Tetesan Darah Kakakku, Jadi Saksi Jatuhnya Bom Belanda Di Talu

Oleh: Mardinal Marahudin

Usianya sekarang sudah menginjak 86 tahun, namun Subhanallah ia masih diberkahi oleh Allah Subhanawataala kesehatan dan jalan pikiran yang jernih, masih jauh dari pikun, seperti banyak lansia yang umurnya jauh lebih muda dari beliau. Malah pada Hari Raya Idul Adha 2010 yang lalu, beliau masih sempat melancong ke Jakarta untuk menemui kami adik-adik, anak-anak, cucu dan cicit nya… Sungguh merupakan suatu kebahagiaan yang tak dapat di nilai dengan apapun, bagi keluarga besar kami, adik-adik, anak, cucu dan cicitnya di Jakarta, dapat berkumpul, bercanda serta bermanja dengan beliau.

Syukur Alhamdulillah selain masih sehat secara fisik, Allah juga masih memberikan ingatan yang masih kuat dan jalan pikiran yang masih terang. Canda dan senda guraunya masih tetap seperti yang dulu dulu, malah beliau masih fasih membaca ayat suci Alqur’an setiap habis sholat. “Dialah Kakak yang kami sayangi,….Uni Rosmanidar Miter”…yang sehari-harinya berdomisili di kota ecil tempat kelahiran ku, yaitu Talu…

Suatu ketika, …tat kala aku sedang bersimpuh didekat kakinya, …pikiran Ku melayang jauh ke belakang sekitar 60 tahun yang lalu. Dimana ,….pada saat peristiwa jatuh nya bom tentara Belanda di negeri Talu,….karena mereka ingin untuk menjajah Indonesia kembali. Masih jernih dalam ingatan ku hari kejadian tersebut, tiba-tiba langit diatas negeri Talu yang merupakan kancah tersebut, bergemuruh, dideru oleh 3 buah pesawat mustang tentara Belanda. Seluruh penduduk negeri berhamburan keluar rumah, kucar kacir lari terbirit birit mencari tempat perlindungan.

Aku,…dan kakak-ku tersebut berikut saudara lainnya, bergabung bersama tetangga dan bersembunyi dibawah kolong sebuah rumah yang tempatnya sedikit layak untuk tempat berlindung, yaitu rumah uni Sehan Rajab. Kamipun bertumpuk dan saling berhimpitan sembari tak putus putus nya menyebut nama Tuhan….

”Boommmm !!!  Doorrr..!    Doeerrr ….!!”

Tiba tiba terdengar suara tembakan yang dahsyat diiringi suara senapan mesin yang dimuntahan secara membabi buta. Tak akan pernah bisa ku lupakan bagaimana takutnya perasaanku pada waktu itu, ….di alam pikiranku yang baru ber umur 5 tahun,… Perasaan ku pada waktu itu,”… inilah yang dinamakan dunia kiamat..!”

Dalam keadaan suasana panik dan berdesak-desakan tersebut, tiba tiba kakak perempuanku tersebut berteriak, “..Ya Allah ba’a kaki awak ko…??!!,” sambil beliau merintih kesakitan minta tolong, apa lagi beliau dalam keadaan hamil tua….
Kami yang lain pun berteriak histeris, tat kala melihat tumit kaki beliau yang hampir putus, hanya di tahan oleh kulit saja serta darah berceceran kemana-mana. Kepanikan kamipun bertambah, karena melihat masih ada 2 orang lagi yang kena tembak peluru dibahagian kaki dan pahanya, yaitu anak Kepala Polisi serta Ibu Anyer, isteri seorang Polisi…

Untunglah Pesawat tempur Belanda tersebut kemudian pergi menghilang di balik bukit, dengan meninggalkan korban beberapa orang, serta rumah-rumah yang hancur lebur. Setelah keadaan dinyatakan aman oleh Polisi, maka semua penduduk Talu pun mulai keluar dari tempat perlindungannya.  Tak lama kemudian.., petugas kesehatan pun datang, lalu kami diamankan ke Solok, sebuah kampung kecil terletak di pinggir nagari Talu. Kakak Perempuan ku beserta korban lainnya dirawat di sebuah surau kecil, yang letaknya tida jauh dari jalan kampung… Di Surau kecil itulah kami tinggal sementara waktu bersama ibu dan kakak perempuan lainnya, untuk merawat kakakku serta aku sendiri yang masih kecil. Sedangkan Ibunda kami, pagi-pagi sudah pergi keluar-masuk kampung membawa barang apa saja yang dapat di tukar dengan beras. Tiada lagi yang lebih berharga pada waktu itu,…selain beras… Pada waktu itulah aku merasakan .., bagaimana laparnya perut, karena makan hanya satu kali se hari, paling pengganjal yang lain hanyalah singkong rebus yang dimakan dengan garam saja.

Dan ditempat pengungsian itu pulalah kakak ku tersebut melahirkan seorang anak perempuan bernama Lisda, yang sekarang sudah pensiun dari Kepala SD Negeri 2 Talu. Dan sekarang, Lisda pulalah yang menjaga dan merawat ibunya (kakak kami) dikampung halaman, Talu.

Sejenak saya terpana,………….dan sadar dari lamunan,…. Rupanya saya masih bersimpuh didekat kaki kakak ku tersebut. Dengan mata yang berkaca kaca saya paksakan sedikit bercanda sambil meraba kaki beliau dan bertanya, “..Ni, mana kaki uni yang tertembak waktu bom jatuh di Talu dulu..?,”. Beliau pun tertawa lirih.., “Wah,… ternyata kamu masih ingat ya Nang, peristiwa tersebut ? Pada hal kamu masih berumur 5 tahun pada waktu kejadian tersebut”, selorohnya.
Allah huakbar,…..luar biasa ingatan Uni-ku yang sudah berumur 86 tahun ini…
”Iya lah Ni.., tak mungkin akan terlupakan ..,” suara ku terhenti… Sembari merangkul beliau,…ku cium pipinya, akhir nya mata yang berkaca-kaca tadi berubah menjadi tetesan yang bergulir perlahan membasahi pipiku, sambil aku berucap, “Tak disangka ya Ni.., begitu cepatnya waktu berlalu. Tak terasa sudah 60 tahun saja kejadian tersebut berlalu… Dan sekarang kita semua masih sempat berkumpul dan Uni,…masih sehat wal’afiat. Sungguh kimat pemberian Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam hati Aku bergumam,….”Bagiku Uni adalah pahlawan kami,…..Mungkin juga bagi Nusa dan Bangsa. Doa kami adik-adik, anak-cucu dan cicit selalu mengiringimu kakak-ku… Sayang………………………….”

7 Comments

  1. Nuzlan.AR (Gogo) Reply
    • Al Miter Reply
    • Nuzlan.AR Reply
  2. Al Miter Reply
  3. Armen Emdas Reply
  4. Babe Derwan Reply
    • it Rustam Reply

Reply