Plakat Sawah

KESEPAKATAN NAGARI TALU DAN SINURUIK

KECAMATAN TALAMAU

Nagari Talu dan Nagari Sinurut adalah 2 dari 3 nagari di Kecamatan Talamau Kabupaten Pasaman Barat.  Terletak dikaki gunung Talamau, Ophir dan Pasaman. Letak geografis Talu dipinggir timur Pasaman Barat, tidak terletak dilintas ekonomi , menyebabkan kurang mendapat perhatian. Dibanding dengan kota2 kecil lainnya di Pasaman, Talu sekarang ini sudah tertinggal. Padahal jika kita lihat kebelakang, Talu jauh lebih maju dari yang lainnya. Beberapa indikator yang menggambarkan kemajuan tersebut adalah adanya Rumah Sakit dengan dokternya dan waterleiding di Talu pada tahun 20-an. Pada awal kemerdekaan sampai tahun 80-an berdiri sekolah2 untuk memenuhi kebutuhan SDM yang mendesak.  Talu menampung murid2 dari seluruh kabupaten. Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda. Sudah sangat sedikit murid dari kecamatan lain, Warga Pasaman barat jika mau ke Padang atau ke Bukittinggi tidak lagi melalui Talu. Lama2 nama Talu tidak familiar lagi ditelinga masyarakat Pasaman dan Pasaman Barat.

Dibalik semua itu, yang sangat merisaukan adalah angka kemiskinan yang tinggi dibanding daerah lain. Beras miskin yang dialokasikan ke Talu selalu tidak mencukupi.

Sementara itu masyarakat Talu belum mengolah sawahnya secara maksimal untuk peningkatan ekonominya. Kebun karet yang dulu sangat menunjang ekonomi masyarakat tidak diremajakan kembali sehingga tidak ekonomis lagi. Kebun kulit manis (casiavera) dulu menjadi hiasan bukit disekitar Talu, sekarang hampir tidak kelihatan . Pemerintah, tokoh masyarakat dikampung dan dirantau sangat risau dan berbagai uapaya dilakukan untuk meningkatkan ekonomi Talu, namun belum berhasil.

Memasuki pertengahan tahun 2008 sudah mulai terlihat tanda2 awal terjadinya perubahan di Talu, berupa kegiatan2 dan kesepakatan2 untuk membangun Talu. Diantaranya diawali dengan Penobatan Pucuak Adaik Nagari Talu bulan July 2007, dimana Tuanku Bosa XIV dalam pidato  adatnya mengajak anak Nagari Talu menyingsingkan lengan baju untuk membangun.

Koperasi Syariah Talu telah dapat membina dan mengembangkan hampir seratusan industri Rumah Tangga, kacang , kerupuk, kopi dll. Dalam usianya yg baru satu tahun, Koperasi Syariah sudah memperoleh akreditasi A di kabupaten Pasaman Barat. Dalam pertemuan sosialisasi pemberantasan hama tikus di kantor camat Talamau tgl 11 Mei 2008 y.l, Tuanku Bosa XIV mengajak niniak mamak Talu dan Sinuruik untuk merancang PLAKAT SAWAH untuk menyepakati turun kesawah serentak dan mengolah sawah 2 s/d 3 kali setahun. Gayuang basambuik-kato bajawek, niniak mamak Sinuruik setuju dan menerima dengan tangan terbuka. Camat dan dinas Pertanian Kabupaten Pasaman Barat menyatakan akan membantu dan mendukung sepenuhnya.

Plakat sawah terdiri dari beberapa pasal antara lain:

<!–[if !supportLists]–>1.       <!–[endif]–>Musim tanam akhir tahun 2008 turun kesawah serentak bulan November.

<!–[if !supportLists]–>2.       <!–[endif]–>Sawah diolah minimal dua kali setahun.

<!–[if !supportLists]–>3.       <!–[endif]–>Semua petani harus bergabung dalam kelompok tani.

<!–[if !supportLists]–>4.       <!–[endif]–>Organisasi POK TANI sebagai pelaksana operasional Plakat sawah.

Camat beserta unsur muspika, Dinas Pertanian, Wali Nagari, Ketua KAN duduk dalam Tim intensifikasi sawah kecamatan. Tim intensifikasi sawah kecamatan adalam tim adhok bertindak sebagai pembina, fasilitator dan pengawas Kelompok Tani dalam melaksanakan Plakat sawah di Talu dan Sinuruik.

Anak nagari Talu dan Sinuruik optimis niat baik ini akan berhasil karena beberapa hal anatara lain :

<!–[if !supportLists]–>1.       <!–[endif]–>Pada bulan Juni dan Juli semua sawah di Talu dan Sinuruik sedang  dita

nami  padi meskipun dengan perbedaan umur yang besar. Ada   yang baru ditanam ada yang mulai panen

<!–[if !supportLists]–>2.       <!–[endif]–>Dukungan Dinas Pertanian berupa racun hama serentak, bantuan bibit

style=”font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: Arial”>untuk 50% lahan dan bantuan pupuk untuk kelompok tani yang ditunjuk

sebagai Sekolah Lapangan  Juga menetapkan semua bantuan akan disalurkan   sesuai dengan jadwal Plakat Sawah.

                   3.   Sebagian besar petani sawah Talu dan Sinuruik telah merasakan pahitnya

diserang hama , berulang kali puso akibat turun kesawah tidak serentak.

Semua petani menyadari bahwa turun kesawah serentak adalah salah satu

kunci  kemudahan membasmi hama padi.

<!–[if !supportLists]–>4         <!–[endif]–>Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat telah menetapkan Talu atau keca

matan Talamau sebagai lumbung padi kabupaten.

<!–[if !supportLists]–>5.       <!–[endif]–>Koperasi Syariah Talu bersedia menyediakan pupuk untuk Plakat Sawah.

<!–[if !supportLists]–>6.       <!–[endif]–>Para ulama dan da’i siap membantu sosialisasi Plakat Sawah.

<!–[if !supportLists]–>7.       <!–[endif]–>Para pemuda siap menyingsingkan lengan baju untuk membantu suksesnya Plakat Sawah.

PARA NINIAK MAMAK MENGHARAPKAN PARTISIPASI ANAK NAGARI TALU DAN SINURUIK DIRANTAU DALAM BENTUK : PENEMPATAN DANA PADA  KOPERASI SYARIAH AGAR MAMPU MENYEDIAKAN PUPUK SESUAI KEBUTUHAN DAN ATAU FASILITAS2 LAIN YANG DAPAT MENUNJANG KEBERHASILAN PLAKAT SAWAH.

Penempatan dana pada koperasi dapat dalam 2 bentuk yaitu, sebagai simpanan sukarela

atau dengan membeli sertifikat yang dijual Koperasi  dengan  pembagian keuntungan sesuai dengan ketentuan2 syariah. Penjualan sertifikat dana sudah dianjurkan Dinas Perindagkop sejak awal tahun 2008 saat Koperasi Syariah Talu mendapat akreditasi A bersama 7 koperasi lainnya di Kabupaten Pasaman Barat.

Dengan tekad yang kuat dan kerjasama yang luhur dari seluruh komponen terkait serta seluruh anak nagari di ranah maupun dirantau, Insya Allah Plakat Sawah akan berhasil.

  • Apabila Plakat Sawah berhasil baik, Insya Allah program2 peningkatan ekonomi lainnya akan mudah dilaksanakan. Semoga.

(Sumber : KAN Nagari Talu, Oktober 2008)

Masyarakat Talu Rancang Plakat Sawah

(Kontribusi edy_musanif@yahoo.com.sg)

Digagas Oleh Tuanku Bosa XIV, Masyarakat Talu Rancang Plakat Sawah
Selasa, 12 Agustus 2008

Pasbar, [Singgalang]
Setelah sukses mendirikan Koperasi Syariah, kini masyarakat Talu, Kenagarian Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, tengah merancang program plakat sawah untuk menyepakati turun ke sawah serentak dan mengolah sawah dua sampai tiga kali setahun.

Digagas oleh Fadlan Maalip Tuanku Bosa XIV ini, program plakat sawah ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat. Bahkan para ninik mamak nagari tetangga, yakni nagari Sinuruik pun ikut menerima program ini dengan tangan terbuka dan camat juga mendukung sepenuhnya.

”Apabila plakat sawah ini berhasil dengan baik, Insya Allah program-program peningkatan ekonomi lainnya akan mudah dilaksanakan,” ujar Tuanku Bosa kepada Singgalang, kemarin.

Tuanku Bosa mengaku optimis program plakat sawah ini akan berhasil karena pada bulan Juni dan Juli semua sawah di Talu dan Sinuruik sedang ditanami padi meskipun dengan perbedaan umur yang besar. Ada yang baru ditanam, ada yang mulai panen.

Kemudian, adanya dukungan Dinas Pertanian berupa pemberian racun hama serentak, bantuan bibit untuk 50 persen lahan dan bantuan pupuk untuk kelompok tani yang ditunjuk sebagai sekolah lapangan. Semua bantuan akan disalurkan sesuai jadwal plakat sawah.

Seterusnya, sebagian besar petani sawah Talu dan Sinuruik telah merasakan pahitnya diserang hama. Berulangkali puso akibat turun ke sawah tidak serentak. Bahkan, pada tahun 2002, semua petani menyadari, turun ke sawah serentak adalah salah satu kunci kemudahan membasmi hama padi.

Di samping itu, pemerintah kabupaten Pasaman Barat juga telah menetapkan Talu atau kecamatan Talamau sebagai lumbung padi kabupaten dan Koperasi Syariah Talu bersedia menyediakan pupuk untuk plakat sawah.

Tidak hanya itu, para ulama dan da’i siap membantu sosialisasi plakat sawah dan para pemuda siap menyingsingkan lengan baju untuk membantu suksesnya plakat sawah.

Dikatakan Tuanku Bosa, ide melaksanakan program plakat sawah ini berawal dari keprihatinannya melihat nagari Talu yang namanya kian memudar.

Menurutnya, nagari Talu adalah satu dari tiga nagari di Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat yang terletak di kaki Gunung Talamau, Ophir dan Pasaman. Letaknya jauh di lintas ekonomi sehingga Talu kurang mendapat perhatian. Dibanding dengan kota-kota kecil lainnya di Pasaman, Talu sudah tertinggal.

Tapi, kata Tuanku Bosa, jika dilihat ke belakang, Talu jauh lebih maju dari nagari-nagari lainnya. Beberapa indikator yang menggambarkan kemajuan tersebut adalah adanya rumah sakit dengan dokternya dan waterleiding di Talu pada tahun 20-an.

Pada awal kemerdekaan sampai tahun 80-an, berdiri sekolah-sekolah untuk memenuhi kebutuhan SDM yang mendesak. Talu menampung murid-murid dari seluruh kabupaten.

Sekarang, katanya lagi, kondisinya sudah jauh berbeda. Sudah sangat sedikit murid dari kecamatan lain. Warga Pasaman Barat jika mau ke Padang atau ke Bukittinggi tidak lagi melalui Talu sehingga lama-lama nama Talu tidak familiar lagi di telinga masyarakat Pasaman.

Di balik itu semua, yang sangat merisaukan adalah angka kemiskinan yang tinggi dibanding daerah lain. Beras miskin yang dialokasikan ke Talu selalu tidak mencukupi.

Meskipun demikian, masyarakat Talu belum mengolah sawahnya secara maksimal untuk peningkatan ekonominya. Kebun karet yang dulu sangat menunjang ekonomi tidak diremajakan sehingga tidak ekonomis lagi. Kebun kulit manis atau casiavera yang dulunya menjadi hiasan bukit Talu, sekarang hampir tidak kelihatan.

”Pemerintah, tokoh masyarakat di kampung dan di rantau sangat risau. Karena itu, berbagai upaya harus dilakukan untuk meningkatkan ekonomi Talu,” katanya.

Disebutkan, pasca penobatan dirinya sebagai Tuanku Bosa XIV bulan Juli 2007 lalu, telah pula didirikan Koperasi Syariah Talu. Kini, koperasi itu telah membina dan mengembangkan hampir seratusan industri rumahtangga seperti kacang, kerupuk, kopi dan lain-lain. ”Dalam usianya yang baru satu tahun, Alhamudillah, Koperasi Syariah Talu sudah mendapat akreditasi A di Kabupaten Pasaman Barat,” demikian Tuanku Bosa. [Singgalang]

Nagari Kajai Wakili Pasaman Barat ke Tingkat Propinsi

Talu[rangtalu.net]. Ucapan selamat patut diberikan kepada seluruh masyarakat Nagari Kajai beserta jajaran Pemerintahan Nagari atas berhasilnya Nagari Kajai terpilih sebagai Juara I se-Pasaman Barat pada Lomba Nagari Berprestasi Tingkat Kabupaten 2008. Selanjutnya doa sukses juga pantas buat  Nagari Kajai semoga kembali berjaya pada Lomba Tingkat Propinsi. Nagari Kajai terpilih menjadi Juara I menyisihkan 18 nagari lainnya di 11 kecamatan sekabupaten Pasaman Barat. Suatu prestasi yg patut mendapat apresiasi dan tentunya patut pula ditauladani oleh nagari-nagari lainnya.
Sekarang Nagari Kajai mewakili Kab. Pasaman Barat dalam mengikuti lomba yg sama di tingkat Propinsi Sumatera Barat. Kecamatan Talamau tentu juga patut berbangga atas terpilihnya salah satu nagari di kecamatan ini sebagai wakil kabupaten ke tingkat propinsi. Penilaian untuk Lomba Tingkat Propinsi juga sudah dilakukan di nagari Kajai pada hari Rabu (4/6) yg lalu. Tim Propinsi yg melakukan penilaian waktu itu dipimpin oleh Irvan Khairul Ananda, SE,MM, Ketua Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Sumbar. Belum diketahui kapan penilaian se-Sumatera Barat akan selesai dan kemudian untuk di ketahui hasilnya. Semoga Nagari Kajai kembali Berjaya di tingkat Sumatera Barat.

Tanaman Primadona

Nagari Kajai adalah salah satu dari tiga nagari yg ada di Kec. Talamau selain Nagari Talu dan Nagari Sinurut. Secara geografis Nagari Kajai terletak diantara pusat kecamatan (Talu -12 km arah Timur) dan pusat kabupaten (Sp. Empat – 17 km arah Barat). Daerahnya terdiri dari daratan dan perbukitan dengan rentang suhu rata-rata berkisar antara 28 ~ 38 derajat celcius. Populasi saat ini disebutkan berjumlah 10.833 jiwa, yg terdiri dari sekitar 2625 KK (kepala Keluarga) dengan luas wilayah 13.028 hektare (ha).

Sebagian besar dari penduduk Kajai bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Sebagian lain juga ada kegiatan industri kecil rumah tangga, baik berupa produksi jenis makanan maupun kerajinan tangan.

Salah satu penggerak roda ekonomi adalah perkebunan kelapa sawit yg dikelola bersama KUD Nagari Kajai melalui program Kredit Koperasi Primer Anggota (KKPA). Hingga saat ini program tsb telah berhasil mengolah seluas 626 ha kebun kelapa sawit dengan anggota koperasi mencapai 400 orang. Hasil panen sawit disebutkan mencapai 120 ton setiap bulannya.

Namun yg lebih menggembirakan lagi, menurut Walinagari Kajai Mursal Syabirin, adalah giatnya masyarakat bercocok tanam jenis-jenis holtikultura. Yg pasti padi dan jagung. Selain itu ada pisang, ubi jalar (ubi rambat), cabe, buncis kacang kedele, kacang tanah, ubi kayu (singkong), cabe, sawi, dan kacang panjang.

“Bahkan jenis-jenis tanaman ini justru menjadi primadona masyarakat. Hasil produksinya cenderung terus meningkat pada setiap musim panen,” jelas Pak Wali seperti yg dikutip oleh Singg

alang, harian lokal Sumatera Barat.

Teruslah berbuat, semoga bukan hanya di Pasaman Barat, tetapi Nagari Kajai juga menjadi yg terbaik hendaknya di seluruh Sumatera Barat. [AStS]

Sumber : Milis Group Yoo,RangTalu

Tanggapan, Peluang Usaha dan Kebutuhan Modal

Membaca artikel kanda Dasriel yg bertajuk, perkenankan kami coba menanggapi sebahagian saja. Inysa Allah ada manfaat. Bahasannya menarik sekali dan saya coba merespon langsung pada wacana bantuan (atau pinjaman) modal usaha bagi dunsanak di kampung halaman, dalam hal ini Kec. Talamau (Talu – Sinurut – Kajai). Sebut saja sementara ini sebagai Program Pemberdayaan Masyarakat.

Setuju dengan apa yg disampaikan Kanda Dasril pada bagian akhir tulisannya, khususnya tentang kata selektif & ketentuan. Kami jadi tertarik untuk membahas lebih lanjut hal-hal yg berhubungan dengan kedua kata tsb. dalam kaitan dengan adanya wacana utama yaitu menyalurkan bantuan/pinjaman modal usaha bagi masyarakat Talamau.

Perlunya bahasan lanjut tentang selektifitas dan ketentuan tsb adalah MENGINGAT : (1) Yang akan dikelola adalah sejumlah uang/dana yg pemiliknya adalah pribadi-pribadi yg hanya terikat oleh hubungan emosinal sosial dengan kampung halaman melalui IKTJ (jika memang program ini jadi dilaksanakan oleh IKTJ nantinya). Hal ini terkait dengan pertanggung jawaban tentang penyaluran dana tsb serta hasil yg dicapai. (2) Kemungkinan munculnya keinginan banyak pihak di kampung untuk memperoleh bantuan tsb ataupun semua pihak merasa berhak atas dana yg disalurkan dimaksud. Hal ini dapat menimbulkan masaalah baru ditengah-tengah masyarakat kita. (3) Perlunya mengetahui bahwa yg akan menerima pinjaman modal tsb adalah pihak yg benar-benar membutuhkan dan diyakini dapat dipercaya agar menggunakan dana dimaksud sesuai dengan tujuannya dan dengan penuh tanggung jawab. Hal ini sangat terkait dengan efektifitas program agar tepat guna dan tepat sasaran. (4) Banyaknya faktor2x hambatan (selain modal) terhadap berbagai jenis usaha atau pertanian/peternakan, bahkan termasuk yg di luar kemampuan manusia untuk mengantisipasi dan mengatasinya. Hal ini terkait dengan tingkat keberhasilan usaha (pertanian) tsb yg berpengaruh besar terhadap pengembalian modal serta pergiliran modal yg sama kepada pihak penerima bantuan berikutnya. Menyikapi hal-hal MENGINGAT di atas, maka tepat sekali jika harus ada proses selektifitas dalam segala hal. Baik dalam penentuan person yg menerima, jenis usaha (pertanian) yg akan dikelola serta lokasi usaha (pertanian) dimaksud, maupun dalam penetapan besar skala usaha yg dimasukan dalam program ini sehubungan dengan besarnya modal yg diperlukan dan besarnya dana bantuan yg tersedia. Untuk dapat melaksanakan selektifitas tsb tentu perlu ada acuan-acuan atau ketentuan agar semua proses berjalan dengan baik dan konsisten serta termonitor. Sebutlah hal ini sebagai aturan main. Atas pertimbangan itu semua, mungkin tidak berlebihan jika kami mengusulkan bahwa; jauh sebelum program tsb dinyatakan/disetujui untuk dilaksanakan, maka perlu adanya kajian-kajian (jika mungkin secara akademik) yang hasilnya merupakan semacam rekomendasi bahwa program tsb layak atau tidak/belum layak untuk dilaksanakan’. Pada tahap ini, menurut hemat saya sangat diperlukan hal-hal berikut : 1. Adanya kelompok kerja (team work) yg akan melakukan kajian, tinjauan baik secara langsung (mungkin kebetulan sedang pulang/berada di kampung) maupun melalui komunikasi jarak-jauh dngn pihak-pihak yg dianggap tepat, guna memperoleh data, informasi, kondisi aktual dsb. Tentunya setiap data tsb di cek silang (cross checked) satu sama lain agar lebih akurat. 2. Adanya kelompok kerja yg bertugas merumuskan ketentuan-ketentuan dan atau aturan-aturan sebagai acuan pelaksanaan program dimaksud. Ketentuan dan atau aturan tsb mencakup semua tahapan mulai dari perencanaan, pelaksanaa, evaluasi dan pelaporan serta bentuk pertanggungjawaban baik oleh penerima bantuan kepada IKTJ maupun IKTJ kepada pemilik dana/modal. Hal dapat juga dilakukan oleh team yg sama (no 1) atau oleh team lain yg terpisah. 3. Adanya kerjasama dengan pihak lain di Kec. Talamau (Pemda/LSM/Koperasi d.l.l) atau lembaga yg dibentuk oleh IKTJ sendiri sbg perwakilan dan hubungan kerjasama tsb di rumuskan dengan jelas tentang hak, kewajiban dan wewenang masing-masing pihak. 4. Adanya sosialisasi program dengan jelas ke lapangan, minimal terkait dengan tujuan (misi/visi), batasan, sasaran, metode penyaluran dsb. Sepintas barangkali terkesan agak rumit pandangan-pandangan tsb, namun demi kelancaran pelaksanaan nantinya, ketercapaian tujuan, minimalisasi masaalah dan hambatan serta kesinambungan (Inysa Allah dapat ditingkatkan), maka basakik-sakik dahulu jauh lebih baik. Banyak sekali pesan pepatah kita yg mengisyaratkan agar mamasak paretongan sabalun langkah ka di urak. Bia lah lambek asa salamaik pado bagogeh kaki tataruang…, bia lah sobuak as alai tabao dari pado banyak tapi tacicia…, “urang padang makan sipuluik pantang sakali nak mintak duo suok tagantuang dek kanai imbau lah ditimbang di patuik-patuik lah padek hati lah pokek kiro-kiro mako didayuang biduak ka pulau…” Sakitu nyoh ka jawek sombah dari kami. Sombah ba baliak ka pangkanyo, talewah pulo ka nan banyak…..[AL Miter]