Selamat Jalan… “Konco Arek Lawan Kareh”

wajahbaruSelamat Jalan “bapak, Teman , Konco arek lawan kareh” Soesmely Saun.
Innalilahi wa innailaihi rojiun, Semoga syurga disana jauh lebih indah dari syurga yang kita ciptakan dulu di Talu,
Pak Soes … Kepala SMPPn/SMU/SMA Pertama Talu, Vespa itu keliatan miring …. karena memang vespa Spring yang ditongkrongi pak Soes sepintas miring dijalan Aie Angek, Talu. Karena tahun 70-an di Talu satu satu nya vespa hanya milik Pak Soes….. kadang pak Soes …kendarai suzuki cup 70 cc plat merah …ya itulah baru penghargaan dari pemerintah untuk Pak Soes jaman itu …dan itupun sudah bekas pula …
Ku katakan teman …memang teman … kala uang sekolah yang Rp 500 rupiah perbulan tak sanggup bayar …karena jatah untuk uang sekolah terlanjur bayar utang ke kantin pak Pian … … terpaksa lah ‘nanduk’ Pak Soes ….. apa boleh buat …

Kukatakan Konco arek …ya iya lah … kami berdua dengan Derwan …ngetok pintu pak Soes jam 01 malam …. ketika pak soes buka pintu ” hey ..ada apa dengan kalian ” dengan enteng kami jawab … litak paruik pak minta makan …trus ..numpang lalok sakalian …

“Lawan kareh” …. terbetiklah Tim Sepakbolah SMPP Talu harus bertanding di Lubuk sikaping dalam rangka Suratin Cup .. ( piala jaman itu tingkat SMA ) … sebelum berangkat harus latihan dulu ” saat latihan … “Ncieeee … ang tagak balawanan wak yo … kecek pak Soes… lalu disahut … ” iko ndak tantu kapalo sakolah ambo kilik beko mah jan manyasa yo …” rupanya saat pertandingan memang pak soes harus “tajalopak di lapangan” …
Begitulah hubungan kami antara murid dengan Kepala sekolah.

Setelah tamat SMPP .. kami sekolah di Bandung ( oleh perush ) ..dan beliua rupanya jadi Kepsek SMA 4 Padang .. dan kebetulah ketemu di angkot ( Pak Soes, Pak Syaf ( guru olaraga) dan kami bercanda … ” dimaaa waang kini ..ambo jawab ..”di kepulauan riau pak ..kebetulan jadi pimpinan cabang ketek disitu” >>> lalu pak Syaf menimpali … “Nampak e ..nan nakal nakal dulu jadi yo … ” Trus pak Soes bilang …” iyo baitu ..kini cabang ketek bisuek cabang gadang …” …. itulah kisah kisah Kepsek, Guru , dan murid …terakhir kami sempat komunikasi saat Reunian SMPP talu nan berdomisili di Jkt … itupun via phone …

Terima kasih Kawan … Selamat Jalan …Syurga disana lebih indah dari pada sorga kita dulu.

Oleh : Apriman Monti Malano

[Sumber : Komentar Apriman Monti Malano di jejaring Facebook]

Banyak Gadih Buntiang dilua Nikah

Oleh : Babe Derwan

Catatan Dari Sebuah Status

stop“Facebooker” Sandi Saputra menumpahkan kegundahannya tentang situasi sosial kampung halamanya kini, Ia kesal, bahkan boleh jadi juga marah. Cobalah simak statusnya pada Group Facebook Rang Talu Community, hari Sabtu, 30 April 2011, pukul 10.40 ; ” lah maghosai ditolu kinin sanak,aghi pangujan,manakiak lah payah,sawah ngan baghu ditanam dialuik aie godang,bukik paghoman lah banyak ngan ghotak,iko dek ulah ughang ngan banyak mangaghojoan tah apo-apo ditolu. lah banyak anak gadih buntiang dilua nikah,lai dg laki ughang,lai jo dg ayah kanduang e. io lah kacau tolu kinin. oi niniak mamak tolong lah jago anak jo kamanakan buak,jan dipalopehan jo malala malam-malam,beko ghombuang poghuik e ru………(dek masuak angin nyo)…he.e.e.e.e.e.”

Tapi kasihan Sandi. Ia boleh jadi cuma marah dan gusar sendiri. Cuma dia yang  peduli. Setidaknya itu bisa dilihat, dari sekian banyaknya anggota group, cuma dua orang yang coment. Yang lainnya cuek. sepertinya lebih tertarik memberi coment pada status yang ecek-ecek. Padahal issu yang diangkat Sandi Saputra ini bukan lagi soal sepele, yang harus dicari kebenarannya, dan kalau memang benar harus kita kaji kenapa masyarakat kampung kita sudah sedemikian “sakitnya”. Agaknya ini jauh lebih penting ketimbang memperdebatkan uang 1 milyar yang akan dikucurkan Pemda Pasbar kepada para wali nagari.

Cobalah simak: “… lah banyak anak gadih buntiang dilua nikah, lai dengan laki ughang, lai jo dengan ayah kanduang ‘e…” (Sudah “banyak”  anak gadis hamil diluar nikah, ada yang dengan suami orang,. ada pula dengan ayah kandungnya…). Kata ” banyak”  sengaja diberi tanda kutip, karena ini menunjukkan bahwa kasusnya bukan cuma satu kali dua kali, tapi sudah sering. Lebih kacau lagi, itu  bukan dilakukan dengan pacar, tapi dengan suami orang, bahkan dengan ayah kandungnya. Nauzibillah… sudah demikian rusaknya moral di kampung kita?

“…oi niniak mamak tolong lah jago anak jo kamanakan buak, jan dipalopehan jo malala malam-malam, beko ghombuang poghuik e ru…”

Ungkapan ini boleh jadi menunjukan bahwa para mamak sudah tak peduli terhadap kemenakan. Atau kemanakan yang sudah tidak  menghargai

menghormati mamak? Kalau sudah begini, apalagi maknanya ungkapan yang mengatakan: anak dipangku kamanakan dibimbiang?

Padahal setahu penulis, baik selama tinggal di kampung maupun di rantau, sosok seorang mamak  bagi kemanakan sangat dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Karena bukankah peran seorang mamak dalam suatu keluarga mendapat porsi tersendiri. Dan karena itu pula,bila seorang kemanakan membuat aib, maka aib itu bukan cuma beban orang tuanya tapi juga menjadi beban mamak2nya.

Setahu penulis, di daerah minang lainnya, bila ada anak-cucu-kemanakan yang diketahui berbuat aib — tidak senonoh — bukan cuma menjadi aib keluarga tapi juga menjadi aib orang kampung, biasanya diberikan sanksi adat. Sanksi itu bisa berupa dikeluarkan dari adat, artinya sudah tidak dilibatkan dari setiap kegiatan adat-istiadat. Bahkan, lebih keras dari itu, diusir keluar kampung.

Apakah sanksi seperti ini diberlakukan juga di kampung kita, Talu? Wallahu’alam…

Diberlakukan atautidak, dan juga– entah ada kaitannya atau tidak —  yang jelas alam telah murka.Celakanya,  bukan cuma menimpa pelaku aib, tapi juga dirasakan oleh orang sekampung. Setidaknya itulah anggapanSandi Saputra dalam statusnya itu;

“… lah maghosai di Tolu kinin sanak, manakiak lah payah, sawah ngan baghu ditanam

dialuik aie godang, bukik paghoman lah banyak ngan ghotak, iko dek ulah ughang ngan banyak mangaghojoan tah apo-apo di Tolu…”

Benar atau tidak ada kaitannya. Yang jelas Tuhan telah menjatuhkan sanksinya lewat alam. Lantas, akan kah kita abaikankan  kasus

seperti ini. Apakah kita tunggu sanksi lebih dahsyat lagi dari Tuhan misalnya — seperti gempa yang meluluh lantakan kota Padang —
atau tsunami di Aceh,  dan di Jepang baru-baru ini? Lalu baru kita semuanya sadar?

Subhanallah… Semoga Allah Ta’ala mengampuni, Amin

Sekali lagi , ini Cuma catatan dari sebuah status di jejaring social Facebook, yang masih perlu dicari kebenarannya. Semoga saja Sandi Saputra tidak Cuma sekedar menciptakan issu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kalaulah Sandi hanya asal membuat status (dalam arti mengada-ada), tentulah dia harus bertanggung jawab dihadapan para niniak-mamak.

Semoga saja Sandi mengungkap kasus dengan fakta, tidak asal membuat status. Sementara bagi penulis, terlepas issu atau fakta, tapi ini sesuatu yang patut jadi perhatian dan tidak terabaikan. (Babe Derwan) (Foto : https://miauideologis.blogspot.com)

Tetesan Darah Kakakku, Jadi Saksi Jatuhnya Bom Belanda Di Talu

Oleh: Mardinal Marahudin

Usianya sekarang sudah menginjak 86 tahun, namun Subhanallah ia masih diberkahi oleh Allah Subhanawataala kesehatan dan jalan pikiran yang jernih, masih jauh dari pikun, seperti banyak lansia yang umurnya jauh lebih muda dari beliau. Malah pada Hari Raya Idul Adha 2010 yang lalu, beliau masih sempat melancong ke Jakarta untuk menemui kami adik-adik, anak-anak, cucu dan cicit nya… Sungguh merupakan suatu kebahagiaan yang tak dapat di nilai dengan apapun, bagi keluarga besar kami, adik-adik, anak, cucu dan cicitnya di Jakarta, dapat berkumpul, bercanda serta bermanja dengan beliau.

Syukur Alhamdulillah selain masih sehat secara fisik, Allah juga masih memberikan ingatan yang masih kuat dan jalan pikiran yang masih terang. Canda dan senda guraunya masih tetap seperti yang dulu dulu, malah beliau masih fasih membaca ayat suci Alqur’an setiap habis sholat. “Dialah Kakak yang kami sayangi,….Uni Rosmanidar Miter”…yang sehari-harinya berdomisili di kota ecil tempat kelahiran ku, yaitu Talu…

Suatu ketika, …tat kala aku sedang bersimpuh didekat kakinya, …pikiran Ku melayang jauh ke belakang sekitar 60 tahun yang lalu. Dimana ,….pada saat peristiwa jatuh nya bom tentara Belanda di negeri Talu,….karena mereka ingin untuk menjajah Indonesia kembali. Masih jernih dalam ingatan ku hari kejadian tersebut, tiba-tiba langit diatas negeri Talu yang merupakan kancah tersebut, bergemuruh, dideru oleh 3 buah pesawat mustang tentara Belanda. Seluruh penduduk negeri berhamburan keluar rumah, kucar kacir lari terbirit birit mencari tempat perlindungan.

Aku,…dan kakak-ku tersebut berikut saudara lainnya, bergabung bersama tetangga dan bersembunyi dibawah kolong sebuah rumah yang tempatnya sedikit layak untuk tempat berlindung, yaitu rumah uni Sehan Rajab. Kamipun bertumpuk dan saling berhimpitan sembari tak putus putus nya menyebut nama Tuhan….

”Boommmm !!!  Doorrr..!    Doeerrr ….!!”

Tiba tiba terdengar suara tembakan yang dahsyat diiringi suara senapan mesin yang dimuntahan secara membabi buta. Tak akan pernah bisa ku lupakan bagaimana takutnya perasaanku pada waktu itu, ….di alam pikiranku yang baru ber umur 5 tahun,… Perasaan ku pada waktu itu,”… inilah yang dinamakan dunia kiamat..!”

Dalam keadaan suasana panik dan berdesak-desakan tersebut, tiba tiba kakak perempuanku tersebut berteriak, “..Ya Allah ba’a kaki awak ko…??!!,” sambil beliau merintih kesakitan minta tolong, apa lagi beliau dalam keadaan hamil tua….
Kami yang lain pun berteriak histeris, tat kala melihat tumit kaki beliau yang hampir putus, hanya di tahan oleh kulit saja serta darah berceceran kemana-mana. Kepanikan kamipun bertambah, karena melihat masih ada 2 orang lagi yang kena tembak peluru dibahagian kaki dan pahanya, yaitu anak Kepala Polisi serta Ibu Anyer, isteri seorang Polisi…

Untunglah Pesawat tempur Belanda tersebut kemudian pergi menghilang di balik bukit, dengan meninggalkan korban beberapa orang, serta rumah-rumah yang hancur lebur. Setelah keadaan dinyatakan aman oleh Polisi, maka semua penduduk Talu pun mulai keluar dari tempat perlindungannya.  Tak lama kemudian.., petugas kesehatan pun datang, lalu kami diamankan ke Solok, sebuah kampung kecil terletak di pinggir nagari Talu. Kakak Perempuan ku beserta korban lainnya dirawat di sebuah surau kecil, yang letaknya tida jauh dari jalan kampung… Di Surau kecil itulah kami tinggal sementara waktu bersama ibu dan kakak perempuan lainnya, untuk merawat kakakku serta aku sendiri yang masih kecil. Sedangkan Ibunda kami, pagi-pagi sudah pergi keluar-masuk kampung membawa barang apa saja yang dapat di tukar dengan beras. Tiada lagi yang lebih berharga pada waktu itu,…selain beras… Pada waktu itulah aku merasakan .., bagaimana laparnya perut, karena makan hanya satu kali se hari, paling pengganjal yang lain hanyalah singkong rebus yang dimakan dengan garam saja.

Dan ditempat pengungsian itu pulalah kakak ku tersebut melahirkan seorang anak perempuan bernama Lisda, yang sekarang sudah pensiun dari Kepala SD Negeri 2 Talu. Dan sekarang, Lisda pulalah yang menjaga dan merawat ibunya (kakak kami) dikampung halaman, Talu.

Sejenak saya terpana,………….dan sadar dari lamunan,…. Rupanya saya masih bersimpuh didekat kaki kakak ku tersebut. Dengan mata yang berkaca kaca saya paksakan sedikit bercanda sambil meraba kaki beliau dan bertanya, “..Ni, mana kaki uni yang tertembak waktu bom jatuh di Talu dulu..?,”. Beliau pun tertawa lirih.., “Wah,… ternyata kamu masih ingat ya Nang, peristiwa tersebut ? Pada hal kamu masih berumur 5 tahun pada waktu kejadian tersebut”, selorohnya.
Allah huakbar,…..luar biasa ingatan Uni-ku yang sudah berumur 86 tahun ini…
”Iya lah Ni.., tak mungkin akan terlupakan ..,” suara ku terhenti… Sembari merangkul beliau,…ku cium pipinya, akhir nya mata yang berkaca-kaca tadi berubah menjadi tetesan yang bergulir perlahan membasahi pipiku, sambil aku berucap, “Tak disangka ya Ni.., begitu cepatnya waktu berlalu. Tak terasa sudah 60 tahun saja kejadian tersebut berlalu… Dan sekarang kita semua masih sempat berkumpul dan Uni,…masih sehat wal’afiat. Sungguh kimat pemberian Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam hati Aku bergumam,….”Bagiku Uni adalah pahlawan kami,…..Mungkin juga bagi Nusa dan Bangsa. Doa kami adik-adik, anak-cucu dan cicit selalu mengiringimu kakak-ku… Sayang………………………….”