Plakat Sawah, Bisakah Diaplikasikan ?

Oleh: F. Armen

Wacana panen padi 2 kali setahun di Talu-Sinuruik sebetulnya sudah pernah dicoba mulai tahun 70an. Bahkan petani dipaksa dibawah todongan senjata laras panjang tentara Komando Distrik. Sekarang justru diformalkan dalam sebuah Plakat Sawah. Tapi dalam pelaksanaannya justru tetap saja tidak seperti yang  diharapkan. Why??? Apakah masyarakatnya yang salah atau tidak  aware dengan Plakat ini atau bahkan mungkin instrumen kebijakannya sendirilah yang salah. Tulisan ini semata-mata dimaksudkan untuk memberikan evaluasi dan kajian rasional yang lebih jernih dan logis tanpa tendensi untuk mencari-cari kelemahan, apalagi membatalkan Plakat Sawah itu sendiri.

Dalam kerangka pikir sederhana, bila sebidang sawah menghasilkan XXX kombuik padi sekali panen, maka bila panennya 2 kali maka akan menghasilkan 2XXX kombuik padi. Bila diasumsikan masyarakat bersangkutan mendapatkan penghasilan hanya dari sawah, maka income-nya akan meningkat  100% (2 kali lipat) dibandingkan kalau hanya dikerjakan sekali setahun.   Konon katanya pemikiran inilah yang mendasari munculnya semacam kesepakatan resmi yang disebut sebagai Plakat Sawah tersebut. Plakat ini disepakati lalu disetujui dan diamini oleh semua perangkat adat maupun perangkat pemerintahan. Logika pikir semacam ini mungkin benar kalau kita menaruh asumsi semua sawah di Talu semuanya homogen.


Kenyataannya, di Talu-Sinuruik sawah memiliki heterogenitas yang sangat tinggi, dilihat dari sumber airnya, sawah di Talu_Sinuruik mulai dari sawah tadah hujan, sawah boncah baghayun, sawah aie bonda, sampai sawah kincia. Sawah tadah hujan jelas akan menunggu musim, sawah kincia butuh waktu, keahlian dan biaya ekstra untuk mulai turun ke sawah. Sehingga sangat tidak masuk akal kalau kita persamakan persiapannya dengan sawah aie bonda atau sawah bocah baghayun.

Petani sawah Talu-Sinuruik juga memiliki karakteristik berbeda, mulai dari petani pemilik sawah, petani panyasiah, sampai petani berbaju Korpri. Tapi yang paling menarik adalah heterogenitas dalam hal luas lahan garapan. Umumnya lahan yang digarap oleh satu keluarga petani sangat bervariasi mulai bangkitan 25 kombuik sampai 300an kombuik, sehingga berdasarkan luas garapan ini, sawah Talu-Sinuruik dapat dikelompokkan jadi 2 kelompok.

Pertama, sawah yang bangkitannya dibawah skala produksi ekonomis  (bangkitan < 300 kombuik). Sawah yang tergolong dalam kelompok ini sesungguhnya tidak pernah mencapai break even point. sehingga digolongkan sebagai pertanian “subsisten”. Artinya persawahan tersebut hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, belum sampai kepada kebutuhan untuk mengakumulasi capital (pendapatan). Pada level ini, bila kita memasukkan waktu dan upaya petani sebagai biaya tenaga kerja, maka total cost-nya akan selalu lebih besar daripada total revenue dari hasil panen.

Kelompok kedua adalah sawah dengan bangkitan ? 300 kombuik per KK. Sawah kelompok kedua ini sudah dapat dikategorikan sebagai sawah yang ditujukan untuk pengakumulasian modal. Petani dari kelompok inilah yang mampu mencicil sepeda motor, membeli parabola, merehab rumah, membayar uang kuliah anak, dll dari hasil sawahnya (total cost > total revenue).

Saya tertarik dengan pasal 2a Plakat sawah; “Pelaksanaan turun kesawah serentak pada setiap musim tanam diseluruh nagari Talu dan  nagari Sinuruik.” Terus terang saya pesimis. Rasa kepesimisan saya tersebut dapat dijelaskan dengan berbagai skenario berikut ini;

Bila kita mengasumsikan si A menggarap sawah dengan bangkitan 25 kombuik, pengolahan tanah sampai siap tanam membutuhkan waktu 1 minggu, maka si B yang menggarap sawah dengan bangkitan 300 kombuik dengan jumlah tenaga kerja yang sama akan membutuhkan waktu 300/25 minggu = 12 minggu, atau 3 bulan. Andaikan petani yang punya sawah bangkitan 25 kombuik tadi mulai mengolah tanah pada awal minggu ke 12, mungkin mereka bisa serentak menanam. Tapi ketika panen juga serentak, maka si B juga akan membutuhkan waktu lebih lama dalam memanen.

Ketika si A sudah mulai maopang tobek, lalu pergi bertukang ke Simpang Empat ataupun ke Pekanbaru, Si B masih sibuk mambumbo jo maaghai padi. Belum sudah borongan si A di Simpang Empat, waktu turun ke sawah sudah datang lagi…..

Sementara si B, belum lepas oghak lagi, sudah harus turun kesawah lagi supaya tetap serentak dengan petani yang lain. Apa kata si B? Matilah ken, padi den banyak lai, monga copek-copek na ka sawah. Sementara si C yang punya sawah tadah hujan mengatakan;  ndo tolok manggoga tanah ghongkah ru doh, paneh badongkang bontuak iko.

Sementara itu ada yang mengatakan mengatakan bisa jo nyo ru, asa omuah, tanpa pernah menyatakan detail teknisnya. Bisakah kesulitan teknis ini diatasi? Secara teoritis bisa dilakukan dengan menambah tenaga kerja atau modernisasi pengolahan. Tapi siapa yang akan menjamin bahwa tenaga kerja tambahan ini selalu tersedia? Anggota Kelompok Tani? Bagaimana kalau anggota kelompok tani juga punya sawah yang juga luas? Punya 2 atau 3 bidang sawah yang berbeda lokasi? Hampir pasti mereka tidak bersedia. Atau sebagian anggota yang lain justru baju Korpri mereka yang jadi halangan. Modernisasi….??? Sudah seringkali dicoba, gagal total. Bajak mesinnya itu hampir selalu terpuruk rodanya, bahkan sampai tidur pula di tengah sawah.

Kalau kita bertanya kepada semua petani di Talu-Sinuruik, saya jamin hampir semua setuju dengan wacana ke sawah 2 kali setahun. Lalu kenapa belum turun juga ke sawah? Mereka akan menjawab; dulu-dulu jo awak,  abih the dek monciknyo, kudian na bontuak itu lo.

Contoh di atas adalah fakta, bahwa pasal 2a Plakat Sawah hampir  mustahil untuk dilaksanakan karena menggunakan anggapan keliru. Hal yang paling parah menurut saya, Plakat sawah itu sendiri mencitrakan masyarakat petani itu sebagai masyarakat yang bodoh, tidak punya kesadaran memperbaiki pendapatannya sendiri, sehingga harus dipaksa.

Dari hasil survey dan wawancara singkat saya itu dapat disimpulkan bahwa core problemnya bukan kesadaran masyarakat. Tapi ketakutan terhadap hama tikus. Lantas kenapa instrumen kebijakannya bukan diarahkan untuk pembasmian tikus saja? Karena pada dasarnya petani kampuang ghitoh itu mau kok turun ke sawah 2 atau 3 kali setahun seperti di daerah lain. Tapi mereka takut tikus. Sekali lagi…….”Di daerah lain yang panennya 2-3 kali setahun itu juga tidak ada istilah “serentak turun ke sawah”.             Semoga tulisan singkat ini jadi bahan renungan kita bersama.

4 Comments

  1. Mak Uncu Reply
  2. Fakhni Armen Reply
  3. Armen Emdas Reply
  4. AL Miter Reply

Reply