Rang Rantau Tumpuan Harapan

Melanjutkan dan mengulas beberapa tanggapan dari dunsanak sado’e  terkait “Koma ka Batenggang” di Milis YRT :  sangatlah tepat apa yang dikemukakan oleh dunsanak kito Reswandri (Wen tuak Bosa) bahwa untuk mengurangi beban kesulitan ekonomi serta kondisi sosial saudara-saudara kita yang ada di Talu akibat terjadinya gagal panen (sawah dimakan moncik) serta kondisi alam yang tidak mendukung, solusinya adalah …… urang rantau jadi tumpuan harapan

Ketiadaan atau kekecewaan  terhadap himpitan masalah ekonomi bisa berakibat timbulnya gejolak masyarakat yang berujung pada tindak kekerasan. Kita tentunya berharap tidak terjadi hal sedemikian di kampung kita, sebagaimana terjadinya  aksi demo dan tindak anarkis yang dilakukan warga masyarakat Sasak di Simpang Empat minggu yang lalu. Menurut email dunsanak Musriadi Musanif kejadian demo tersebut bermula dari tuntutan pemberhentian oknum Wali Nagari Ranah Pasisia (Sasak) yang diduga melakukan tindak Korupsi terhadap dana bantuan Bencana Alam berupa bantuan uang tunai dan beras. Padahal keberadaan  bantuan itu sangat diharapkan sekali oleh masyarakat setempat mengingat kondisi alam yang tidak bersahabat (gelombang ombak besar) dimana nelayan tidak bisa melaut yang dengan sendirinya mengakibatkan terputusnya sumber utama penghasilan mereka.

Kembali kepada solusi “urang rantau jadi tumpuan harapan” saya mencoba mengutip berita Kompas hari ini 28 Maret 2008 dengan judul “ Negara Gagal Berdayakan Masyarakat” antara lain ditulis : …. Desentralisasi yang diterapkan pemerintah belum mampu memberdayakan komunitas lokal untuk terciptanya daya dukung sosial yang lebih baik, padahal komunitas yang kuat merupakan jaring pengaman sosial yang efektif (B. Herry Priyono, ahli filsafat)..

Dalam kondisi beban masyarakat yang sangat berat, komunitas lokal sesungguhnya menjadi tumpuan, apalagi sa’at ini sepertinya orang sudah kehilangan harapan dan tempat mencari bantuan sehingga memilih penyelesaian masalah sendiri dalam keputus-asaannya. Karena itu, mengoptimalkan peran komunitas lokal sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Dunsanak Rang Talu,

Komunitas lokal yang dimaksud dalam tulisan tersebut dicontohkan antara lain kelompok-kelompok pengajian (Majelis Taklim). Tetapi sebenarnya dalam kehidupan masyarakat di kampung kita seperti kelompok Ninik Mamak (Datuk dan Penghulu), organisasi pemuda dan kelompok lainnya juga dapat berperan sebagai komunitas lokal, bahkan komunitas warga perantau yang bersifat kedaerahan juga dapat disebut sebagai bagian komunitas lokal dari daerah asalnya.

Akhirnya, sa’at ini sebagaimana telah kita ketahui bersama khususnya tentang keberadaan kondisi sosial dan ekonomi sebagian dari warga masyarakat dikampung kita yang sumber penghidupannya hanya sebagai petani sangatlah memprihatinkan dan tentunya perlu mendapatkan perhatian serta kepedulian dari urang rantau yang kebetulan hidup berkecukupan serta memperoleh rezeki lebih  dari Allah SWT.

Urang rantau yang dimaksud bisa secara individu (pribadi) maupun melalui Komunitas Warga Perantau dalam hal ini IKT-Jakarta serta ikatan keluarga Talu lainnya yang ada dibeberapa kota di tanah air tercinta. Dengan harapan tentunya dapat menyisihkan sebagian dari rezekinya guna meringankan beban dunsanak kita yang belum beruntung dan mengalami kesulitan hidup minimal memberi bantuan terhadap biaya pendidikan *) anak-anaknya agar menjadi generasi penerus yang berkualitas dan beriman.

…… “ Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang yang meminta dan orang yang tidak meminta” ( Al-Ma’arij, 24-25)

Diambil Dari Milis Yoo,RangTALU kiriman ds_alies@yahoo.com

Salam,  sampai ketemu dalam acara IKT-Jakarta Duduak Basamo 30/3/08

Reply