Selamat Jalan… “Konco Arek Lawan Kareh”

wajahbaruSelamat Jalan “bapak, Teman , Konco arek lawan kareh” Soesmely Saun.
Innalilahi wa innailaihi rojiun, Semoga syurga disana jauh lebih indah dari syurga yang kita ciptakan dulu di Talu,
Pak Soes … Kepala SMPPn/SMU/SMA Pertama Talu, Vespa itu keliatan miring …. karena memang vespa Spring yang ditongkrongi pak Soes sepintas miring dijalan Aie Angek, Talu. Karena tahun 70-an di Talu satu satu nya vespa hanya milik Pak Soes….. kadang pak Soes …kendarai suzuki cup 70 cc plat merah …ya itulah baru penghargaan dari pemerintah untuk Pak Soes jaman itu …dan itupun sudah bekas pula …
Ku katakan teman …memang teman … kala uang sekolah yang Rp 500 rupiah perbulan tak sanggup bayar …karena jatah untuk uang sekolah terlanjur bayar utang ke kantin pak Pian … … terpaksa lah ‘nanduk’ Pak Soes ….. apa boleh buat …

Kukatakan Konco arek …ya iya lah … kami berdua dengan Derwan …ngetok pintu pak Soes jam 01 malam …. ketika pak soes buka pintu ” hey ..ada apa dengan kalian ” dengan enteng kami jawab … litak paruik pak minta makan …trus ..numpang lalok sakalian …

“Lawan kareh” …. terbetiklah Tim Sepakbolah SMPP Talu harus bertanding di Lubuk sikaping dalam rangka Suratin Cup .. ( piala jaman itu tingkat SMA ) … sebelum berangkat harus latihan dulu ” saat latihan … “Ncieeee … ang tagak balawanan wak yo … kecek pak Soes… lalu disahut … ” iko ndak tantu kapalo sakolah ambo kilik beko mah jan manyasa yo …” rupanya saat pertandingan memang pak soes harus “tajalopak di lapangan” …
Begitulah hubungan kami antara murid dengan Kepala sekolah.

Setelah tamat SMPP .. kami sekolah di Bandung ( oleh perush ) ..dan beliua rupanya jadi Kepsek SMA 4 Padang .. dan kebetulah ketemu di angkot ( Pak Soes, Pak Syaf ( guru olaraga) dan kami bercanda … ” dimaaa waang kini ..ambo jawab ..”di kepulauan riau pak ..kebetulan jadi pimpinan cabang ketek disitu” >>> lalu pak Syaf menimpali … “Nampak e ..nan nakal nakal dulu jadi yo … ” Trus pak Soes bilang …” iyo baitu ..kini cabang ketek bisuek cabang gadang …” …. itulah kisah kisah Kepsek, Guru , dan murid …terakhir kami sempat komunikasi saat Reunian SMPP talu nan berdomisili di Jkt … itupun via phone …

Terima kasih Kawan … Selamat Jalan …Syurga disana lebih indah dari pada sorga kita dulu.

Oleh : Apriman Monti Malano

[Sumber : Komentar Apriman Monti Malano di jejaring Facebook]

Banyak Gadih Buntiang dilua Nikah

Oleh : Babe Derwan

Catatan Dari Sebuah Status

stop“Facebooker” Sandi Saputra menumpahkan kegundahannya tentang situasi sosial kampung halamanya kini, Ia kesal, bahkan boleh jadi juga marah. Cobalah simak statusnya pada Group Facebook Rang Talu Community, hari Sabtu, 30 April 2011, pukul 10.40 ; ” lah maghosai ditolu kinin sanak,aghi pangujan,manakiak lah payah,sawah ngan baghu ditanam dialuik aie godang,bukik paghoman lah banyak ngan ghotak,iko dek ulah ughang ngan banyak mangaghojoan tah apo-apo ditolu. lah banyak anak gadih buntiang dilua nikah,lai dg laki ughang,lai jo dg ayah kanduang e. io lah kacau tolu kinin. oi niniak mamak tolong lah jago anak jo kamanakan buak,jan dipalopehan jo malala malam-malam,beko ghombuang poghuik e ru………(dek masuak angin nyo)…he.e.e.e.e.e.”

Tapi kasihan Sandi. Ia boleh jadi cuma marah dan gusar sendiri. Cuma dia yang  peduli. Setidaknya itu bisa dilihat, dari sekian banyaknya anggota group, cuma dua orang yang coment. Yang lainnya cuek. sepertinya lebih tertarik memberi coment pada status yang ecek-ecek. Padahal issu yang diangkat Sandi Saputra ini bukan lagi soal sepele, yang harus dicari kebenarannya, dan kalau memang benar harus kita kaji kenapa masyarakat kampung kita sudah sedemikian “sakitnya”. Agaknya ini jauh lebih penting ketimbang memperdebatkan uang 1 milyar yang akan dikucurkan Pemda Pasbar kepada para wali nagari.

Cobalah simak: “… lah banyak anak gadih buntiang dilua nikah, lai dengan laki ughang, lai jo dengan ayah kanduang ‘e…” (Sudah “banyak”  anak gadis hamil diluar nikah, ada yang dengan suami orang,. ada pula dengan ayah kandungnya…). Kata ” banyak”  sengaja diberi tanda kutip, karena ini menunjukkan bahwa kasusnya bukan cuma satu kali dua kali, tapi sudah sering. Lebih kacau lagi, itu  bukan dilakukan dengan pacar, tapi dengan suami orang, bahkan dengan ayah kandungnya. Nauzibillah… sudah demikian rusaknya moral di kampung kita?

“…oi niniak mamak tolong lah jago anak jo kamanakan buak, jan dipalopehan jo malala malam-malam, beko ghombuang poghuik e ru…”

Ungkapan ini boleh jadi menunjukan bahwa para mamak sudah tak peduli terhadap kemenakan. Atau kemanakan yang sudah tidak  menghargai

menghormati mamak? Kalau sudah begini, apalagi maknanya ungkapan yang mengatakan: anak dipangku kamanakan dibimbiang?

Padahal setahu penulis, baik selama tinggal di kampung maupun di rantau, sosok seorang mamak  bagi kemanakan sangat dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Karena bukankah peran seorang mamak dalam suatu keluarga mendapat porsi tersendiri. Dan karena itu pula,bila seorang kemanakan membuat aib, maka aib itu bukan cuma beban orang tuanya tapi juga menjadi beban mamak2nya.

Setahu penulis, di daerah minang lainnya, bila ada anak-cucu-kemanakan yang diketahui berbuat aib — tidak senonoh — bukan cuma menjadi aib keluarga tapi juga menjadi aib orang kampung, biasanya diberikan sanksi adat. Sanksi itu bisa berupa dikeluarkan dari adat, artinya sudah tidak dilibatkan dari setiap kegiatan adat-istiadat. Bahkan, lebih keras dari itu, diusir keluar kampung.

Apakah sanksi seperti ini diberlakukan juga di kampung kita, Talu? Wallahu’alam…

Diberlakukan atautidak, dan juga– entah ada kaitannya atau tidak —  yang jelas alam telah murka.Celakanya,  bukan cuma menimpa pelaku aib, tapi juga dirasakan oleh orang sekampung. Setidaknya itulah anggapanSandi Saputra dalam statusnya itu;

“… lah maghosai di Tolu kinin sanak, manakiak lah payah, sawah ngan baghu ditanam

dialuik aie godang, bukik paghoman lah banyak ngan ghotak, iko dek ulah ughang ngan banyak mangaghojoan tah apo-apo di Tolu…”

Benar atau tidak ada kaitannya. Yang jelas Tuhan telah menjatuhkan sanksinya lewat alam. Lantas, akan kah kita abaikankan  kasus

seperti ini. Apakah kita tunggu sanksi lebih dahsyat lagi dari Tuhan misalnya — seperti gempa yang meluluh lantakan kota Padang —
atau tsunami di Aceh,  dan di Jepang baru-baru ini? Lalu baru kita semuanya sadar?

Subhanallah… Semoga Allah Ta’ala mengampuni, Amin

Sekali lagi , ini Cuma catatan dari sebuah status di jejaring social Facebook, yang masih perlu dicari kebenarannya. Semoga saja Sandi Saputra tidak Cuma sekedar menciptakan issu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalaulah Sandi hanya asal membuat status (dalam arti mengada-ada), tentulah dia harus bertanggung jawab dihadapan para niniak-mamak.

Semoga saja Sandi mengungkap kasus dengan fakta, tidak asal membuat status. Sementara bagi penulis, terlepas issu atau fakta, tapi ini sesuatu yang patut jadi perhatian dan tidak terabaikan. (Babe Derwan) (Foto : https://miauideologis.blogspot.com)

Tetesan Darah Kakakku, Jadi Saksi Jatuhnya Bom Belanda Di Talu

Oleh: Mardinal Marahudin

Usianya sekarang sudah menginjak 86 tahun, namun Subhanallah ia masih diberkahi oleh Allah Subhanawataala kesehatan dan jalan pikiran yang jernih, masih jauh dari pikun, seperti banyak lansia yang umurnya jauh lebih muda dari beliau. Malah pada Hari Raya Idul Adha 2010 yang lalu, beliau masih sempat melancong ke Jakarta untuk menemui kami adik-adik, anak-anak, cucu dan cicit nya… Sungguh merupakan suatu kebahagiaan yang tak dapat di nilai dengan apapun, bagi keluarga besar kami, adik-adik, anak, cucu dan cicitnya di Jakarta, dapat berkumpul, bercanda serta bermanja dengan beliau.

Syukur Alhamdulillah selain masih sehat secara fisik, Allah juga masih memberikan ingatan yang masih kuat dan jalan pikiran yang masih terang. Canda dan senda guraunya masih tetap seperti yang dulu dulu, malah beliau masih fasih membaca ayat suci Alqur’an setiap habis sholat. “Dialah Kakak yang kami sayangi,….Uni Rosmanidar Miter”…yang sehari-harinya berdomisili di kota ecil tempat kelahiran ku, yaitu Talu…

Suatu ketika, …tat kala aku sedang bersimpuh didekat kakinya, …pikiran Ku melayang jauh ke belakang sekitar 60 tahun yang lalu. Dimana ,….pada saat peristiwa jatuh nya bom tentara Belanda di negeri Talu,….karena mereka ingin untuk menjajah Indonesia kembali. Masih jernih dalam ingatan ku hari kejadian tersebut, tiba-tiba langit diatas negeri Talu yang merupakan kancah tersebut, bergemuruh, dideru oleh 3 buah pesawat mustang tentara Belanda. Seluruh penduduk negeri berhamburan keluar rumah, kucar kacir lari terbirit birit mencari tempat perlindungan.

Aku,…dan kakak-ku tersebut berikut saudara lainnya, bergabung bersama tetangga dan bersembunyi dibawah kolong sebuah rumah yang tempatnya sedikit layak untuk tempat berlindung, yaitu rumah uni Sehan Rajab. Kamipun bertumpuk dan saling berhimpitan sembari tak putus putus nya menyebut nama Tuhan….

”Boommmm !!!  Doorrr..!    Doeerrr ….!!”

Tiba tiba terdengar suara tembakan yang dahsyat diiringi suara senapan mesin yang dimuntahan secara membabi buta. Tak akan pernah bisa ku lupakan bagaimana takutnya perasaanku pada waktu itu, ….di alam pikiranku yang baru ber umur 5 tahun,… Perasaan ku pada waktu itu,”… inilah yang dinamakan dunia kiamat..!”

Dalam keadaan suasana panik dan berdesak-desakan tersebut, tiba tiba kakak perempuanku tersebut berteriak, “..Ya Allah ba’a kaki awak ko…??!!,” sambil beliau merintih kesakitan minta tolong, apa lagi beliau dalam keadaan hamil tua….
Kami yang lain pun berteriak histeris, tat kala melihat tumit kaki beliau yang hampir putus, hanya di tahan oleh kulit saja serta darah berceceran kemana-mana. Kepanikan kamipun bertambah, karena melihat masih ada 2 orang lagi yang kena tembak peluru dibahagian kaki dan pahanya, yaitu anak Kepala Polisi serta Ibu Anyer, isteri seorang Polisi…

Untunglah Pesawat tempur Belanda tersebut kemudian pergi menghilang di balik bukit, dengan meninggalkan korban beberapa orang, serta rumah-rumah yang hancur lebur. Setelah keadaan dinyatakan aman oleh Polisi, maka semua penduduk Talu pun mulai keluar dari tempat perlindungannya.  Tak lama kemudian.., petugas kesehatan pun datang, lalu kami diamankan ke Solok, sebuah kampung kecil terletak di pinggir nagari Talu. Kakak Perempuan ku beserta korban lainnya dirawat di sebuah surau kecil, yang letaknya tida jauh dari jalan kampung… Di Surau kecil itulah kami tinggal sementara waktu bersama ibu dan kakak perempuan lainnya, untuk merawat kakakku serta aku sendiri yang masih kecil. Sedangkan Ibunda kami, pagi-pagi sudah pergi keluar-masuk kampung membawa barang apa saja yang dapat di tukar dengan beras. Tiada lagi yang lebih berharga pada waktu itu,…selain beras… Pada waktu itulah aku merasakan .., bagaimana laparnya perut, karena makan hanya satu kali se hari, paling pengganjal yang lain hanyalah singkong rebus yang dimakan dengan garam saja.

Dan ditempat pengungsian itu pulalah kakak ku tersebut melahirkan seorang anak perempuan bernama Lisda, yang sekarang sudah pensiun dari Kepala SD Negeri 2 Talu. Dan sekarang, Lisda pulalah yang menjaga dan merawat ibunya (kakak kami) dikampung halaman, Talu.

Sejenak saya terpana,………….dan sadar dari lamunan,…. Rupanya saya masih bersimpuh didekat kaki kakak ku tersebut. Dengan mata yang berkaca kaca saya paksakan sedikit bercanda sambil meraba kaki beliau dan bertanya, “..Ni, mana kaki uni yang tertembak waktu bom jatuh di Talu dulu..?,”. Beliau pun tertawa lirih.., “Wah,… ternyata kamu masih ingat ya Nang, peristiwa tersebut ? Pada hal kamu masih berumur 5 tahun pada waktu kejadian tersebut”, selorohnya.
Allah huakbar,…..luar biasa ingatan Uni-ku yang sudah berumur 86 tahun ini…
”Iya lah Ni.., tak mungkin akan terlupakan ..,” suara ku terhenti… Sembari merangkul beliau,…ku cium pipinya, akhir nya mata yang berkaca-kaca tadi berubah menjadi tetesan yang bergulir perlahan membasahi pipiku, sambil aku berucap, “Tak disangka ya Ni.., begitu cepatnya waktu berlalu. Tak terasa sudah 60 tahun saja kejadian tersebut berlalu… Dan sekarang kita semua masih sempat berkumpul dan Uni,…masih sehat wal’afiat. Sungguh kimat pemberian Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam hati Aku bergumam,….”Bagiku Uni adalah pahlawan kami,…..Mungkin juga bagi Nusa dan Bangsa. Doa kami adik-adik, anak-cucu dan cicit selalu mengiringimu kakak-ku… Sayang………………………….”

Menelusuri Karya-karya Sariamin ‘Selasih Selaguri’

Oleh : Babe Derwan

Setelah mengangkat sekilas tentang masa perjuangan bunda Sariamin ‘Selasih Selaguri’ pada artikel terdahulu, rasanya belum lengkap jika tidak mengenali karya-karyanya yang telah memberi warna kepujanggaan di negeri ini. Meski tidak selengkap dan sedetil yang diharapkan, paling tidak beberapa hal berikut cukup membantu kita untuk mencoba mengenali beberapa karyanya.

Sebagaimana disebutkan pada Selasih ‘Rang Talu’ Selaguri : Novelis Perempuan Pertama Di Indonesia, meski sebelumnya beberapa tulisan Sariamin telah menghiasi media cetak kala itu, namun novel pertama yang dilahirkannya adalah Kalau Tak Untung. Bunda Sariamin menggunakan nama samaran Selasih untuk novel yang terbit pada tahun 1933.

Kalau Tak Untung itu bukan cuma melejitkan nama Selasih sebagai pujangga wanita, tapi juga membuat bangga penerbit Balai Pustaka. Saking bangganya, sampai-sampai pihak Balai Pustaka memberikan imbalan yang sangat memuaskan bagi Sariamin. Oleh karenanya Sariamin pun semakin bersamangat untuk menulis. Dan tahun 1937 menyusul lahir pula novelnya yang kedua berjudul Pengaruh Keadaan, yang juga diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Pada tahun 1939 Balai Pustaka mengadakan lomba mengarang roman. Selasih pun tak mau ketinggalan. Ia lalu mengirimkan hasil karyanya yang berjudul Harapan Ibu. Walaupun Selasih cuma menduduki rangking 9 dari 12 orang pemenang, ia cukup bangga, mengingat jumlah naskah peserta yang ikut lomba tak kurang dari 256 naskah. Sayangnya naskah itu tidak bisa diterbitkan karena saat itu penerbit mengalami kesulitan ekonomi, yang disebabkan ambruknya pemerintah kolonial Belanda, akibat menghadapi Perang Dunia II. Yang lebih sayangnya lagi, naskah Harapan Ibu itu juga dinyatakan hilang, wallahu’alam.
***
SELAIN cerita fiksi, Selasih juga menulis puisi, menterjemahkan sejumlah karya dari Barat terutama yang berbahasa Belanda, dan dari Timur berbahasa Cina. Sejumlah puisinya telah dipilih pula oleh Sutan Takdir Alisjahbana (STA) untuk antologi Puisi Baru (1946), oleh Toeti Heraty dalam antologi Se Serpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), oleh Linus Suryadi AG dalam antalogi Tonggak (1986), dan oleh Korrie Layun Rampan dalam antalogi  Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia pada tahun 1990.

Sariamin adalah salah seorang sastrawan yang mengalami tiga zaman ; zaman Belanda, zaman Jepang dan Kemerdekaan. Pada saat penjajahan Jepang, Sariamin Selasih sempat berhenti menulis.  Tak begitu jelas kenapa Sariamin berhenti menulis saat itu. Ia baru mulai lagi menulis tahun 1980 dengan membuat cerita anak-anak, seperti dengan terbitnya Panca Juara (1981), Nahkoda Lancang (1982), dan Cerita Kak Mursi tahun 1984.

Yang membuat Sariamin kembali makin bersamangat menulis yakni setelah Menteri P & K Daoed Joesuf, suatu ketika sengaja mendatanginya untuk mendorongnya agar terus menulis. Daoet Joesuf lantas memintanya untuk menulis dalam Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Proyek buku yang dikelola oleh P dan K ini sebagian akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Minangkabau. Tanpa pikir panjang, Sariamin pun menyanggupinya. Maka sampai tahun 1986 Sariamin berhasil menulis 21 naskah, yang masing-masing tak kurang dari 200 halaman.

Hasil karya terakhir Selasih adalah novel Kembali ke Kepangkuan Ayah, yang diterbitkan oleh  oleh Mutiara Sumber Widyia (1986). Dan dua tahun setelah Sariamin meninggal, Penerbit Balai Pustaka kembali melakukan cetak ulang atas novel itu.

Bunda Sariamin meninggal tahun 1995 di Pekan Baru dalam usia 86 tahun. Dari perkawinannya dengan Ismail, mereka meninggalkan dua putri, yaitu Suryahati Ismail dan Tini Hadad. Tini Hadad diketahui pernah dipercaya sebagai Ketua YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), maka tak heran kalau  nama Tini Hadad sering juga mewarnai media cetak dan elektronik Indonesia. Selain itu, putri bungsu yang jebolon institut menejemen di Vancauver ini, juga sempat menjadi Wakil Direktur Program Pemulihan Masyarakat di bawah naungan UNDP.

Berkat sejumlah hasil karya sastranya itu, dalam sejarah sastra Indonesia Bunda Sariamin — Selasih Seleguri — tercatat sebagai sastrawan Indonesia kelompok Angkatan Balai Pustaka. Yaitu kelompok sastrawan awal dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Tapi Wikipedia Bahasa Indonesia mencatatnya sebagai Angkatan Pujangga Baru.

Berikut karya-karya bunda Sariamin ‘Selasih Selaguri’ menurut versi tamanismailmarzuki.com:

Kalau Tak Untung (novel, 1933)
Pengaruh Keadaan (novel, 1937)
Puisi Baru, St. Takdir Alisjahbana (bunga rampai, 1946)
Rangkaian Sastra (1952)
Seserpih Pinang Sepucuk Sirih, Toeti Heraty (bunga rampai, 1979)

Panca Juara (cerita anak, 1981)

Nakhoda Lancang (1982)

Cerita Kak Mursi (cerita anak, 1984)
Kembali ke Pangkuan Ayah (novel, 1986)
Tonggak 1, Linus Suryadi AG (bunga rampai, 1987)
Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia, Korrie layun Rampan

(Babe Derwan. Bahan: Wikipedia Bahasa Indonesia Korrie Layun Rampan Agepe blogspot tamanismailmarzuki.com)

Selasih ‘Rang Talu’ Selaguri : Novelis Perempuan Pertama Di Indonesia

Oleh : Babe Derwan

Kebanyakan generasi muda Urang Talu — apalagi yang remajanya — boleh jadi tak pernah menyangka kalau kampungnya yang berada di lembah Gunung Talamau dan dikelilingi bebukitan itu ,  pernah melahirkan tokoh atau pejuang  bertaraf nasional. Banyak Rang Talu tak pernah mengenal siapa itu Sariamin,  siapa itu Selasih atau Seleguri, dan apa itu Kalau Tak Untung. Apalagi — konon — di sekolah-sekolah, baik di tingkat SMP maupun SMA (era sekarang),  baik dalam pelajaran bahasa atau kesusastraan, nama beliau sudah tak pernah disebut-sebut lagi.  Maka jangan heran kalau anak-anak sekarnag juga tak pernah tahu bahwa wanita pengarang novel pertama di Indonesia adalah berasal dari kampung kecil mereka, Talu.

Untuk itulah, kali ini Yo Rang Talu.Net  mencoba mengangkat kembali sosok ibunda Sariamin, seorang sastrawan perempuan sekaligus pejuang yang telah mengharumkan negeri kecil bernama Talu di tingkat nasional.

Menurut literatur Wikipedia Bahasa Indonesia, pada biodatanya disebutkan Sariamin lahir pada tanggal 9 Juli 1909 di Talu, (sekarang Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat), Sumatera Barat, dengan nama Basariah. Namun menurut  Korrie Layun Rampan, seorang wartawan senior dan juga budayawan, dalam satu tulisannya Selasih : Wanita Novelis Indonesia Pertama menyebutkan bahwa Sariamin Ismail ini lahir tanggal 31 Juli pada tahun yang sama di Talu, Kecamatan Talamau, Pasaman, Sumbar. Agaknya tak begitu penting soal perbedaan tanggal itu , pastinya kedua-duanya menyebutkan beliau lahir pada bulan dan tahun yang sama, yakni Juli 1909, di Talu. Lebih dari itu Wikipedia Bahasa Indonesia — ensklopedia bebas itu — juga tak menjelaskan kenapa dan bagaimana nama Basariah itu kemudian berganti menjadi Sariamin.

Memang tak banyak data atau cerita yang diperoleh tentang bagaimana masa kecil Basariah yang kemudian berganti nama Sariamin. Apalagi kawan-kawan seumuran beliau yang mungkin bisa dijadikan  nara sumber juga sudah  tidak ada lagi.Tapi yang jelas  setelah menamatkan Sekolah Dasar kelas V (Gouvernement School), Sariamin melanjutkan ke sekolah guru (Meisjes Normaal School), yang dulu mungkin sama dengan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah menjadi SPG (Sekolah Pendidikan Guru).

Setamat sekolah guru tahun 1925, Sariamin betul-betul mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Dan demi pengabdian itu pulalah ia tak sungkan-sungkan sekalipun pada tahun itu juga ditugaskan untuk mengajar di Bengkulu. Tak cuma sekedar guru, ia kemudian diangkat jadi Kepala Sekolah. Lima tahun kemudian,  Sariamin dipindahkan ke Matur, Padangpanjang, lalu ke  Lubuk Sikaping (sekarang Ibu Kota Kab. Pasaman), dan seterusnya ke Bukittinggi, hingga tahun 1939. Setelah itu ia ditugaskan pula ke Aceh selama 2 tahun. Dan sejak tahun 1941 beliau lebih banyak mengabdikan dirinya sebagai pendidik di Riau, seperti Kuantan, Pekanbaru, dan Tanjung Pinang, setidaknya sampai tahun 1968. Di sini ia juga sempat terjun ke politik sehinga terpilih jadi anggota DPRD Propinsi Riau priode 1947 – 1948.

***

Sariamin tak cuma punya jiwa mendidik. Ternyata dalam dirinya juga mengalir darah seni. Selama tinggal di Riau itu beliau terus bermetamorfosa. Ia mengaktualisasikan diri pada seni peran ; dimana Sariamin sering ikut main sandiwara berkeliling di daerah Kuantan, Pekanbaru dan Tanjung Pinang. Sesuai dengan profesinya yang seorang guru, maka sandiwara yang dimainkannya pun selalu bertemakan pendidikan.

Tak hanya seni peran, menjadi sorang pujangga rupanya juga sudah menjadi mimpi Sariamin. Agaknya baginya mimpi itu bukanlah tak beralasan, sebab ia merasa mempunyai bakat menulis yang kuat. Terbukti kemudian, kepujanggaannya inilah yang telah melambungkan namanya ke pentas nasional. Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, diketahui bahwa untuk mewujutkan mimpinya itu, Sariamin sudah mulai menulis sejak berumur 16 tahun. Tapi menurut Korrie Layun Rampan, budayawan Darman Moenir pernah menulis di majalah sastra Horison no 11, Thn XXI, Edisi November 1986, bahwa Sariamin dalam suatu ceramah sastra yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,  pada 17 September 1986, menjelaskan  ia mulai menulis bulan Mei 1926 ketika menjadi guru di Matur. Ketika itu,  Siti Noor Mariah Naro yang bekas gurunya memaksa dirinya supaya menulis di majalah Asyara yang terbit di Padang. Majalah milik Persatuan Guru Perempuan yang juga dipimpin oleh Rustam Effendi dan Rasjid Manggis ini banyak mendorong bakat-bakat baru untuk tampil memberikan gagasan-gagasan  yang inovatif. Maka lahir tulisan pertama Sariamin dalam majalah ini dengan judul “Perlukah Anak Perempuan Bersekolah?”

Diantara beberapa  tempat- tempat tugas nya, bakat menulis Sariamin lebih berkembang setelah ia pindah ke Lubuk Sikaping, pada tahun 1927. Di daerah yang dingin dan diapit bebukitan ini membuat ia lebih inspiratif. Apalagi, katanya, di sini ia banyak memperoleh bacaan-bacaan yang semakin mendorongnya untuk menulis. Dan di Lubuk Sikaping ini pula beliau bertemu dengan Abdul Latif yang memperkenalkan dirinya dengan majalah Sari Pusaka, Panji Pustaka dan Bintang Hindia.

Dari Lubuksikaping, Sariamin kemudian dimutasi lagi ke kota Bukittinggi. Di Kota Jam Gadang yang lebih dingin ini, Sariamin mengaku cakrawala wawasannya semakin luas berkat beberapa suratkabar  seperti; Suratkabar Persaman, Sinar Sumatera dan Sumatera Bond. Pada beberapa suratkabar inilah Sariamin terus mengembangkan bakat menulisnya, baik dibidang sastra, seni budaya, pendidikan, bahkan politik.

Pada zaman penjajahan, untuk menjadi seorang penulis bukanlah soal yang mudah. Karena selain bentuk karya tulis dibatasi, setiap penulisnya juga harus mempertanggungjawabkan hasil tulisannya di hadapan penjajah. Sementara saat itu — selain sebagai penulis — rupanya Sariamin juga aktif sebagai anggota organisasi politik seperti; organisasi Indonesia Muda, Gerakan Ingin Merdeka, bahkan ia sempat menjadi – Ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling Cabang Bukitttingi tahun 1928 -1930. Karena itulah  Sariamin selalu berada dibawah ancaman, takut kalau-kalau ditemukan bukti bahwa tulisannya melawan rezim penjajah. Ia tidak ingin mengalami nasib seperti teman-teman seperjuangannya seperti Aziz Chan, Alwi Luwis, Djafar Djambek,  yang bergerak dibawah tanah kemudian bernasib malang di ujung bedil penjajah, atau mendekam di jeruji besi. Tapi Sariamin tetap ingin jadi penulis sakaligus pejuang untuk kemerdekan tanah airnya. Untuk itu Sariamin mensiasatinya dengan menggunakan sejumlah nama samaran untuk karya tulisnya.

Beberapa nama samarannya itu adalah; Sekejut Gelingging ( sekejut agaknya adalah sejenis tanaman yang bahasa Talunya Sikojuik), Dahlia, Seri Tanjung, Seri Gunung, Bunda Kandung, Sen Gunting, Ibu Sejati, Mande Rubiah, Selasih, Saleguri, atau digabung Selasih Seleguri.
***
NAMA samaran Selasih ditemukan ibu Sariamin tahun 1932 ketika ia berehasil merampungkan novelnya Kalau Tak Untung. Semula Sariamin bingung dengan nama samaran apa novel itu akan diterbitkan. Sedangkan sejumlah nama samaran di atas sudah sering digunakannya, kecuali Selasih. Diantaranya seperti Ibu Sejati dan Saleguri sudah dikenal sebagai penulis yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Setelah menimbang-nimbang sejumlah nama samaran, akhirnya Sariamin menumakan nama Selasih untuk novel Kalau Tak Untung itu. Nama Selasih itu juga diambilnya dari salah satu jenis tanaman kecil yang banyak tumbuh di kampung halamannya, Talu.

Maka, tahun 1933 terbitlah novel Kalau Tak Untung itu dengan nama samaran penulisnya Selasih. Tak tanggung-tanggung, novel itu diterbitkan oleh  Balai Pustaka yang bagi Sariamin merupakan penerbit kebanggaan tersendiri  saat itu. Dan yang membuat Sariamin lebih bangga lagi; setelah diluncurkan ternyata novel itu — istilah sekarang — menjadi best seller. Bahkan ketika itu Aman Datuk Madjoindo yang juga pengarang dalam siaran radionya berkomentar, bahwa telah lahir pujangga putri pertama di Hindia Belanda. Bukan hanya itu, pengarang Armeijn Pane dan Kasoema Datuk Pamuntjak juga sepakat untuk menobatkan Selasih sebagai pioner bagi kaum perempuan dalam penulisan novel. Malah  pengarang lainnya tak sungkan-sungkan menyatakan bahwa Selasih adalah pengarang novel perempuan pertama di Indonesia.
Dan Selasih itu adalah Selaguri, Selasih Selaguri itu adalah Sariamin… Dan Sariamin itu adalah Urang Talu….

Berikut bio data Sariamin Ismail versi Tamanismailmarzuki.Com:

Nama : Sariamin Ismail
Lahir : Talu, Sumatera Barat, 31 Juli 1909
Wafat :1995
Pendidikan :
Sekolah Dasar (Gouvernement School), tamat tahun 1921,
Pendidikan Sekolah Guru (Meisjes Normaal School), tamat tahun 1925
Karya : Kalau Tak Untung (novel, 1933),
Pengaruh Keadaan (novel, 1937)
Rangkaian Sastra (1952),
Panca Juara (cerita anak, 1981),
Nakhoda Lancang (1982),

Cerita Kak Mursi (cerita anak, 1984),
Kembali ke Pangkuan Ayah (novel, 1986),
Puisi Baru, St. Takdir Alisjahbana (bunga rampai, 1946),
Seserpih Pinang Sepucuk Sirih, Toeti Heraty (bunga rampai, 1979),
Tonggak 1, Linus Suryadi AG (bunga rampai, 1987),
Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia, Korrie layun Rampan

(Babe Derwan. Bahan: Wikipedia Bahasa Indonesia Korrie Layun Rampan Agepe blogspot tamanismailmarzuki.com)