Barisan, Talamau juga dialiri banyak sungai, di antaranya Batang Sinuruik, Air Tinggam, Aia Kacang, Aia Pantiu, Aia Merunding, Talu, Rambai, Simpang, Timbo Abu, Limpato, Nango dan Batang Lampang.
Kalau kita mencermati peta kependudukannya, mayoritas penduduk Talamau adalah Minangkabau dengan suku-suku Jambak, Melayu, Koto, Tanjung, Caniago, Mandahiling, Sikumbang, dan lain-lain. Suku-suku itu dikelompokkan dalam tiga penghulu pucuk adat, yakni Tuanku Basa di Talu, Tuanku Nan Sati di Sinuruik dan Pangulu Nan Sapuluah di Kajai.
Kendati kalah gaung dibanding Kecamatan Kinali, Pasaman dan Sungai Aua di sektor perkebunan, namun Talamau ternyata sudah cukup maju juga di sektor ini.
Berdasarkan data yang dihimpun di kantor Kecamatan Talamau, saat ini terdapat 3.000 hektare kebun kopi arabica yang dikelola oleh PT Agro Sari Merapi di Tonang, Jorong Sungai Jernih. Selain itu, masih ada pula kebun sejenis seluas 500 hektar di kawasan tersebut yang dikelola oleh kelompok Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang bekerjasama dengan KUD, Bank Nagari dan PT Agro Sari Merapi selaku bapak angkat.
Di Kecamatan Talamau juga terdapat sekitar 500 hektar kebun kelapa sawit di Nagari Kajai. Di luar itu, kini tengah dipersiapkan pula perkebunan kelapa sawit di Jorong Lubuak Sariak, Kajai. Di Nagari Sinuruik terdapat pula sekitar 800 hektar perkebunan kakao yang dikelola Kelompok Tani Sinuruik Jaya bekerjasama dengan KUD Sinuruik.
“Selain perkebunan besar, ada juga perkebunan rakyat dengan komoditas berupa karet, kopi, gambir, casiavera, nilam, dan lain-lain,” terang Dasril.oMusriadi Musanif/JE Syawaldi CH

KECAMATAN TALAMAU
Luas           739,2 km2
Penduduk    25.058 jiwa
Nagari         Kajai, Talu, Sinuruik
Potensi       kopi, teh, kakao, karet

Blog Listings

Reply