Selamat Jalan… “Konco Arek Lawan Kareh”

wajahbaruSelamat Jalan “bapak, Teman , Konco arek lawan kareh” Soesmely Saun.
Innalilahi wa innailaihi rojiun, Semoga syurga disana jauh lebih indah dari syurga yang kita ciptakan dulu di Talu,
Pak Soes … Kepala SMPPn/SMU/SMA Pertama Talu, Vespa itu keliatan miring …. karena memang vespa Spring yang ditongkrongi pak Soes sepintas miring dijalan Aie Angek, Talu. Karena tahun 70-an di Talu satu satu nya vespa hanya milik Pak Soes….. kadang pak Soes …kendarai suzuki cup 70 cc plat merah …ya itulah baru penghargaan dari pemerintah untuk Pak Soes jaman itu …dan itupun sudah bekas pula …
Ku katakan teman …memang teman … kala uang sekolah yang Rp 500 rupiah perbulan tak sanggup bayar …karena jatah untuk uang sekolah terlanjur bayar utang ke kantin pak Pian … … terpaksa lah ‘nanduk’ Pak Soes ….. apa boleh buat …

Kukatakan Konco arek …ya iya lah … kami berdua dengan Derwan …ngetok pintu pak Soes jam 01 malam …. ketika pak soes buka pintu ” hey ..ada apa dengan kalian ” dengan enteng kami jawab … litak paruik pak minta makan …trus ..numpang lalok sakalian …

“Lawan kareh” …. terbetiklah Tim Sepakbolah SMPP Talu harus bertanding di Lubuk sikaping dalam rangka Suratin Cup .. ( piala jaman itu tingkat SMA ) … sebelum berangkat harus latihan dulu ” saat latihan … “Ncieeee … ang tagak balawanan wak yo … kecek pak Soes… lalu disahut … ” iko ndak tantu kapalo sakolah ambo kilik beko mah jan manyasa yo …” rupanya saat pertandingan memang pak soes harus “tajalopak di lapangan” …
Begitulah hubungan kami antara murid dengan Kepala sekolah.

Setelah tamat SMPP .. kami sekolah di Bandung ( oleh perush ) ..dan beliua rupanya jadi Kepsek SMA 4 Padang .. dan kebetulah ketemu di angkot ( Pak Soes, Pak Syaf ( guru olaraga) dan kami bercanda … ” dimaaa waang kini ..ambo jawab ..”di kepulauan riau pak ..kebetulan jadi pimpinan cabang ketek disitu” >>> lalu pak Syaf menimpali … “Nampak e ..nan nakal nakal dulu jadi yo … ” Trus pak Soes bilang …” iyo baitu ..kini cabang ketek bisuek cabang gadang …” …. itulah kisah kisah Kepsek, Guru , dan murid …terakhir kami sempat komunikasi saat Reunian SMPP talu nan berdomisili di Jkt … itupun via phone …

Terima kasih Kawan … Selamat Jalan …Syurga disana lebih indah dari pada sorga kita dulu.

Oleh : Apriman Monti Malano

[Sumber : Komentar Apriman Monti Malano di jejaring Facebook]

Tetesan Darah Kakakku, Jadi Saksi Jatuhnya Bom Belanda Di Talu

Oleh: Mardinal Marahudin

Usianya sekarang sudah menginjak 86 tahun, namun Subhanallah ia masih diberkahi oleh Allah Subhanawataala kesehatan dan jalan pikiran yang jernih, masih jauh dari pikun, seperti banyak lansia yang umurnya jauh lebih muda dari beliau. Malah pada Hari Raya Idul Adha 2010 yang lalu, beliau masih sempat melancong ke Jakarta untuk menemui kami adik-adik, anak-anak, cucu dan cicit nya… Sungguh merupakan suatu kebahagiaan yang tak dapat di nilai dengan apapun, bagi keluarga besar kami, adik-adik, anak, cucu dan cicitnya di Jakarta, dapat berkumpul, bercanda serta bermanja dengan beliau.

Syukur Alhamdulillah selain masih sehat secara fisik, Allah juga masih memberikan ingatan yang masih kuat dan jalan pikiran yang masih terang. Canda dan senda guraunya masih tetap seperti yang dulu dulu, malah beliau masih fasih membaca ayat suci Alqur’an setiap habis sholat. “Dialah Kakak yang kami sayangi,….Uni Rosmanidar Miter”…yang sehari-harinya berdomisili di kota ecil tempat kelahiran ku, yaitu Talu…

Suatu ketika, …tat kala aku sedang bersimpuh didekat kakinya, …pikiran Ku melayang jauh ke belakang sekitar 60 tahun yang lalu. Dimana ,….pada saat peristiwa jatuh nya bom tentara Belanda di negeri Talu,….karena mereka ingin untuk menjajah Indonesia kembali. Masih jernih dalam ingatan ku hari kejadian tersebut, tiba-tiba langit diatas negeri Talu yang merupakan kancah tersebut, bergemuruh, dideru oleh 3 buah pesawat mustang tentara Belanda. Seluruh penduduk negeri berhamburan keluar rumah, kucar kacir lari terbirit birit mencari tempat perlindungan.

Aku,…dan kakak-ku tersebut berikut saudara lainnya, bergabung bersama tetangga dan bersembunyi dibawah kolong sebuah rumah yang tempatnya sedikit layak untuk tempat berlindung, yaitu rumah uni Sehan Rajab. Kamipun bertumpuk dan saling berhimpitan sembari tak putus putus nya menyebut nama Tuhan….

”Boommmm !!!  Doorrr..!    Doeerrr ….!!”

Tiba tiba terdengar suara tembakan yang dahsyat diiringi suara senapan mesin yang dimuntahan secara membabi buta. Tak akan pernah bisa ku lupakan bagaimana takutnya perasaanku pada waktu itu, ….di alam pikiranku yang baru ber umur 5 tahun,… Perasaan ku pada waktu itu,”… inilah yang dinamakan dunia kiamat..!”

Dalam keadaan suasana panik dan berdesak-desakan tersebut, tiba tiba kakak perempuanku tersebut berteriak, “..Ya Allah ba’a kaki awak ko…??!!,” sambil beliau merintih kesakitan minta tolong, apa lagi beliau dalam keadaan hamil tua….
Kami yang lain pun berteriak histeris, tat kala melihat tumit kaki beliau yang hampir putus, hanya di tahan oleh kulit saja serta darah berceceran kemana-mana. Kepanikan kamipun bertambah, karena melihat masih ada 2 orang lagi yang kena tembak peluru dibahagian kaki dan pahanya, yaitu anak Kepala Polisi serta Ibu Anyer, isteri seorang Polisi…

Untunglah Pesawat tempur Belanda tersebut kemudian pergi menghilang di balik bukit, dengan meninggalkan korban beberapa orang, serta rumah-rumah yang hancur lebur. Setelah keadaan dinyatakan aman oleh Polisi, maka semua penduduk Talu pun mulai keluar dari tempat perlindungannya.  Tak lama kemudian.., petugas kesehatan pun datang, lalu kami diamankan ke Solok, sebuah kampung kecil terletak di pinggir nagari Talu. Kakak Perempuan ku beserta korban lainnya dirawat di sebuah surau kecil, yang letaknya tida jauh dari jalan kampung… Di Surau kecil itulah kami tinggal sementara waktu bersama ibu dan kakak perempuan lainnya, untuk merawat kakakku serta aku sendiri yang masih kecil. Sedangkan Ibunda kami, pagi-pagi sudah pergi keluar-masuk kampung membawa barang apa saja yang dapat di tukar dengan beras. Tiada lagi yang lebih berharga pada waktu itu,…selain beras… Pada waktu itulah aku merasakan .., bagaimana laparnya perut, karena makan hanya satu kali se hari, paling pengganjal yang lain hanyalah singkong rebus yang dimakan dengan garam saja.

Dan ditempat pengungsian itu pulalah kakak ku tersebut melahirkan seorang anak perempuan bernama Lisda, yang sekarang sudah pensiun dari Kepala SD Negeri 2 Talu. Dan sekarang, Lisda pulalah yang menjaga dan merawat ibunya (kakak kami) dikampung halaman, Talu.

Sejenak saya terpana,………….dan sadar dari lamunan,…. Rupanya saya masih bersimpuh didekat kaki kakak ku tersebut. Dengan mata yang berkaca kaca saya paksakan sedikit bercanda sambil meraba kaki beliau dan bertanya, “..Ni, mana kaki uni yang tertembak waktu bom jatuh di Talu dulu..?,”. Beliau pun tertawa lirih.., “Wah,… ternyata kamu masih ingat ya Nang, peristiwa tersebut ? Pada hal kamu masih berumur 5 tahun pada waktu kejadian tersebut”, selorohnya.
Allah huakbar,…..luar biasa ingatan Uni-ku yang sudah berumur 86 tahun ini…
”Iya lah Ni.., tak mungkin akan terlupakan ..,” suara ku terhenti… Sembari merangkul beliau,…ku cium pipinya, akhir nya mata yang berkaca-kaca tadi berubah menjadi tetesan yang bergulir perlahan membasahi pipiku, sambil aku berucap, “Tak disangka ya Ni.., begitu cepatnya waktu berlalu. Tak terasa sudah 60 tahun saja kejadian tersebut berlalu… Dan sekarang kita semua masih sempat berkumpul dan Uni,…masih sehat wal’afiat. Sungguh kimat pemberian Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam hati Aku bergumam,….”Bagiku Uni adalah pahlawan kami,…..Mungkin juga bagi Nusa dan Bangsa. Doa kami adik-adik, anak-cucu dan cicit selalu mengiringimu kakak-ku… Sayang………………………….”

BADONGKUN DI LABUAH TOGAK

Oleh: Babe Derwan

SEHABIS lohor tadi,  Talu- Sinuruik diguyur  hujan. Lumayan lobek, hingga bebukitan yang mengelilingi Talu – Sinuruik ndok nampak lai karano ditutuik hujan. Manjalang asyar baru toduah. Malah cuaca baganti cerah. Jalan yang tadinya basah, sudah kering. Kabuik putih yang tadi menyelimuti bebubikitan mulai tersibak. Gunuang Talamau pun sudah  nampak barosiah, klimis menghijau, seolah baru habis mandi.

Apalagi dari Jalan Talao, Gunuang Talamau itu tampak cenceng. Seolah ingin memeluk Buyuang Bulek nan duduak termanggu di topi jalan Talao ru. Buyuang Bulek maraso masa lalunya — sakitar 30 tahunan silam — bagai tapampang kembali di wajah Gunuang Talamau nan mahijau itu.

“Bulek”, begitu sajalah sebut namanya. Sabotua e bukan namo e, tapi gola nan diagiahan konco-konco dulu wakatu ketek di kampuang.Si Buyuang sabona e manolak gola tu, tapi ba’a lai kawan totap sajo maimbau e Bulek. Sahabis sholat Ashar tadi, Bulek merasa jenuh di rumah. Jenuh mungkin karena masih ramai dengan tamu walau lebaran sudah tiga hari berlalu.

Ia lantas ke luar rumah. Entah apa yang menyeret langkahnya — entah kerinduan masa lalunya — hingga Bulek sampai di Jalan Talao ini.

Jalan Talao ini memang banyak merwanai kehidupan Bulek.Mulai dari kecil sampai ia menamatkan sekolah menengah, lalu merantau ke Jawa untuk menyambung pendidikannya ke perguruan tinggi. Di jalan ini dulu orang tuanya bersawah. Dan Bulek yang masih  SD sudah diajarkan oleh ayahnya bagaimana caranya melayau, mancangkua, manconcang jo malunyah, manyomai boniah , bertanam padi hinga manuai jo manyabik. Saat manyabik jo mairiak, adalah saat menyenangkan bagi bulek. Karena biasonya, hari Minggu, banyak urang nan datang menolong menyabik jo mairiak.  Bulek gembira karena suasana jadi ramai. Paginya Ibu si Bulek  mengantar sarapan pagi berupa sipuluik baluwo, atau ndak bubua hijau daun pandan bakuah gulo onau. Nanti habis sholat lohor ibunya mengantar makan siang pula dengan lauk yang mambuek salero Bulek bakacipak ; kangkadang pongek lauak gariang jo lobak sawi paik, kalau ndak samba asam limbek.

Kalau musim mamangkua jo malunyah, Bulek acok mamopeh baluik (belut) di pematang sawah. Alun dapek satanjua, Bulek alun kapulang lai. Kalau ndak mamopeh, Bulek manangguak anak puyu (ikan betok) di lubang-lubang bekas injakkan kaki. Sorenya Bulek mancari anak koncek untuak umpan manahan tauik rutiang (ikan gabus) di bonda topi Jalan Talao tu, sampai ka topi batang aia. Paliang sobuak lai 10 tauik nan ditahan Bulek. Pagi, baru tauik diangkek e dek Bulek. Dari 10 tauik, minimal 3 tauik lai mangonai. Kangkadang ndok rutiang jo nan makan tauik Bulek, tapi juga ula aia (ular air). Pernah sekali, indak tangguang godang hati si Bulek do; Ba’a kok, indak pulo, tauik Bulek mangonai rutiang — lai sagodang botih.  Saking godang e ampia saminggu, alun jo abih di samba e dek ibu si Bulek lai. Mulai dari nan bagoreng, bapongek, sampai basamba asam. Saminggu itu iyo sabana pueh Bulek makan rutiang.

Tapi kini dicoliak Bulek, bonda topi jalan tu lah kociak. Mungkin akibat dek lah banyak urang mambangun rumah di kida-kanan jalan itu, yang dulu sawah. Jalan Talao kini memang lah rami. Dulu agak longang, rumah masih ciek-ciek. Satahu Bulek mulai dari jambatan, nan lai cuma rumah Niniak Padek (uwan e dek Syahrul, Kepsek SMA Talu kinin). Kini, salain lah banyak rumah, lai lo kantua PLN di situ.

Dahulu jalan e locah bagadicak. Kalo hari pokan Raba’a, paja-paja gadih Talao, Kampuang Kandih, Kampuang Pisang,  nak ka Pasa Talu, walaupun lah badandan menor, babodak toba jo gincu sirah nan bacalepong, tapaso meneteng tarompa. Kalo ndak tapak tarompa e toba dek tanah. Lah sampai dokek rumah Tek Newar, baru mereka manumpang mambasuah tarompa di belakang rumah.

Itu dulu. Kinin jalan Talao — nan dulu acok jo disabuik urang Labuah Togak — lah mulus ba aspal. Honda jo oto lah banyak hilia mudiak. Dulu urang tapaso bajalan kaki pulang poi ka Pasa, kini lah banyak ojek honda jo oto manambang nan kaditumpangi.

***

BUYUNG BULEK lalu bangkik dari ketermanguannya di topi Jalan Talao itu. Sambil pulang, Bulek lalu berjalan perlahan ke arah Jembatan Batang Aia. Sampai di jembatan itu, Bulek menghentikan langkahnya, sembari bersandar di pagar jembatan.

Kenangan masa lalu Bulek semakin dalam. Di jembatan ini Bulek dulu sering menunggu si Upik.  Cewek yang sebelumnya sering digodanya bila berpapasan atau kebetulan basobok dengan Bulek di Jalan Talao ini. Si Upik waktu itu masih kelas 3 SMP, sedangkan Bulek sudah kelas 3 pula di SMPP di Taluak Ambun. Upik memang tinggal di Talao.

Semantara Bulek acok bamain di Labuah Togak. Jadi jan heran kalo mereka acok basuo. Satiok basuo, Bulek akan selalu menggoda. Kankadang Bulek dek lah tau jam bora si Upik pulang sekolah, Bulek sangajo bamain ka jalan Talao sambia manunggu si Upik.

Upik memang bukan gadis yang pertamo mengisi relung hatinya. Tapi bagi Bulek, Upik mempunyai nilai tersendiri dibanding dengan pacar-pacarnya yang terdahulu. Ba’a kok indok; Upik, selain imut, memang gadih rancak. Wajah putiah tacelak. Hiduang bangir setengah mancuang, rambuik hitam luruh satangah bahu.Kalo mengecek, suaro halus manjo.Upik gadis imut memang membuat Bulek botua-botua konai hati. Sahari jo ndo basuo jo Upik, Bulek poniang-poniang lalek.

Tapi bukan si Bulek namo e kalo ndak berhasil menggoda si Upik. Suatu hari, Upik ndak manolak ketika ditawarkan Bulek untuk mengantarnya pulang sampai ka ujuang Jalan Talao itu. “Yesss…!!”, teriak hati Bulek girang saat Upik menggangguk malu menyambut tawaranya itu.

Di sepanjang jalan yang becek bagadicak itu, cuma Bulek yang banyak membuka pembicaraan. Upik cuma sekali-sekali meningkahinya. Kalau Bulek menggoda dengan canda dan senda guraunya, Upik pun sesekali tersenyum. Dan bila begitu, hati Bulek semakin ngilu melihat senyuman yang manis  dibibir tipis itu. Dan, tanpa terasa ujung jalan Labuah Togak sudah di depan mata Bulek. Ia  merasa menyesal ; “kenapa jalan yang lumayan jauh ini tarasa begitu dakek,” bisik Bulek dalam hati.

“Tarimo kasi yo, Da. Cukuik sampai di siko,” kecek si Upik mengingatkan Bulek sesampai di ujung jalan itu.”Rumah lah dokek nyo,” lanjut Upik.

“Ooo… iyo,” Bulek tasintak dari lamunannya. ” Bilo Uda buliah ma anta sampai karumah?” lanjut Bulek sambia manggoda.

“Nanti-nanti lah, Da,” balas Upik sambil pamitan dan mampacopek langkahnya. Bagi Bulek jawaban itu bukannya tak berarti apa-apa, melainkan adalah sebuah harapan. Bulek lantas membalas dengan lambaian tangan, sambil melempar senyum godaanya.

***

Hari itu hati Bulek betul-betul berbunga-bunga. Bagaimana tidak, usahanya untuk mendekati Upik sudah mulai menampakkan hasil. Bulek, tak cuma hari itu mengantar Upik pulang sekolah. Tapi besoknya lagi, besok,  dan besok lagi Bulek masih terus mengantar Upik pulang di atas jalan yang becek itu. Dan untuk menunaikan tugasnya itu Bulek rela membolos pada jam-jam pelajarannya yang terakhir. Kemudian ia basicopek ka jambatan Talao untuk manunggu Upik.

Walaupun Bulek lah acok ma anta Upik pulang, dan sebagian kolega Bulek lah manganggap pulo mereka pacaran, namun Bulek belum puas kalau belum mengungkapkan lansung isi hatinya pada Upik. Istilah anak sekarang Bulek belum juga nembak Upik. Bulek bukan ndok berani menembak Upik, tapi Bulek belum mendapatkan waktu yang lebih topek. Ia ndok mau buru-buru. Bulek nampaknya memang lah bapangalaman. Ia menunggu pendekatannya pada Upik lebih matang dulu, baru melepaskan tembakkan.

Kesabaran Bulek memang ndok sio-sio. Suatu hari, karena latihan pramuka di sekolahnya, Upik pulang agak ke sore an. Hal ini sudah diketahui Bulek karena waktu mengantar pulang kemarennya sudah diberitahu Upik. Maka, sore itu — menjelang sanjo — Bulek lah manunggu Upik di jambatan Talao. Ia merasa sekarang lah saatnya untuk menembak Upik.

“Lah lamo, Da?” tibo-tibo Upik sambia senyum membangunkan lamunan Bulek yang sedang menuyusun kata-kata untuk menyampaikan isi hatinya nanti.

“Oh, alun lamo lai, Pik,” jawab Bulek sambia tasontak.

Sementara sanjo lah samakin laruik. Jalan Talao sudah semakin longang. Yang tadonga cuma bunyi keceuik kincia aia Pak Datuak Syisal jo kincia Pak Datuak Saibul. Irama kecuik kaduo kincia tu bagai konser musik yang membuat suasana hati Bulek semakin romantis.

Bulek seolah ndak mau membuang waktu, langsung saja mengutarakan isi hatinya bahwa ia menyukai dan menyayangi gadis imut itu. “Pik, Uda cinto sama Upik…” ujar Bulek pelan setengah malu sembari mendekatinya.”Upik ba’a?” lanjut Bulek balik bertanya.

Upik menunduk tersipu. Wajahnya yang putih merah merona  karena telah ditembak Bulek. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Bulek pun semakin berani medekatinya. Bahkan, “Ba’a Pik, apokah Upik marasokan hal yang samo?” desak Bulek sambil meraih kedua tangan Upik.

Upik semakin tertunduk malu. Tapi ia tidak melepaskan genggaman tangan Bulek. Dan juga tidak menggelengkan kepala. Setelah Bulek mendesaknya dengan tatapan, barulah Upik mengangkat kepalanya untuk kemudian mengangguk memberikan kepastian.

Isarat Upik itu kontan membuat Bulek menarik nafas lega. Ia betul-betul merasa bahagia. Saking bahagianya, ia tak sungkan-sungkan mendaratkan ciuman dipipi manis Upik. Wajah Upik semakin merona. Tapi juga tak menolak. “Malu ah.. nanti ada yang liek,” cuma itu yang diucapkan Upik.”Ayo Da, nanti kemalaman,” lanjut Upik minta pulang.

Dan, sanjo itu benar-benar sanjo yang romantis bagi mereka berdua. Bila Upik sedikit meloncat menghidari jalan yang becek, Bulek sudah tak segan-segan memegang tangannya. Lama baru mereka lepaskan. Dan senja itu pun Bulek tak hanya mengantar sampai ujung jalan, melainkan sudah sampai ke rumah Upik. Alhamdulillah… kedua orang tua Upik pun menyambut baik kehadiran Bulek. Itu mungkin karena orang tua Upik cukup mengenal siapa ayah Bulek.

Pulang mengantar Upik, sanjo lah baganti malam. Walau sudah mulai gelap, hati Bulek merasa cerah.  Walaupun jalalan locah, tapi bagi Bulek serasa sudah mulus. Ba’a katido, ternyata Upik tak cuma menolak cinta Bulek, tapi ia juga  rela pipinya diperawani oleh Bulek dengan ciuman. Istilah pareman Talu waktu itu, Bulek lah badongkun jo Upik.(badongkun = bermesraan istilah anak muda Talu tahun 70an).

Ha… ha…ha… Betapa puasnya hati Bulek.
***
IBARAT bunga, cinto Bulek dan Upik sedang berkembang. Merekah dan mewangi. Dan ibarat pasangan pengantin baru, masih dalam suasana bulan madu.Tapi, dalam keadaan seperti itu mereka mendadak harus berpisah.

Bulek telah lulus dari SMPP Taluak Ambun. Dan demi massa depannya ia harus berangkat ke Jakarta, melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Sementara Upik yang juga lulus dari SMP tetap dikampuang, melanjutkan ke sekolah yang baru saja jadi almamater bagi Bulek.

Hari itu hari Akaik (Minggu). Potang baru sajo meluncur menggantikan sanjo. Sudah hampir 30 menit, Bulek dan Upik  bersandar di pagar jembatan Talao itu. Hari itu adalah hari terakhir mereka bertemu. Boleh jadi hari perpisahan mereka. Sudah banyak yang dibicarakan Bulek, tentang rencana kepergiannya yang tiba-tiba. Ia segera berangkat karena harus cepat mengurus kuliahnya. Kalau terlambat mendaftar, ia akan ketinggalan. Dan Bulek tak lupa berjanji bahwa dia tak akan memutus hubungannya dengan Upik, walau sudah tinggal di Jakarta nanti. Ia akan selalu menyurati Upik. Sedangkan Upik yang juga diminta Bulek berjanji hal yang sama, cuma bisa menganggukan kepala. Anggukkan itu sudah lebih dari cukup bagi Bulek sebagai isarat bahwa pacarnya itu akan setia.

Upik memang lebih banyak diam. Cuma sekali-kali mengangguk. Entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya.Antah sodiah atau tidak, Bulek pun tidak tahu. Dan Bulek sendiri juga sudah kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu kata-kata yang manis apa lagi yang mesti diungkapkannya. Kecuali memperlihatkan muka sedih seolah-olah berat meninggalkan gadis imut yang baru dipacarinya itu. Bulek dan Upik lalu sama-sama membisu. Yang kedengaran hanya irama konser– kecuik kincia aia Pak Syisal jo Pak Saibul — yang seolah menyenandungkan simponi hati Bulek dan Upik.

Bulek lalu menghampiri Upik yang lebih banyak tertunduk. Ia ambil dari saku bajunya pena merek Parker pemberian kakaknya dari Jakarta. Pena itu pena mahal kesayangan Bulek, “Pik, ambiaklah pena ini  untuak menulih surek buat Uda nanti. Pena ini matanya berlapis emas 16 karat, dan lasuah sekali untuk menulih. Cuma iko yang bisa Uda agiahkan untuak kenang-kenangan,” kecek Bulek dengan nada setengah sendu.

“Tarimokasih, Da,” jawab Upik sambia mengambil pena itu. “Tapi Upik jo ndak punyo apo-apo sebagai kenangan-kenangan untuak Uda. Kalau Uda sudi tarimolah saputangan barendo go. Iko Upik sendiri nan marendo e,” kato Upik sambil menyodorkan  saputangan merah jingga yang pinggirnya memang barendo. Dari tadi, barangkali inilah kalimat yang piling panjang diucapkan Upik.

Untuk menyenangkan hati Upik, Bulek tak hanya sekedar mengambil saputangan itu, tapi juga menciumnya dan baru menyimpannya. Ia kemudian semakin merapat ke Upik.

“Pik, maaf ya Pik, boleh Uda maidu kening Upik…, sebagai kecupan perpisahan kita ?” ujar Bulek pelan sambil meraih tangan gadis itu dengan bug-bag-bug-bag di dadanya. Upik lalu tersipu malu. Seperti tak menolak, diangkatnya juga wajahnya yang tertunduk. Melihat sinyal lampu hijau, Bulek tak mau buang kesemapatan…,” cup… cup…” akhirnya bibir Bulek mendara tipis di koniang Upik. Namun, dasar Bulek;  dapek hati mintak jantuang , “koniang adalah kecupan perpisahan, kini kecupan untuk dikenang,” bisik hatinya. “Cup…, Cup…, “ kehangatan bibir tipis Upik pun takkan pernah ia lupakan. Dan, Upik pun pasrah. Ah… bilo lai…  Ini badongkon nan terakhir dengan Upik. Bisuak-bisuak ndo kadapek lai,begitu pikir Bulek. Apalagi waktu itu Jalan Talao lah longang pulo, karano malam lah mulai turun.

Sanjo itu betul-betul sanjo yang berkesan bagi Bulek dan Upik. Malam itu, malam terakhir pula Bulek mengantar si gadis imut pulang di atas jalan yang Becek, sambil sesekali memeluk bila Upik melompat menghindari jalan berlubang.

Dan sejak itu mereka sudah tak pernah ketemu lagi. Bulek dan Upik hanya sempat beberapa kali berkiriman surat. Setelah itu tak pernah lagi. Mungkin karena sibuk dengan diri mereka masing-masing. Tapi, juga tidak ada kata putus diantara mereka. Pendek kata, komunikasi diantara mereka hilang begitu saja. Sampai kini, 30 tahun lebih sudah berlalu. “Ah… Upik apo koba e kini?” bisik Bulek yang sejak dari tadi tersandar di pagar jembatan Talao itu, sembari berkelana ke masa lalunya.

***

SANJO lah mulai turun. Bulek baru saja menepis kenangan indahnya. Tapi ketika ia akan melangkah pulang, tiba-tiba sebuah Avanza warna hitam berhenti di hadapannya. Bulek cukup kaget. Tidak begitu jelas siapa di dalamnya. Apalagi kaca mobil itu agak gelap.

Belum hilang kekagetan Bulek, pintu kiri samping sopir mobil itu pelan terbuka. Seorang wanita turun sambil mengembangkan senyumnya pada Bulek. Walau mulai dari kepala sampai lehernya nyaris tertutup dibalut jilbab warna jingga, kecuali wajahnya yang putih berseri, namun wanita itu tampak modis. Lebih dari itu bajunya yang sewarna dengan jilbab sangat sepadan dengan bawahannya berupa celana hitam.

“Apo koba, Da?” sapo wanita itu lembut, masih dengan senyuman yang menyugging.
Ssrrrr… Darah Bulek serasa terbang mendengar sapaan itu. Ia masih hapal suara dan  senyuman dibibir yang tipis itu. Astaga! Upik! Teriaknya dalam hati.
“Eh… Upik! Alhamdulillah baik,” sahutnya agak gelagapan. “Upik apo kobanyo?” lanjutnya sambil menyalami wanita yang baru saja ditepis dari bayangan masa lalunya.

“Alhamdulillah baik juo, Da,” jawek Upik sambil manyambut tangan Bulek. Cukup lama mereka berjabat tangan, Bulek seolah enggan untuk melepasnya. Dan Upik pun membiarkannya.Tapi tibo-tibo Upik sadar dan melepas genggaman Bulek, karena di belakang stir mobil ada anak muda yang dari tadi memperhatikan mereka. Upik lalu memanggilnya dan mengenalkan pada Bulek, bahwa anak muda itu adalah putra sulungnya dari dua bersadara, dan  masih kuliah di Medan.

Dalam waktu yang singkat itu, tak banyak yang mereka bicarakan. Kecuali sedikit bertukar kabar tentang keadaan mereka selama ini. Upik mengatakan bahwa setamat SMU di Teluk Ambun, ia merantau ke Medan, hingga berkeluarga dan punya anak di sana. Upik sudah empat hari di Talu untuk berlebaran bersama sanak familinya. Dan saat itu ia baru saja pulang dari Simpang Empat untuk keperluan sesuatu.

Begitu pun Bulek, ia juga bercerita bahwa ia juga berkeluarga dan punya anak di Jakarta. Dan Bulek mengatakan bahwa kali ini belum mengajak istri dan anak-anaknya pulang kampung. Namun entah karena sungkan sebab putranya Upik masih berdiri disitu, mereka berdua jadi sama-sama tak ingin membahas kenapa komunikasi mereka dulu terputus.

“Talu lah banyak kemajuannya ya, Pik. Dulu jembatan ini cuma dari kayu dan balubang-lubang, kinin lah beton. Jalan e dulu tanah dan locah, kini lah aspal mulus. Dulu cando ko hari lah longang, tapi kini lah rami — lah banyak lo rumah dikida kanan jalan.” Bulek mencoba membangkitkan masa lalu mereka.

Masih seperti yang dulu. Upik cuma menjawab; ya… lalu tersipu dan menunduk. Seiring dengan itu, azan Maghrib berkumandang dari corong mik Mesjid Taqwa, Kampung Mandahiling.
“Lah Maghrib, Da,” Upik mengingatkan bahwa ia sudah harus mengakhiri pertemuan itu. “Kalo Uda masih lamo di kampuang singgalah bahari-rayo ka rumah. Upik masih saminggu lagi di siko,” lanjut Upik berbasa-basi.

“Tarimo kasih, Pik. Sayang bisuak pagi  Uda lah barangkek ka Padang. Duo hari kemudian langsuang baliak Jakarta,” jawab Bulek dengan sangat menyesal.

Ketika mereka kembali berjabat tangan, Bulek menyempatkan menanyakan tentang suami Upik. Pertanyaan yang sebetulnya dari tadi ingin ia sampaikan.
“Oh ya… kami lah lamo bacarai, Da,” jawab Upik singkat. Tapi Bulek menagkap ada nada ketir dari ucapan wanita yang pernah mengisi relung hatinya itu.

“Oh… maaf, Pik,” balas Bulek seperti menyesal dengan pertanyaannya. “Jadi kini..?”
Belum selesai Bulek melanjutkan kata-katanya, Upik seolah mengerti apa maksudnya langsung  saja menjawab; ” Iyo… Da. Lah hampia tiga tahun Upik manjando.”

Bulek sekali lagi minta maaf karena sudah membangkitkan masa lalunya yang berakhir perceraian dengan suaminya. Upik cuma menjawab dengan datar bahwa tidak apa-apa. Dan ia kembali pamit untuk melanjutkan perjalanannya pulang. Avanza hitam itu pun berlalu, meninggalkan Bulek yang masih bengong dengan jawaban Upik yang terakhir tadi. Kata-kata Upik itu cukup tegas. Tapi seolah memberi makna bagi Bulek.

“Lah tigo tahun Upik manjado,” Bulek mengulang lagi ucapan terakhir Upik itu.  Seandainya saja Bulek tidak memikirkan istri dan anak-anaknya yang belum sempat berlebaran dengannya di Jakarta,  ingin rasanya Bulek menunda keberangkatannya esok pagi, kemudian memenuhi undangan Upik ke rumahnya. Ingin rasanya Bulek untuk mendalami dan mengobati kegetiran yang dialami Upik.

Tapi,  ah tidak! Bulek menggeleng sendirian sembari menepis angan-angannya yang bukan-bukan. Lalu ia tendang kerikil bulat yang ada di depan kakinya, sambil meninggalkan jembatan dan Labuah Togak yang penuh kenangan itu.*** (Cerita ini hanyalah fiksi belaka.  Penulis mohon maaf, kalau ada yang merasa mengalami dan jika ada  tokoh yang  sama, itu hanyalah kebetulan belaka). Photo : Hanya Ilustrasi