Busway Masuk Kota Padang

13
173

Oleh : AL Miter

Sistem transportasi bus rapid transportation (BRT) atau biasa lebih dikenal dengan busway dinilai cukup sukses menjadi salah satu jawaban untuk mengurangi kemacetan di kota-kota besar. Dianggap sukses di DKI Jakarta dan beberapa kota lain di pulau Jawa, Kemenhub mulai melirik kota-kota di daerah di luar Jawa.

Sebagaimana diungkap oleh Bambang Supriyadi Ervan, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub, tahun 2011 ini busway akan diterapkan di 3 kota. Kota-kota tsb adalah Surabaya, Makasar dan Padang, seperti dilansir oleh Kompas.Com.

“BRT ini diharapkan bisa mengantisipasi kemacetan kota-kota di Indonesia pada masa mendatang. Setelah ada di sebuah kota, sistem ini akan terus dikembangkan,” kata Bambang di Jakarta (Kompas.Com)

Dari satu sisi, pengoperasian busway di Jakarta agaknya sudah mulai dirasakan manfaatnya sebagai transportasi massal, paling tidak oleh masyarakat penggunanya. Terutama dari sisi tarif yang relative terjangkau dibanding jarak tempuh, yang bisa transit dari satu koridor ke koridor lain dengan satu tiket. Juga dari sisi waktu yang secara umum lebih cepat ketimbang naik bus regular, meski sekali-sekali masih suka terjadi ‘gangguan’ yang bisa-bisa menyebabkan busway lebih lama dari bus biasa.

Namun keberadaan busway ini bukan tidak meninggalkan masaalah lain. “Pencaplokan” jalur jalan raya yang sudah ada sebagai jalur khusus yang hanya boleh dilewati oleh busway, paling tidak telah mengurangi kapasitas jalan tersebut. Hal ini tentu justru dapat menyebabkan macet yang makin parah diluar jalur busway. Bayangkan jalan yang tadinya 3 jalur saja sudah sering macet, sekarang tinggal 2 jalur sementara jumlah kendaraan cenderung bertambah.

Selain itu, angkutan umum lain yang tadinya melayani rute yang sama, tentu harus dicarikan rute lain atau solusi tertentu jika tidak ingin muncul masaalah baru dengan pengusaha angkutan umum tsb berikut sopir dan keneknya yang terancam sumber penghasilannya.

Pertanyaannya sekarang, apakah kota Padang termasuk kota yang tingkat kemacetannya sudah amat parah sehingga keberadaan busway sudah begitu mendesaknya ?  Apakah jalan raya di Kota Padang sama lebarnya dengan jala raya di Jakarta, yang jika satu jalur digunakan khusus untuk busway dan sisanya masih cukup untuk kendaraan lainnya ?  Apakah rasio perbandingan jumlah penduduk dengan ketersediaan angkutan umum Kota Padang sudah tidak memadai sehingga diperlukan busway sebagai jalan keluar ? Apakah masyarakat Kota Padang sudah merasakan kekurangan dengan angkutan perkotaan yang ada sekarang ?

Jika semua jawabannya “ya”, bolehlah dipertimbangkan. Namun mengingat pengadaan dan pengoperasian busway tsb akan memerlukan biaya yang cukup besar, tentu tetap diperlukan penelitian atau kajian secara akademis / ilmiah sebelum lahir rekomendasi atau indikasi kebutuhan perlunya pembangunan busway di Kota Padang.

Yang pasti, Padang tidaklah sama dengan Jakarta. Permasaalahan transportasi di Jakarta jelas tidak sama dengan masaalah transportasi di Padang. Lantas apa gerangan yang membuat busway yang dianggap jadi solusi transportasi umum di Jakarta juga akan jadi solusi di Padang. Bukan berarti tidak setuju atau anti busway di Kota Padang, namun perlu ada kajian dan penjelasan kepada masyarakat, kenapa Padang dianggap sudah membutuhkan busway. Terus berapa anggaran yang diperlukan, baik untuk membangun infrastruktur maupun pengadaan busnya. Lalu sumber dananya dari mana, apakah dibiayai pemerintah pusat (melalui Kemenhub) atau oleh Pemda Kota Padang, atau sharing ? Atau sepenuhnya diserahkan ke swasta ?

Agaknya terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab sebelum realisasi rencana tsb. Sedangkan pertanyaan yang memerlukan jawaban pembaca sekalian, terutama kepada dunsanak yang berdomisili di Kota Padang, hanya satu,” Setujukah anda pengoperasian busway di Kota Padang mulai 2011 ini ?”

13 COMMENTS

  1. kalo menilik perkembangan kota pada kita berpikir melalui analisa yang pendek, kelhatannya padang belum butuh yang namanya busway>>>

  2. Pak It, please cek dulu link yg Eed kirim di atas, justru info dari link itu kota pekanbaru justru yang pertama ada busway dan jakarta justru baru ada setelah pekanbaru .. 🙂

  3. Wah ada Pak It, bakal seru nih … dapet info dari temen2 di Dunia Maya justru katanya Busway itu launching pertama kali di Pekanbaru bukan di Jakarta ?

    Ada yang bisa klarifikasi info ini bener atau nggak ya ? …

  4. Meski tidak disebutkan secara eksplisit, dari tulisan jelas penulis termasuk yg tidak setuju 2011 Busway masuk Padang. Sebab belum dirasa perlu kebutuhannya. Saat ini justru masih banyak hal lain yg harus di benahi di Kota Padang apalagi setelah ‘hancur’ oleh gempa.
    Terakhir ke Padang, justru banyak terlihat angkot2 KOSONG kesusahan mencari penumpang…. lah kalo ada busway ?

    • Setelah saya membaca dari uraian diatas, bukan hanya surabaya,makasar dan padang. Malah sekarang di Kota Pekanbaru Busway sudah beroperasi dengan baik, berarti sebelum Kemenhub menerapkan akan diakakan ke 3 kota tersebut diatas. Kota Pekan baru sudah duluan beroperasinya Busway, jadi dialah Pekanbaru adalah Kota kedua Beroperasinya Setelah DKI.

      Kalau basway itu dipergunakan/diooperasikan di padang…,bilamana juga dibutuhkan dan masyarakatnya mau menerima itu sih boleh aja.asalakan tidak merenggut keuntungan pribadi, golongan atau pun jajarannya boleh2 aja. Ini kan cuma sekedar alasan/coment dari saya,dan tidak lah mutlak untuk diterima. mungkin lebih banyak lagi pendapat serta alasan dari pembaca (atau sanak2 nan lain e) yang lebih efektif.
      O ya…, kalo dilihat banyak kosongnya angkot tersebut, mungkin saja penulis melihat kebetulan setelah lepas jam sibukkali ya…??. yaaa kebetulan belakangan ini ..,yaaa adalah beberapa kali kepadang,itu disaat jam sibuk itu (Pagi&sore) konsumen transporasi tersebut penuh/banyak bahkan juga ada macet, terutama di daerah airtawar, simpang haru, bahkan jalur jati – alai – lapai hingga menuju siteba jga sudah
      ramai, termasuk penumpangnya , seperti yang tadi saya katakan kalau dijam-jam sibuk. Namun kita juga berharap kepada pemerintah, instansi, atau pun lembga lainnya termasuk pengelola pihak swasta mudah- mudahan dapat memikirkanya yang lebih efisien.

      • Tengs atas share infonya sanak It, baru tahu juga kalo di Pk Baru sudah ada busway (kok ngga ada di media nasional ya..? apa kita yg kurang ngikutin kali ya).
        Bisa saja betul sanak It Rustam tentang kejadian angkot yg banyak kosong seitar jam kurang sibuk. Dan pada jam sibuk angkot/bis penuh2 itu tentu normal, dimana2 juga demikian. Pada jam2 pergi/pulang kerja biasa jg terjadi macet di beberapa titik keramaian/sekolah/pasar hampir di seluruh kota. Masaalahnya, busway tentu tidak hanya utuk mengatasi macet pagi dan sore. Di Jakarta, macet itu hampir tidak mengenal pagi dan sore atau jam masuk/pulang kerja. Tidak ada yg bisa memprediksi jalan tertentu tidak macet, meski bukan jam sibuk, bahkan hari Sabtu/Miggu sekalipun. Tetapi jam pergi/pilang kerja itu PASTI macet dan LEBIH macet dari jam tidak sibuk. Sbg contoh, sekitar jam istirahat siang (jam 11 ~ 13) jgn coba2 lewat jalur cepat di sekitar Sudirman-Thamrin-Rasuna Said, biasnya ruas jalan ini selalu macet jam segitu. Tapi Sorenya LEBIH macet lagi.
        Dan situasi ini sperti hampir sudah merata di JABODETABEK dan sudah menahun. Sehingga transportasi umum/massal di Jakarta sekitar memang HARUS ada jalan keluar, dan Busway adalah salah satu diantaranya.
        Kembali ke kondisi dan kebutuhan kota Padang, mohon di catat penulis termasuk yg tidak setuju TAHUN 2011 ini busway diadakan di Padang, entah kalau 2015, 16 dan mudah2an tidak perlu. Rasanya saat ini masih banyak hal lain yg betul2 sangat perlu PERHATIAN pemerintah daerah maupun PUSAT, khususnya ANTISIPASI terhadap karekater geografi Padang yg rentan dan berpotensi mengalami gempa bahkan tsunami. Apalagi sejauh ini belum (maaf kalo pernah terlewatkan) ada terdengar kajian, penelitian tentang hal ini. Sekalian juga mau tanya ke sanak2 yg domisili di Padang, apakah selama ini sudah ada sosialisasi atau seminar umum atau melibatkan pihak akademisi/universitas setempat.
        HAl mendasar yg publik perlu tahu jika program ini akan dijalankan adalah : apakah dananya dari APBD setempat atau dari APBN, atau gabungan keduanya dan masing2 berapa persen ? Lalu pihak man yg akan mengoperasikan, apakah Pemkot langsung bersama dishub setempat, atau menyerahkan pihak swasta. Swastanya juga harus jelas dan perusahaan yg sudah pengalaman di bidang transportasi.
        Jgn sampai swastanya perusahaan dari Jakarta, apalagi “mereka2” jg yg punya perusahaan atau modal.
        Ini bukan pemikiran skeptis dan penuh curiga, tapi masyarakat punya hak dan perlu mengetahui. Jangan sampai ada pihak gembar-gembor membuat program seolah membangun untuk kemajuan/kesejahteraan rakyat, taunya pihak tertentu mengambil keuntungan untuk pribadi maupun golongan. Semoga yg terakhir ini salah…,
        Pokonya, Padang is Kota Tercinta…

      • Hahahaha Ondaaaaiiik sanak , bapupuah teh samangaik replay e.?? omuah basideguih bagai…hihihihihihi, tapi di sughuah mamiliah.. dan agiah alasan..???,moh kalo indo efisien gghasoe doh?? jang di taghimo, kan lah aghiu kecek an…. jawaban ghu ro mutlak doooohh, mungkin lobiah banyak lojawaban pembaco nan lain yang lobiah bagus lai.., jadi bpilihan aghu cako digonjue baliiiiaaakkk, … omuah sighah gai muko ro mpak e,.. hahahahahahahaha,
        Namun demikian Saya bangga terhadap terhadap konsisten, ketegasan dan semangat anda.

      • Ralat:
        Maksud aghu..,” jawaban ghu ro ndo mutlak doh” (ujung baris ke 3 dan awal bariske 4).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here