Banyak Gadih Buntiang dilua Nikah

Oleh : Babe Derwan

Catatan Dari Sebuah Status

stop“Facebooker” Sandi Saputra menumpahkan kegundahannya tentang situasi sosial kampung halamanya kini, Ia kesal, bahkan boleh jadi juga marah. Cobalah simak statusnya pada Group Facebook Rang Talu Community, hari Sabtu, 30 April 2011, pukul 10.40 ; ” lah maghosai ditolu kinin sanak,aghi pangujan,manakiak lah payah,sawah ngan baghu ditanam dialuik aie godang,bukik paghoman lah banyak ngan ghotak,iko dek ulah ughang ngan banyak mangaghojoan tah apo-apo ditolu. lah banyak anak gadih buntiang dilua nikah,lai dg laki ughang,lai jo dg ayah kanduang e. io lah kacau tolu kinin. oi niniak mamak tolong lah jago anak jo kamanakan buak,jan dipalopehan jo malala malam-malam,beko ghombuang poghuik e ru………(dek masuak angin nyo)…he.e.e.e.e.e.”

Tapi kasihan Sandi. Ia boleh jadi cuma marah dan gusar sendiri. Cuma dia yang  peduli. Setidaknya itu bisa dilihat, dari sekian banyaknya anggota group, cuma dua orang yang coment. Yang lainnya cuek. sepertinya lebih tertarik memberi coment pada status yang ecek-ecek. Padahal issu yang diangkat Sandi Saputra ini bukan lagi soal sepele, yang harus dicari kebenarannya, dan kalau memang benar harus kita kaji kenapa masyarakat kampung kita sudah sedemikian “sakitnya”. Agaknya ini jauh lebih penting ketimbang memperdebatkan uang 1 milyar yang akan dikucurkan Pemda Pasbar kepada para wali nagari.

Cobalah simak: “… lah banyak anak gadih buntiang dilua nikah, lai dengan laki ughang, lai jo dengan ayah kanduang ‘e…” (Sudah “banyak”  anak gadis hamil diluar nikah, ada yang dengan suami orang,. ada pula dengan ayah kandungnya…). Kata ” banyak”  sengaja diberi tanda kutip, karena ini menunjukkan bahwa kasusnya bukan cuma satu kali dua kali, tapi sudah sering. Lebih kacau lagi, itu  bukan dilakukan dengan pacar, tapi dengan suami orang, bahkan dengan ayah kandungnya. Nauzibillah… sudah demikian rusaknya moral di kampung kita?

“…oi niniak mamak tolong lah jago anak jo kamanakan buak, jan dipalopehan jo malala malam-malam, beko ghombuang poghuik e ru…”

Ungkapan ini boleh jadi menunjukan bahwa para mamak sudah tak peduli terhadap kemenakan. Atau kemanakan yang sudah tidak  menghargai

menghormati mamak? Kalau sudah begini, apalagi maknanya ungkapan yang mengatakan: anak dipangku kamanakan dibimbiang?

Padahal setahu penulis, baik selama tinggal di kampung maupun di rantau, sosok seorang mamak  bagi kemanakan sangat dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Karena bukankah peran seorang mamak dalam suatu keluarga mendapat porsi tersendiri. Dan karena itu pula,bila seorang kemanakan membuat aib, maka aib itu bukan cuma beban orang tuanya tapi juga menjadi beban mamak2nya.

Setahu penulis, di daerah minang lainnya, bila ada anak-cucu-kemanakan yang diketahui berbuat aib — tidak senonoh — bukan cuma menjadi aib keluarga tapi juga menjadi aib orang kampung, biasanya diberikan sanksi adat. Sanksi itu bisa berupa dikeluarkan dari adat, artinya sudah tidak dilibatkan dari setiap kegiatan adat-istiadat. Bahkan, lebih keras dari itu, diusir keluar kampung.

Apakah sanksi seperti ini diberlakukan juga di kampung kita, Talu? Wallahu’alam…

Diberlakukan atautidak, dan juga– entah ada kaitannya atau tidak —  yang jelas alam telah murka.Celakanya,  bukan cuma menimpa pelaku aib, tapi juga dirasakan oleh orang sekampung. Setidaknya itulah anggapanSandi Saputra dalam statusnya itu;

“… lah maghosai di Tolu kinin sanak, manakiak lah payah, sawah ngan baghu ditanam

dialuik aie godang, bukik paghoman lah banyak ngan ghotak, iko dek ulah ughang ngan banyak mangaghojoan tah apo-apo di Tolu…”

Benar atau tidak ada kaitannya. Yang jelas Tuhan telah menjatuhkan sanksinya lewat alam. Lantas, akan kah kita abaikankan  kasus

seperti ini. Apakah kita tunggu sanksi lebih dahsyat lagi dari Tuhan misalnya — seperti gempa yang meluluh lantakan kota Padang —
atau tsunami di Aceh,  dan di Jepang baru-baru ini? Lalu baru kita semuanya sadar?

Subhanallah… Semoga Allah Ta’ala mengampuni, Amin

Sekali lagi , ini Cuma catatan dari sebuah status di jejaring social Facebook, yang masih perlu dicari kebenarannya. Semoga saja Sandi Saputra tidak Cuma sekedar menciptakan issu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalaulah Sandi hanya asal membuat status (dalam arti mengada-ada), tentulah dia harus bertanggung jawab dihadapan para niniak-mamak.

Semoga saja Sandi mengungkap kasus dengan fakta, tidak asal membuat status. Sementara bagi penulis, terlepas issu atau fakta, tapi ini sesuatu yang patut jadi perhatian dan tidak terabaikan. (Babe Derwan) (Foto : https://miauideologis.blogspot.com)

7 COMMENTS

  1. Prihatin memang. Terlepas dari sejauh mana kebenaran dari status FB yang di ulas Baber Derwan di atas, agaknya kita semua patut untuk khawatir. Khawatir akan fenomena degradasi moral (yang sesungguhnya bukan hanya terjadi di kampung kita). Perbuatan a-susila bukanlah satu2nya penyalit moral. Penyakit moral dapat diibaratkan virus utama yang memiliki sifat tipikal inti atom, yang dalam rekasinya dapat pecah menjadi virus2 lainnya. Virus2 tsb terus berkemang dan menjalar kesemua lini kehidupan masyarakat, masuk kedalam jajaran pemerintah, tumbuh subur di ruangan dewan rakyat bahkan menggerogoti sebagian praktisi agama. Subhanallah.
    Namun alangkah baiknya sanak Sandi SAputra juga memberi klarifikasi di sini atas statusnya tsb. Sekalipun tidak memuat data-data kapan dan dimana itu terjadi, pling tidak Sandi bisa menyebutkan berapa kali yg ia tau persis kejadia tsb. Semoga ini jadi pembelajaran kita bersama. Wallahualam

    • Pada status FB nya itu, Sandi Saputra sudah diminta agar ia memberi tanggapan pada tulisan ini.
      Tapi nampaknya Sandi blom sempat berkunjung ke rangtalu.net. Mungkin Sandi masih mencari
      tambahan data untuk melengkapi statusnya yang mengejutkan ini. Semoga!!!!

  2. Bahwasanya masalah moral adalah penting. Itu benar. Tapi apakah ketidakbermoralan  si A lebih penting ketimbang hajat hidup orang banyak, tergantung dari perspektif dan domain mana kita membuat penilaian. Bagi saya pribadi , peristiwa tersebut alangkah baiknya bila dijadikan titik pijak oleh KAN, Wali Nagari, dan unsur terkait lainnya untuk merancang program kerja/kegiatan implementatif agar masuk sebagai bagian dari dana  1 Milyar tersebut..Bukankah visi bupati adalah membangun Pasaman Barat dalam tadah agama. Linier kan dengan masalah moralitas di atas? Hal ini bisa saja menjadi urgen karena yang disebut pembangunan itu sendiri jelas bukan hanya pembangunan fisik. Pembangunan manusia adalah pondasi untuk semua pembangunan apapun……..bukankah begitu, Babe Derwan??

    • 100% oke Kawan! Memang itu yang dimaksudkan ; pemecahannya. Semoga uang 1milyar
      bisa memperkokoh pondasi masyarakat kita, membangun dan berkarya dengan landasan iman 
      dan taqwa. Amin.

  3. Adinda Der & dunsanak sado’e : dalam catatan di ateha memang “indo manunjuak iduang tapi olah tampak pungguang” . Dengan manyobuik kato2 “laki ughang, ayah kanduang” apolagi lai kato “lah banyak”, akan mambuek ughang manjadi panasaran untuak mancaghi tau, apobilo aib ro sampai katauan tontu bisa ghewak dan mambuek malu nan basangkutan, keluarga, kampuang bahkan nagori/urang talu.
    Saghancak’e (elok & santun) koba baghito ro disampaikan dengan kalimat “mungkin (buliah jadi) musibah nan tajadi dikampuang dek ulah/perbuatan segelintir (oknum) nan batindak dilua bateh norma2 adaik dan malangga ajaran agamo samisal pergaulan bebas anak mudo, narkoba, miras, berzinah, melahirkan tanpa nikah, dll”. …atau dengan kalimat Apakah ini akibat ulah/ perbuatan ….dst.nya.
    Untuak antisipasi siko kateh, bukan hanyo imbauan ka niniak mamak, maagiah hukuman (sanksi), tapi nan pontiang adolah kapadulian dan pangawasan lansuang daghi ughang gaek (ayah/umak) tahadok prilaku/pergaulan anak2 usia remaja. Salain itu, parolu dipabanyak usaho pandidikan moral/akhlak dilingkungan keluarga tamasuak baghaja mangaji sajak anak2 masih kociak (papaja).
    Terakhir, dalam mambuek tulisan, status maupun komentar apokah itu di FB, YM, Twitter dll, kok dapek jang sampai kitoh mambukak aib ughang lain, maadu domba atau manyampaikan kato2 nan jauah daghi sopan jo santun, abih raso jo pareso.

  4. Mananggapi tulisan Babe Derwan : “…dari sekian banyaknya anggota group, cuma dua orang yang coment” ( status Sandi Saputra di grup FB Rang Talu Community).
    Bukan ndo paduli tapi kami takuik badoso tasobauk Ghibah (bagunjiang) atau mambukak aib ughang lain. Sabagai pidoman, Allah berfirman : “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang di aniaya/ter-aniaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ : 148). Salain itu, dalam firman Allah nan lain (Al-Hujurat: 12) dijolehan bahaso mambukak aib sasamo muslim (ughang lain) adolah doso godang dan di ujuang ayaik ro lai pulo larangan : …..janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya….dst.nya

    Wassalam.

    • Satuju Da! Kita juga ogah membuka aib orang. Dosa memang! Tapi si Sandi Saputra kan
      tidak membuka aib orang. Dia juga nggak manunjuak hidung. Yang diangkatnya kondisi sosial di Tolu.
      saat ini. Ini soal moral, Da. Bukan soal aib.Cubo bayangkan, ndok paduli laki urang gai lai, bahkan ayah kandung. Mau jadi apa kampung kita? Apa kita cuek aja?

      Itu dengan catatan, kalo yang disinyalir Sandi Saputra itu benar. Kalo tidak, Sandi Saputra tentu tahu
      konsekwensinya membuat status yang tidak bertanggunng jawab. Paling tidak menjadi pelajaran agar tidak asal membuat status.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here