Plakat Sawah, Bisakah Diaplikasikan ?

Oleh: F. Armen

Wacana panen padi 2 kali setahun di Talu-Sinuruik sebetulnya sudah pernah dicoba mulai tahun 70an. Bahkan petani dipaksa dibawah todongan senjata laras panjang tentara Komando Distrik. Sekarang justru diformalkan dalam sebuah Plakat Sawah. Tapi dalam pelaksanaannya justru tetap saja tidak seperti yang  diharapkan. Why??? Apakah masyarakatnya yang salah atau tidak  aware dengan Plakat ini atau bahkan mungkin instrumen kebijakannya sendirilah yang salah. Tulisan ini semata-mata dimaksudkan untuk memberikan evaluasi dan kajian rasional yang lebih jernih dan logis tanpa tendensi untuk mencari-cari kelemahan, apalagi membatalkan Plakat Sawah itu sendiri.

Dalam kerangka pikir sederhana, bila sebidang sawah menghasilkan XXX kombuik padi sekali panen, maka bila panennya 2 kali maka akan menghasilkan 2XXX kombuik padi. Bila diasumsikan masyarakat bersangkutan mendapatkan penghasilan hanya dari sawah, maka income-nya akan meningkat  100% (2 kali lipat) dibandingkan kalau hanya dikerjakan sekali setahun.   Konon katanya pemikiran inilah yang mendasari munculnya semacam kesepakatan resmi yang disebut sebagai Plakat Sawah tersebut. Plakat ini disepakati lalu disetujui dan diamini oleh semua perangkat adat maupun perangkat pemerintahan. Logika pikir semacam ini mungkin benar kalau kita menaruh asumsi semua sawah di Talu semuanya homogen.

(lebih…)