Selasih ‘Rang Talu’ Selaguri : Novelis Perempuan Pertama Di Indonesia

40
2281

Oleh : Babe Derwan

Kebanyakan generasi muda Urang Talu — apalagi yang remajanya — boleh jadi tak pernah menyangka kalau kampungnya yang berada di lembah Gunung Talamau dan dikelilingi bebukitan itu ,  pernah melahirkan tokoh atau pejuang  bertaraf nasional. Banyak Rang Talu tak pernah mengenal siapa itu Sariamin,  siapa itu Selasih atau Seleguri, dan apa itu Kalau Tak Untung. Apalagi — konon — di sekolah-sekolah, baik di tingkat SMP maupun SMA (era sekarang),  baik dalam pelajaran bahasa atau kesusastraan, nama beliau sudah tak pernah disebut-sebut lagi.  Maka jangan heran kalau anak-anak sekarnag juga tak pernah tahu bahwa wanita pengarang novel pertama di Indonesia adalah berasal dari kampung kecil mereka, Talu.

Sponsor
Free Install

Untuk itulah, kali ini Yo Rang Talu.Net  mencoba mengangkat kembali sosok ibunda Sariamin, seorang sastrawan perempuan sekaligus pejuang yang telah mengharumkan negeri kecil bernama Talu di tingkat nasional.

Menurut literatur Wikipedia Bahasa Indonesia, pada biodatanya disebutkan Sariamin lahir pada tanggal 9 Juli 1909 di Talu, (sekarang Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat), Sumatera Barat, dengan nama Basariah. Namun menurut  Korrie Layun Rampan, seorang wartawan senior dan juga budayawan, dalam satu tulisannya Selasih : Wanita Novelis Indonesia Pertama menyebutkan bahwa Sariamin Ismail ini lahir tanggal 31 Juli pada tahun yang sama di Talu, Kecamatan Talamau, Pasaman, Sumbar. Agaknya tak begitu penting soal perbedaan tanggal itu , pastinya kedua-duanya menyebutkan beliau lahir pada bulan dan tahun yang sama, yakni Juli 1909, di Talu. Lebih dari itu Wikipedia Bahasa Indonesia — ensklopedia bebas itu — juga tak menjelaskan kenapa dan bagaimana nama Basariah itu kemudian berganti menjadi Sariamin.

Memang tak banyak data atau cerita yang diperoleh tentang bagaimana masa kecil Basariah yang kemudian berganti nama Sariamin. Apalagi kawan-kawan seumuran beliau yang mungkin bisa dijadikan  nara sumber juga sudah  tidak ada lagi.Tapi yang jelas  setelah menamatkan Sekolah Dasar kelas V (Gouvernement School), Sariamin melanjutkan ke sekolah guru (Meisjes Normaal School), yang dulu mungkin sama dengan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah menjadi SPG (Sekolah Pendidikan Guru).

Setamat sekolah guru tahun 1925, Sariamin betul-betul mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Dan demi pengabdian itu pulalah ia tak sungkan-sungkan sekalipun pada tahun itu juga ditugaskan untuk mengajar di Bengkulu. Tak cuma sekedar guru, ia kemudian diangkat jadi Kepala Sekolah. Lima tahun kemudian,  Sariamin dipindahkan ke Matur, Padangpanjang, lalu ke  Lubuk Sikaping (sekarang Ibu Kota Kab. Pasaman), dan seterusnya ke Bukittinggi, hingga tahun 1939. Setelah itu ia ditugaskan pula ke Aceh selama 2 tahun. Dan sejak tahun 1941 beliau lebih banyak mengabdikan dirinya sebagai pendidik di Riau, seperti Kuantan, Pekanbaru, dan Tanjung Pinang, setidaknya sampai tahun 1968. Di sini ia juga sempat terjun ke politik sehinga terpilih jadi anggota DPRD Propinsi Riau priode 1947 – 1948.

***

Sariamin tak cuma punya jiwa mendidik. Ternyata dalam dirinya juga mengalir darah seni. Selama tinggal di Riau itu beliau terus bermetamorfosa. Ia mengaktualisasikan diri pada seni peran ; dimana Sariamin sering ikut main sandiwara berkeliling di daerah Kuantan, Pekanbaru dan Tanjung Pinang. Sesuai dengan profesinya yang seorang guru, maka sandiwara yang dimainkannya pun selalu bertemakan pendidikan.

Tak hanya seni peran, menjadi sorang pujangga rupanya juga sudah menjadi mimpi Sariamin. Agaknya baginya mimpi itu bukanlah tak beralasan, sebab ia merasa mempunyai bakat menulis yang kuat. Terbukti kemudian, kepujanggaannya inilah yang telah melambungkan namanya ke pentas nasional. Dari Wikipedia Bahasa Indonesia, diketahui bahwa untuk mewujutkan mimpinya itu, Sariamin sudah mulai menulis sejak berumur 16 tahun. Tapi menurut Korrie Layun Rampan, budayawan Darman Moenir pernah menulis di majalah sastra Horison no 11, Thn XXI, Edisi November 1986, bahwa Sariamin dalam suatu ceramah sastra yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta,  pada 17 September 1986, menjelaskan  ia mulai menulis bulan Mei 1926 ketika menjadi guru di Matur. Ketika itu,  Siti Noor Mariah Naro yang bekas gurunya memaksa dirinya supaya menulis di majalah Asyara yang terbit di Padang. Majalah milik Persatuan Guru Perempuan yang juga dipimpin oleh Rustam Effendi dan Rasjid Manggis ini banyak mendorong bakat-bakat baru untuk tampil memberikan gagasan-gagasan  yang inovatif. Maka lahir tulisan pertama Sariamin dalam majalah ini dengan judul “Perlukah Anak Perempuan Bersekolah?”

Diantara beberapa  tempat- tempat tugas nya, bakat menulis Sariamin lebih berkembang setelah ia pindah ke Lubuk Sikaping, pada tahun 1927. Di daerah yang dingin dan diapit bebukitan ini membuat ia lebih inspiratif. Apalagi, katanya, di sini ia banyak memperoleh bacaan-bacaan yang semakin mendorongnya untuk menulis. Dan di Lubuk Sikaping ini pula beliau bertemu dengan Abdul Latif yang memperkenalkan dirinya dengan majalah Sari Pusaka, Panji Pustaka dan Bintang Hindia.

Dari Lubuksikaping, Sariamin kemudian dimutasi lagi ke kota Bukittinggi. Di Kota Jam Gadang yang lebih dingin ini, Sariamin mengaku cakrawala wawasannya semakin luas berkat beberapa suratkabar  seperti; Suratkabar Persaman, Sinar Sumatera dan Sumatera Bond. Pada beberapa suratkabar inilah Sariamin terus mengembangkan bakat menulisnya, baik dibidang sastra, seni budaya, pendidikan, bahkan politik.

Pada zaman penjajahan, untuk menjadi seorang penulis bukanlah soal yang mudah. Karena selain bentuk karya tulis dibatasi, setiap penulisnya juga harus mempertanggungjawabkan hasil tulisannya di hadapan penjajah. Sementara saat itu — selain sebagai penulis — rupanya Sariamin juga aktif sebagai anggota organisasi politik seperti; organisasi Indonesia Muda, Gerakan Ingin Merdeka, bahkan ia sempat menjadi – Ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling Cabang Bukitttingi tahun 1928 -1930. Karena itulah  Sariamin selalu berada dibawah ancaman, takut kalau-kalau ditemukan bukti bahwa tulisannya melawan rezim penjajah. Ia tidak ingin mengalami nasib seperti teman-teman seperjuangannya seperti Aziz Chan, Alwi Luwis, Djafar Djambek,  yang bergerak dibawah tanah kemudian bernasib malang di ujung bedil penjajah, atau mendekam di jeruji besi. Tapi Sariamin tetap ingin jadi penulis sakaligus pejuang untuk kemerdekan tanah airnya. Untuk itu Sariamin mensiasatinya dengan menggunakan sejumlah nama samaran untuk karya tulisnya.

Beberapa nama samarannya itu adalah; Sekejut Gelingging ( sekejut agaknya adalah sejenis tanaman yang bahasa Talunya Sikojuik), Dahlia, Seri Tanjung, Seri Gunung, Bunda Kandung, Sen Gunting, Ibu Sejati, Mande Rubiah, Selasih, Saleguri, atau digabung Selasih Seleguri.
***
NAMA samaran Selasih ditemukan ibu Sariamin tahun 1932 ketika ia berehasil merampungkan novelnya Kalau Tak Untung. Semula Sariamin bingung dengan nama samaran apa novel itu akan diterbitkan. Sedangkan sejumlah nama samaran di atas sudah sering digunakannya, kecuali Selasih. Diantaranya seperti Ibu Sejati dan Saleguri sudah dikenal sebagai penulis yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Setelah menimbang-nimbang sejumlah nama samaran, akhirnya Sariamin menumakan nama Selasih untuk novel Kalau Tak Untung itu. Nama Selasih itu juga diambilnya dari salah satu jenis tanaman kecil yang banyak tumbuh di kampung halamannya, Talu.

Maka, tahun 1933 terbitlah novel Kalau Tak Untung itu dengan nama samaran penulisnya Selasih. Tak tanggung-tanggung, novel itu diterbitkan oleh  Balai Pustaka yang bagi Sariamin merupakan penerbit kebanggaan tersendiri  saat itu. Dan yang membuat Sariamin lebih bangga lagi; setelah diluncurkan ternyata novel itu — istilah sekarang — menjadi best seller. Bahkan ketika itu Aman Datuk Madjoindo yang juga pengarang dalam siaran radionya berkomentar, bahwa telah lahir pujangga putri pertama di Hindia Belanda. Bukan hanya itu, pengarang Armeijn Pane dan Kasoema Datuk Pamuntjak juga sepakat untuk menobatkan Selasih sebagai pioner bagi kaum perempuan dalam penulisan novel. Malah  pengarang lainnya tak sungkan-sungkan menyatakan bahwa Selasih adalah pengarang novel perempuan pertama di Indonesia.
Dan Selasih itu adalah Selaguri, Selasih Selaguri itu adalah Sariamin… Dan Sariamin itu adalah Urang Talu….

Berikut bio data Sariamin Ismail versi Tamanismailmarzuki.Com:

Nama : Sariamin Ismail
Lahir : Talu, Sumatera Barat, 31 Juli 1909
Wafat :1995
Pendidikan :
Sekolah Dasar (Gouvernement School), tamat tahun 1921,
Pendidikan Sekolah Guru (Meisjes Normaal School), tamat tahun 1925
Karya : Kalau Tak Untung (novel, 1933),
Pengaruh Keadaan (novel, 1937)
Rangkaian Sastra (1952),
Panca Juara (cerita anak, 1981),
Nakhoda Lancang (1982),

Cerita Kak Mursi (cerita anak, 1984),
Kembali ke Pangkuan Ayah (novel, 1986),
Puisi Baru, St. Takdir Alisjahbana (bunga rampai, 1946),
Seserpih Pinang Sepucuk Sirih, Toeti Heraty (bunga rampai, 1979),
Tonggak 1, Linus Suryadi AG (bunga rampai, 1987),
Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia, Korrie layun Rampan

(Babe Derwan. Bahan: Wikipedia Bahasa Indonesia Korrie Layun Rampan Agepe blogspot tamanismailmarzuki.com)

40 COMMENTS

  1. Dear adinda Al Miter..
    Teruskan niat tulus untuk memperkenal Talu dan Orangnya..
    karna kita berjauhan mungkin dengan cara ini kita dipertemukan Allah Yang Maha Kuasa,
    untuk mengenang Kampung dan masa kecil kita..
    Jikok ado usulan untuak mengabadikan nama Ibunda Sariamin diTalu,.
    munggkin ambo yang partamo yang satuju..Tolong cubo dilayangkan ideko untuak Gedung Pertemuan Talamau dirubah menjadi Gedung Sariamin..ambo raso tapek lataknyo..
    Sagitu duluyo yoo All..Was. Nuzlan.AR( Gogo)

  2. Sdr. Babe Derwan : Berbeda dengan data2 yang mengungkapkan bahwa ibu Sariamin berada di Riau antara
    tahun 1947-1948, saya mempunyai pendapat yang berbeda. Menurut seingat saya ibu Sariamin pernah mengajar di Sekolah Rakyat Talu 2. waktu saya masih kelas 1 ditahun 1947. Saya tidak mengatakan bahwa ibu Sariamin tinggal di Talu dari tahun 1947 sampai tahun 1948. Yang seingat saya ibu guru yang mengajar saya itu bernama ibu Sariamin dan beliau sangat pintar bercerita waktu kami semua murid2 dari kelas saya dibawa berjalan jalan keluar dari kelas kejalan menuju simpang tiga dekat pasar dan kemudian kembali lagi kesekolah. Ceritanya itu berjudul “Tamtam lubuak tamtam ado maliek ula lalu. Kalau lubuak indak katokan……….”.. Yang jelas nama ibu Sariamin selalu saya kenang, kerena ceritanya menarik sekali. Peristiwa ini terjadi 63 tahun yang lalu dan dalam hidup saya tak pernah terlupakan. Yang jelas ibu Sariamin ini tidak lama mengajar disana dan tiba2 menghilang yang saya sendiri ngga tahu. Berhubung kerena terbatasnya ruangan komentar ini, anda bisa meng e-mail kesaya dan saya akan berikan siapa2 nama2 orang Talu yang bisa membantu kita untuk mencari kebenarannya.
    E-mail anda saya tunggu. Terima kasih.

    • Pak Rudy Limbertus (Bujang Pasaman);
      Saya sangat senang dan suprise sekali karena Bpk sdh sempat mampir di tulisan Sariamin ini. Lebih dari itu, saya juga berterima kasih yang teramat sangat atas masukkan Bpk, karena boleh jadi telah melengkapi, menambah, dan mengoreksi dari tulisan Sariamin ini. 
      Saya yakin Bpk benar, karena bukankah Bpk mengaku mengalaminya sendiri dengan menjadi murid beliau pada tahun 1947 itu. Namun tulisan saya yg menyebutkan bahwa beliau pada tahun tersebut diangkat menjadi anggota DPRD Riau hanya merujuk kepada sumber  kamus wikipedia Bahasa Indonesia pada link(http;//id.wikipedia.org/wiki/sariamin_ismail) yang menyebutkan pada tahun 1947 beliau terpilih sebagai anggota parlemen daerah untuk propinsi Riau. Dan budayawan Korie Layun Rampan dalam tulisan di Majalah Horison no.11 edisi November 1986 dengan judul; Selasih, Wanita Novelis Indonesia Pertama, juga menyebutkan bahwa Sariamin sempat menjadi anggota DPRD Riau 1947-1948. 
      Perbedaan data ini juga terdapat pada tanggal lahir. Wikipedia menyebutkan tanggal lahir Sariamin tanggal 9 juli 1909 sedangkan Korie Layun Rampan menyebutkan tanggal 31 Juli tahun yang sama. 
      Mana yang lebih valid dari semua perbedaan data itu, saya juga belum dapat data yang pasti. Namun juga tak bermasud mengabaikannya. Dan apa yang Bpk Rudi alami dengan Bunda Sariamin, adalah suatu maksukkan yang sangat berarti. Terlepas dari semua perbedaan data itu, tulisan Sariamin ini muncul hanya untuk mengingatkan kembali, terutama  bagi generasi muda Talu, bahwa Talu pernah punya tokoh nasional seperti Sariamin.
      Pak Rudy, saya sangat berterima kasih sekali atas keinginan Bpk untuk memberikan nama2 siapa saja yang bisa memberikan data lebih dalam tentang Bunda Sariamin. Tapi, saya kira akan lebih menarik lagi bila Bpk menurunkannya, baik itu pengalaman nyata Bpk dengan Sariamin, maupun cerita2 orang lain yang Bpk ketahui,  dalam bentuk tulisan di YRT.Net. ini. Dan tentunya akan lebih memperkaya lagi tulisan tentang siapa Sariamin. Semoga..
      Pak Rudy, mohon maaf kalau kurang memuaskan.
      Wassalam.

      • Yth. Babe Derwan dan Pak Rudy Limbertus (Bujang Pasaman);

        Mohon maaf sebelumnya, kesalahan penulisan tanggal lahir tersebut adalah dari saya yang membuat artikel tersebut di Wikipedia Indonesia ( http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sariamin_Ismail&action=history ). Mungkin karena sudah mengantuk atau bagaimana. 🙂
        Namun telah saya betulkan kembali menjadi 31 Juli 1909. Demikian untuk dimaklumi.

        Mengenai keberadaan beliau di Pasaman Talu tahun 1947 seperti disebutkan oleh Pak Rudi, saya rasa mungkin saja karena seingat saya menurut penuturan beliau, beliau menetap di Pekanbaru Riau sejak 1948.

        Senang sekali menjumpai halaman web mengenai kampung halaman nenek saya (dan saya juga tentunya). Terus terang saya buta mengenai Talu karena besar di rantau. Yang saya tahu cuma adanya hutan Panti yang angker, Bangkok, Koto Panjang Sinuruik dan itupun saya cuma dengar dari cerita2 beliau.

        Ada link e-book otobiografi beliau :

        http://bukubagus.multiservers.com/selasih.htm

        Salam Taqzim,
        Iwan Novirion

      • Yth Iwan Novirion (sekalian salam kenal)
        Terimakasih atas klarifikasinya tentang tgl lahir tsb. Setidaknya kontribusi Bp (sdr) IWan di wikipedia sudah bermanfaat bagi Babe Derwan sebagai salah satu rujukan artikel beliau di atas.

        Oh, makasih juga atas link e-booknya. Saya sudah download dan sangat bermanfaat. Mengingat tidak semua pengunjung YRT.Net yg suka atau mau donlod2, saya akan usulkan kepada Sipangka (admin) website ini agar memuat Otobiografi tsb di web kesayangan Rang Talu ini. Tidak masaalah jika tidak ditampilkan sekaligus, misal tampil per judul secara berurutan. Mekanismenya kita serahkan kepada Sipangka.
        Insya Allah akan di share dengan pihak Sipangka YRT.Net secepatnya.
        Sekali lagi terimakasih banyak atas sharenya pak Iwan.

        Salam

    • Dear Rudy Limbertus (Bujang Pasaman)
      Setelah membaca komentar anda, dan membaca nama anda Rudy Limbertus(Bujang Pasaman) pikiran saya melayang sekitar 56 tahun yang lalu, yaitu di dusun kecil kampung saya yaitu Talu,.Saya punya seorang teman sepermainan Bernama Guan Ibunya bernama Bidah.. Tahun 1957 dia pindah ke Air Bangis ,
      Sekitar tahun 1967 Kmi bertemu di Jakarta rupanya teman saya tersebut kuliah di Bandung.setelah itu kami tdak pernah bertemu lagi sampai saat sekarang, Terakhir saya dengar teman saya tersebut merantau ke Canada dan saya melang2buana ke Jepang dan lain2 negara terakhir saya tinggal di Poland, Dan sekarang saya menetap di Jakarta bersama anak dan isteri saya. Kalau lah benar Rudy Libertus ini teman saya watu kecil dulu,……Ondai Guan,….aden ko Si Nang kawa mamopeh boloik di Tolu dulu,. Main layang2 jo Si Uten anak Pak Sarawi, lai takona jo lai dek Rudy. Kalau ambo ndak salah dulu namo Guan adalah Rydy Liem Tendean.Ok sobat lamo,I stop wraiting Hopping that you will be anjoi reading news from me and hope to hear from You soon teman lama mu mardinal Marahudin (Naaaaaaaang)

      • Hello Inang : Takajuik aden manarimo message dari si Inang waktu pagi cako aden mangunjungi Rang Talu.Net Terimo kasieh atas message nyo. Sabananyo aden tahu bahwa si Inang ado ngobrol jo si Al Mitter
        tantang aden, sebab dalam koresponden saya dengan si Al saya mendapat tahu bahwa si Inang adalah mamak si Al. Kerena itu saya pesankan pada si Al untuk menyuruh si Inang menulis ,me-e-mail kesaya at
        Cuma mungkin si Al salah tafsir dengan pesan saya itu kerena saya salah mengetiknya. Jad saya tunggu saja bahwa suatu waktu mungkin si Inang akan menulis kesaya.
        Saya akan sangat senang sekali kalau Inang bisa me E-MAIL kesaya dan saya akan cerita panjang lebar tentang perjalan hidup saya. By the way you are my buddy Nang!
        Harap nulis kesaya. SAYA TUNGGU.
        Wassalam,
        Rudy

      • Rudy Ambo juo kaget mendapat balasan dari rudy tolong kasih no Face book hya boleh kita sama2 cerita riwayat hidup kita selama berangkat dari Talu. Saya punya anak 3 orang yang tua perempuan lahir Jakarta 17 maret 78, sekarang tinggal di Kuala Lumpur sudah punya anak sepasang kawin sama orang Perancis. no. 2 perempuan . lahiir di Warsawa 9 maret 1989, sekarang tinggal sama saya di Jkt. kerja nya Pramugari , No. 3 Laki2 baru tamat s.m.a lahir Jakarta 18 Januari 92 baru tamat SMA , demikianlah sedikit tentang saya dan tolong beri saya alamat Email Rudy saya tunggu thanks

  3. DAHULU, ketika masih sekolah menengah, saya pernah mendengar nama Selasih, namun karena ulasan dari guru hanya sekilas, plus tidak ada media informasi yang memberi kabar segembira ini, nama Selasih hanya masuk di telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Tapi ketika informasi tentang bunda Selasih disiarkan portal kebanggaan kita ini, saya jadi kaget. Ternyata kita memiliki orang sehebat itu. Mungkin, publikasi yang kurang intensif, membuat genertasi muda hari ini ini, termasuk generasi setengah tua seusia saya, tidak banyak tahu. Saya sangat berterima kasih bisa mendapat informasi yang sangat berharga ini. Kalau boleh saya usul: (1) Bagaimana kalau gagasan untuk menerbitkan buku tentang Selasih kita ‘jual’ ke Pemkab Pasbar yang kini juga dipimpin RangTALU? (2) Apakah saya diizinkan untuk menulis ulang untuk saya terbitkan di Harian Umum Singgalang dengan menampilkan sumber dari pihak yang mempublish bapak Babe Derwan dan portal RangTALU.net? terima kasih….Semoga kian banyak saja ‘kebesaran’ Talu yang bisa telusuri, baik di masa lalu maupun saat ini dan di masa mendatang…

    • Apa kabar p’ Musriadi, lama jg tidak kontak dngn p’ Edi. Munculnya “kembali” sosok ibunda Sariamin ini memang telah “menyentak” Taluisme, jelasnya pada generasi muda atau yg sebelumnya tidak pernah tau mengenal siapa itu Sariamin ‘Selash Selaguri’. Bagi saya yg lebih mengagumkan lagi adalah, ternyata Ibu Tini Hadad adalah anak kandung dari Ibu Sariamin yg berarti dia juga berasal dari Talu. Meskipun (mungkin) tak sepopuler kebanyakan politisi zaman sekarang, tapi Ibu Tini Hadad cukup dikenal sbg tokoh yg aktif dibanyak lembaga tingkat nasional, diantaranya pernah menjabad sbg Ketua YLKI. Semoga Ibu Tini kelak sempat berkunjung ke website ini, dan Inysa Allah bersilaturahim dngn kita komunitas Rang Talu. Semoga.
      1. Seperti pada komentar kami sebelumnya, yg sekarang muali terwacana adalah usulan untuk mendirikan Pustaka atau Taman Bacaan Umum di Talu yg kita beri nama (misal) Taman Bacaan Selasih Selaguri. Selain utk memancing dan mendorong semangat baca masyarakat, sekaligus sebg penghormatan dan mengabadikan nama beliau. Tentu saja menulis buku tsb jg salah satu usaha untuk mewariskan informasi dan melestarikan sejarah bagi generasi berikutnya.
      2. Semoga Babe Derwan berkenan memenuhi permintaan p’ Musriadi utk memuat ulang artikel ini di Harian Singgalang yg bpk asuh. Agaknya Sipangka YRT.Net tentu juga tidak berkeberatan ..,”Ba’a tu Sipangka ?”
      Terimakasih atas kunjungan dan komentarnya p’ Edi.. Ocok2lah singgah..hehe

    • …dengan senang hati sanak Musriadi. Ndok cukuik jo cawan, jo niru kami tampuang. Ndok cukuik jo duo tapak tangan, jo tampian kami kapuangkan. Begitulah ungkapan terima kasih kami atas niat baik sanak. 
      Semoga Babe Derwan pun berkenan dngn senang hati. ” Babe mana nih…? Sibuk nyiapin tulisan berikut ya…?”
      Terimakasih sanak Musriadi, atas kunjugan dan usul pendapat serta kerja samanya. Selain itu, kami jg dengan senang hati jika sanak Musriadi berkenan berbagi tulisan dan pemikirannya di website YRT.Net ini. Ditunggu yo sanak. Wassalam, Sipangka

    • Pak ‘MM’ : Tarimokasih banyak lah singgah ditulisan ini. Makasih juga komentarnya.
      Dengan senang hati, setuju…………

  4. Mantap, mari kito gali terus, sejarah urang-urang Tolu yang pernah berkiprah di dunia Internasional dan Nasional. Dinda Derwan, terus lah menulis ! BRAVO ………..

  5. Agak menganggu tulisan diatas , yitu hal Almarhumah Sariamom , menjadi anggota DPRD PropinsiRiau. , periode 1948 – . kita tahu semua semua ,sebelum tahun 1960 , Riau adalah wilayah Propinsi Sumatera Tengah , dengan ibu kota Bukit Tinggi , tatkala itu . , untuk lebih lengkapnya informasi ini , Ibuk Sariamin berasal dari kampung Koto Panjang , masih ada hubungan keluarga Pak Guru Abdul Jabbar , dan juga kerabat Almarhumah Eddi Mulyono ) mantan ketua PGMT Jakarta , anaknya ibu Sariamin ada di Jakarta , Complek Wartawan Kebon Nanas , namanya Ibu Tinni Haddad , aktivis Lembaga Konsumen Indonesia.

    • Mantabs kanda, kritis yg mengayakan, menggelitik hati untuk mencari tahu informasi lebih lanjut.  Merujuk kpd sumber yg disebutkan penulis (wikipedia bahasa indonesia) pada link : _http://id.wikipedia.org/wiki/Sariamin_Ismail , pada bagian akhir memang ditemukan kalimat berikut : “Pada 1947, ia terpilih sebagai anggota parlemen daerah untuk provinsi Riau.”
      Namun pada halaman wikipedia yg lain (pada link : _http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Tengah ), memang disebutkan bahwa Provinsi Sumatera Tengah dibubarkan thn 1957 dan dimekarkan menjadi Sumatera Barat, Jambi dan Riau. Selain itu ada sumber lain, yaitu situs _http://legislasi.mahkamahagung.go.id, disebutkan bahwa DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PROPINSI DAN BADANEKSEKUTIP PROPINSI SUMATERA TENGAH dibekukan pada 5 Januari 1951.
      Dari fakta2 diatas, sepertinya bahwa thn 47-48 Ibu Sariamin adalah anggota DPR bisa saja benar, namun “mungkin” penyebutan atau penulisan nama propinsi pada sumber yg pertama (Riau) kurang tepat, yg benar mestinya adalah DPR Sumatera Tengan. Wallahualam.
      Sekiranya ada yg bisa menghubungkan artikel atau komentar2 ini kepada Ibu Tini Hadad, tentu beliau bisa memberi info yg lebih akurat…s.e.m.o.g.a

    • Da Zuardi Alies : Ha ha ha… akhirnya nongol juga. Makasih bangat kritiknya. Ini yang kita perlukan.
      Membetulkan yang salah. Maaf, penulis memang tidak sampai berpikir bahwa
      pada tahun tersebut Riau masih tergabung ke wilayah Sumatera Bagian Tengah.
      Namun, begitu tanggapan dinda Al Miter agaknya sudah cukup untuk menjawab
      kritikan Da Ar.
      Atau kalau boleh penulis menambahkan ; mungkin karena waktu itu Sariamin
      berdomisili di Riau (meskipun masih Bagian Sumatera Tengah), sehingga ia
      disebuat DPRD dari Riau. Wallahualam juga….
      Tetapi, terlepas apakah beliau anggota DPRD atau bukan, penulis cuma ingin
      mengingatkan kembali siapa Sariamin, paling tidak untuk generasi muda
      kampung kita. Sebab nama beliau tak pernah disebut2 lagi dalam pelajaran
      kesusastraan Indonesia. Padahal beliau adalah salah satu tokoh sejarah
      bangsa ini. Orang lain boleh melupakannya, tapi Urang Talu jangan. Karena ;
      SARIAMIN ADALAH URANG TALU, KAMPUANG KOTO PANJANG.

  6. Pujangga Talu sebetulnya tidak hanya Sariamin. Masih banyak pujangga yang seangkatan (angakatan BP 1920) dengan beliau, Cuma eksistensinya bukan di Indonesia. Di Malaysia sejumlah tokoh pionir sastra juga asli orang Talu, seperti Moh Rasyid Talu misalnya. Kalau sdr membaca novel Jalur Membenam J St Majolelo, settingan lokasi ceritanya  memang di Talu. Mungkin kita mudah kualat karena tidak menghargai prestasi leluhur……………..???

    • Kalo tidak salah, dlm salah satu postingan email di milis group YRT.Net flm program Pokan Ghub’a Bahaso Talu, kanda Dasril Alies memang sudah menyinggung tentang penulis St Majolelo yg juga asal Talu. Apakah ini St Majolelo yg sama, tentu da Das bisa mengkonfirmasi. Semoga pula diperoleh informasi lebih lengkap tentang beliau dan dpt pula di tuliskan agar dikenal pula oleh generasi penerus.
      Hiiii…., ngeri juga ya, bisa kualat karena tidak menghargai prestasi leluhur. Untuk itulah sanak, mudah2an kita semua sepakat dan bersama2 untuk menggali kembali prestasi2 leluhur kita, semoga jadi tauladan dan motivasi bagi generasi sekarang dan seterusnya.

    • Kanda Armen : Mungkin bukan kualat, namun sebetulnya lebih pada kitadaktahuan saja.
      Sebaiknya yang sudah banyak tahu tentang tokoh kampung, berikanlah
      informasinya kepada, terutama generasi muda Talu. Sariamin hanyalah
      sebuah pancingan…..

    • F.Armen : Maaf, kemaren membalas komennya salah alamat. Dikira yang komen Uda awak jo. Kiro e adiak awak di Padang. Ha ha ha… Maklumlah Diak. Lah tuo. Maaf yo….

  7. untuk meng abadikan nama beliau mungkin ada bagusnya dibuat nama jalan di Talu mulai dari Anak Ayia Pinang sampai ke Simpang Tigo Gantiang dgn nama Jl.SARIAMIN SELASIH SELAGURI atau dari Anak Ayia Pinang sampai Anak Aiyia Botuang dgn nama Jl.SARIAMIN, dari Ayia Botuang sampai Simpang Tigo Pasa dgn nama Jl.Selasih dan dari Simpang Tigo Pasa sampai Simpang Tigo Gantiang dgn nama Jl.Selaguri.disamping itu mungkin bisa kita usul sama Pemda untuk membuat MONUMEN BELIAU di Talu. sebelumnya komen inii pernah di tulis di milis YRT .

    • Kanda Armen, setahu dinda, doeloe (sekitar 89-90) lupa waktu itu Camat siapa, jln-jln di Talu si=udah diberi nama. Yg masih ingat:
      1) Ruas jln dari sp Gontiang ke Sp 3 Pasa = Jln Merdeka
      2) Ruas jln dari Sp 3 Pasa ke kelok SPG = Jln Proklamasi
      3) yg lain lupa
      …bahkan jln samping gedung kiri-kanan udah nama waktu itu (pake Utara dan Selatan), demikian juga jln arah ke talao..dsb… Cuman nama2 jln ini belum diaplikasikan dlm menggunakan alamat oleh masyarakat Talu sendiri. Mungkin di Ktr Camat ada arsip tentang ini.
      Usul mengenai monumen barangkali bisa diteruskan.
      Kanda Edi Naro, kalo boleh usul (jika memang Pemda mau memberi perhatian), lebih baik bangun sebuah PUSTAKA umum atau pustaka pemda Kecamatan, nah namanya pustaka ini kita beri nama “Pustaka Selasi Selaguri” atau Taman Bacaan Sariamin” atau “Taman Bacaan Selasih Selaguri”…s.e.m.o.g.a

    • Naro : Mokasih komentarnya. Sangat bagus kalo Bupati meresponnya dan memberikan
                  apresiasi dalam bentuk nyata terhadap tokoh kampung kita ini , yang sudah menjadi 
                  bagian dari sejarah bangsa kita, terutama dalam kesusastraan Indonesia.
                  Kalo Naro mendapatkan lebih jauh tentang Bunda Sariamin di kampung, bisa 
                  ditambahkan dalam komentar tulisan ini, atau dalam bentuk tulisan tersendiri. Semoga.

    • (maaf tadi salah posting, maksudnya ke Edinaro)…
      Kanda Edi Naro, kalo boleh usul (jika memang Pemda mau memberi perhatian), lebih baik bangun sebuah PUSTAKA umum atau pustaka pemda Kecamatan, nah namanya pustaka ini kita beri nama “Pustaka Selasi Selaguri” atau Taman Bacaan Sariamin” atau “Taman Bacaan Selasih Selaguri”…s.e.m.o.g.a

    • Makasih sanak Yul Insya Allah dlm waktu dekat menyusul kisah tokoh2 Talamau yg lain. Sipangka juga menerima kontribusi sanak sekalian jika ada referensi atau bahan, sumber informasi tentang tokoh2 tsb. Insya Allah akan kita tampilkan di web YRT.Net tacinto ini…
      Sering2 lah berkunjung dan ajak sanak saudara yg lain … salam Rangtalu

  8. Kanda Armen Emdas ;
    Terima kasih banyak yang telah memberikan tanggapannya di Milis Rang Talu.
    Satuju!!!. Kalau memang belum ada nama jalan di jalan yang dimaksud, boleh juga
    tuh. Semoga direalisasi rang kampuang.
    Tapi pernah nggak ya Bupati kito manjinguah YRT.Net kito yo???????????

  9. Makasih atas kunjungan dan komentar dunsanak. Terimakasih terkhusus pada sanak Babe Derwan yg telah menyumbangkan tulisannya, semoga membangkitkan keingintahuan generasi muda Rang Talu terhadap tokoh2nya di masa lalu.
    Sekedar bocoran buat dunsak semua : Insya Allah akan menyusul artikel berikutnya seputar karya-karya Ibunda Sariamin ‘Selasih Selaguri’. Tunggu kehadirannya…

    • Sipangka : Ini cuma sekedar pancingan. Siapa tahu dengan kehadiran bunda Sariamin ini
      akan bermunculan pula diYRT.net tokoh2 Talamau lainnya yang lebih inspiratif.

  10. Sebagai Orang Talu, kita sangat bangga mempunyai tokoh seperti Unyang, Nenek, atau ibu Sariamin ini.
    Bagi dunsanak yang mengetahui dimana dan siapa keluarganya (keturunan) di Talu sekarang. mohon di beritahu kepada kami yg masih mentah (muda) ini. agar lebih tau siapa itu Sariamin.
    Terima Kasih Babe Derwan yg telah mengakat tokoh penting ini.

    • Delva Roza : Makasih coment nya. Konon, kata si Daih Poman, di Talu, Bunda Sariamin ini dari Koto Panjang (tapi belum sempat di cek kebenarannya). Yang Babe tahu, salah satu dusanaknya di Talu
      adalah Almarhum Pak Jabar, yang tinggal di Kampuang Japang ( ayah dari Gina –samo sekolah jo Babe dulu yang koba e kini tingga di Medan). Waktu Babe SMP dulu, Pak Jabar mengajar mengambar. Agaknya dia juga seorang seniman.
      Kalau di Jakarta : salah seorang anak Sariamin adalah Tini Hadad, mantan YLKI era Orde Baru. Dulu dia tinggal di Cipinang Elok, Jaktim. Gak tau sekarang? Sabar, pada tulisan berikutnya tentang Sariamin, disinggung juga kok tentang kiprah putri bungsunya ini.

  11. Artikel yg mencerahkan…, nghga nyangka, wanita pertama yg nulis novel di negeri ini ternyata adalah orang talu. Sepertinya sudah waktunya generasi muda Talu menelusuri “sepak terjang” tokoh2 Talamau, jika perlu usulkan utk masuk BAB tambahan dlm mata pelajaran Sastra/Budaya di sekolah2 SLTP/SLTA khusus Talamau.
    Tengs Babe, ditunggu kisah tokoh Talamau berikutnya . . .

    • Selintas, keberadaan ibu Sariamin Ismail (selasih, Selaguri, Srigunting) pasti sudah ada dalam pelajarn sastra ditingkat SLTP & SLTA dengan judul2 novelnya. Yang diperlukan sebenarnya adalah ketersediaan buku karangan ibu Sariamin di setiap perpustakaan sekolah yang ada di Talu & sekitar. Hal ini juga sudah pernah saya sarankan kepada Ibu Normal Ma’alip dan Tongku Bosa untuk disediakan di perpustakaan Rumah Gadang Talu, termasuk buku karangan Yunus St. Majolelo yg orang Talu juga..
      Profil dan Ekspose Ibu Sariamin Ismail 2 minggu yang lewat juga sudah ditampilkan si-Daihpoman plus profil Bapak Yunus St. Majolelo di Milis YRT, juga dikirim ke rangtalu.net (tidak tayang). Tidak masalah dan Alhamdulillah ide awal menampilkan profil tokoh masyarakat talu dibidang sastra bisa terwujud juga dengan adanya tulisan ini., yang pada mulanya hanya terfokus pada wacana tokoh masyarakat di bidang politik.saja.
      .

      • Da si Daih Poman : Makasih attensinya yang begitu besar. Keberadaan Sariamin dalam bukunya
        memang sudah jelas, dan tak diragukan lagi. Tapi yang jadi tanda tanya kenapa
        anak sekolah sekarang sudah tak mempelajarinya lagi. Coba aja tanya anak SMA
        sekarang siapa Sariamin, atau Kalau Tak Untung, mungkin banyak yang ngga tau.
        Dulu, perpustakaan SMPP sempat punya Kalau Tak Untung. Mudah2an masih ada.
        Di Jakarta, di Museum Nasional mudah2an lengkap. Kapan waktu kita coba
        hunting ke sana ya , Da.

    • Almiter ; Terimakasih juga atas komentnya. Dulu zaman kami di SMPP dulu masih mempelajarinya.
      Bahkan hampir dalam setiap ulangan atau ujian selalu ada soal tentang Sariamin. Saking seringnya,
      hampir tidak ada murid tak bisa menjawabnya. Mungkin ini salah satu cara bagi guru agar muridnya
      selalu mengenang siapa Sariamin.
      Usul adinda boleh juga tuh. Tapi tergantung kemauan pihak sekolah itu sendiri mah…. Semoga…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.